Menu

Mode Gelap

Blog · 29 Nov 2025 16:32 WIB

Kisah Piyan Rahmadi: Anak Tukang Ojek yang Menembus Beasiswa LPDP hingga Mengawal Teknologi Nikel di Morowali


 Kisah Piyan Rahmadi: Anak Tukang Ojek yang Menembus Beasiswa LPDP hingga Mengawal Teknologi Nikel di Morowali Perbesar

PROLOGMEDIA – Piyan Rahmadi lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana di Bandung. Ayahnya bekerja sebagai tukang ojek, sedangkan sang ibu menghidupi sehari-hari dengan membuka warung kecil di rumah. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, Piyan tumbuh dengan beban kesadaran bahwa jalan keluar dari keterbatasan hanyalah lewat pendidikan. Ia paham bahwa untuk kuliah di perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) — apalagi bidang teknik — akan membutuhkan biaya yang jauh di luar jangkauan keluarganya.

 

Sejak SMA, Piyan sudah mantap menggantungkan harapan pada beasiswa. Ia berusaha menjaga nilai agar tetap tinggi, dan aktif mencari informasi lewat guru serta teman tentang peluang bantuan biaya pendidikan. Ketika seorang guru wali kelas menunjukkan jalur beasiswa, dan ia pun disarankan mencoba program seperti Bidikmisi, pintu menuju perguruan tinggi terbuka. Dengan kerja keras dan keberuntungan, Piyan lolos S1 Teknik Metalurgi di ITB.

 

Saat menulis skripsi, Piyan sudah tertarik dengan isu energi terbarukan. Ia mengangkat tema baterai lithium — bahan penting untuk mobil listrik — khususnya pada aspek nikel. Ketertarikan ini memantapkan visinya: ia ingin berkontribusi pada masa depan energi bersih.

 

Setelah lulus dari ITB, kesempatan baru datang dari program beasiswa kerja sama internasional LPDP–Central South University (CSU) di Tiongkok. Pada 2019, Piyan berangkat ke kota Changsha, Hunan, untuk menempuh studi magister Teknik Metalurgi. Proses adaptasi bukan tanpa tantangan — mulai dari bahasa, budaya, hingga makanan — karena lingkungan yang sangat berbeda. Namun hal itu tak meng diminimalkan semangatnya. Saat pandemi COVID-19 melanda, ia dan mahasiswa Indonesia dipulangkan dan terus melanjutkan studinya secara daring. Untuk tesisnya, Piyan meneliti tentang pelindian (leaching) nikel, khususnya kehilangan besi dan aluminium dalam proses — sebuah topik kompleks yang relevan dengan industri nikel.

 

Usai lulus, Piyan tak pulang begitu saja. Karena program LPDP–CSU memang ditujukan menghasilkan talenta unggul untuk industri strategis nasional, ia langsung direkrut oleh PT QMB New Energy Materials di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Awalnya ia bergabung dari posisi paling dasar — menjalani magang sambil menyelesaikan tesis, kemudian masuk ke unit “Thickener”, lanjut ke R&D, dan akhirnya kini duduk sebagai supervisor di bagian proses HPAL (High Pressure Acid Leaching). Proses HPAL ini merupakan teknologi canggih yang mengolah bijih nikel laterit kadar rendah menjadi bahan baku nikel sulfat untuk baterai.

 

Baca Juga:
Montessori dan Olahraga Dini: Membangun Anak Cerdas, Mandiri, dan Tangguh di Brilliant Preschool

Tiga tahun telah berlalu sejak ia bekerja di QMB. Dalam waktu itu ia tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tapi juga memimpin tim produksi dan membimbing operator lokal — mentor bagi para pekerja Indonesia agar ke depan mampu mengambil alih kendali proses dari tenaga asing. Ia sadar bahwa jumlah ahli metalurgi di Tanah Air masih sangat terbatas, padahal ambisi hilirisasi nikel Indonesia sangat besar. “Saya ingin karyawan Indonesia punya kompetensi yang cukup di bidang ini,” ujarnya dengan penuh tekad.

 

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia seperti itu juga sejalan dengan upaya perusahaan dan pemerintah dalam memperkuat industri nikel nasional. QMB sendiri adalah perusahaan hasil kerja sama internasional, dengan investasi besar, dan dirancang untuk mendukung pembangunan baterai kendaraan listrik — bagian dari transformasi energi menuju era rendah karbon.

 

Bagi Piyan, perjalanan dari kursi sekolah di Bandung, ke ruang kuliah di ITB, lalu ke kampus di Tiongkok, dan akhirnya ke lantai smelter di IMIP, adalah bukti bahwa mimpi — meskipun datang dari latar belakang sederhana — bisa terwujud dengan tekad, kerja keras, dan akses pendidikan. Ia mewakili harapan banyak anak muda dari keluarga kurang mampu yang ingin ‘naik kelas’ lewat pendidikan. Kini, lewat teknologi hidrometalurgi dan nikel, ia berkontribusi langsung pada industri masa depan: energi bersih, baterai mobil listrik, dan kemandirian bahan baku di Indonesia.

 

Di sela-sela pekerjaannya, Piyan bahkan bermimpi suatu hari melanjutkan studi ke jenjang S3 di bidang material lanjutan — dengan tujuan kembali ke kampus atau industri, dan mentransfer ilmu ke generasi muda. Ia ingin membagikan ilmu, membuka jalan bagi lebih banyak orang Indonesia untuk ikut membangun masa depan energi baru.

 

Kisah Piyan bukan sekadar kisah sukses individu. Dia menjadi simbol nyata dari potensi manusia yang terkunci di keterbatasan sosial ekonomi, yang mampu terbuka melalui akses pendidikan baik, beasiswa, dan kesempatan untuk bersinar. Ia menunjukkan bagaimana program seperti LPDP–CSU bisa menjadi jembatan antara mimpi, ilmu, dan kontribusi nyata — membangun industri nasional sekaligus membuka harapan baru bagi keluarga dan generasi berikutnya.

 

Baca Juga:
Ironi Pandeglang: Warga Ditandu 2 Km karena Jalan Rusak, DPRD Geram!

Semoga kisah seperti Piyan makin banyak terulang: lebih banyak anak dari keluarga sederhana memiliki akses pendidikan, berkarier di bidang strategis, dan ikut membangun bangsa lewat kerja nyata dan dedikasi.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog