PROLOGMEDIA – Dari lereng berkabut di kawasan Ijen, Bondowoso, kopi Arabika klasik kembali menemukan jalannya ke panggung dunia. Setelah sekian lama sempat redup, aroma harum dan reputasi kopi dari kawasan itu kini bangkit lewat tangan tegas dua entitas besar perkebunan: PTPN IV PalmCo dan PTPN I. Di bawah skema Kerja Sama Operasi (KSO), keduanya menggandeng satu visi — mengembalikan pamor kopi Ijen sebagai kopi premium internasional.
Semangat rehabilitasi kebun kopi itu dimulai sejak 2022. Mereka tak sekadar menanam kembali pohon kopi lama yang masih berumur tua, melainkan menyuntikkan energi baru dengan bibit unggul, praktik pertanian modern, dan prinsip keberlanjutan. Program tersebut, yang dikenal sebagai “replanting”, telah menyentuh lebih dari 1.300 hektare lahan hingga akhir 2025 — gambaran nyata dari komitmen terhadap kopi dan lingkungan.
Replanting dilakukan secara bertahap: sekitar 383 hektare pada 2022, dilanjutkan 251 hektare pada 2023, kemudian 407 hektare pada 2024, dan ditargetkan menambah sekitar 293 hektare pada 2025. Total lahan yang kini dikelola mencapai ribuan hektare, mewujudkan kembali lanskap kebun kopi yang dulu sempat berjaya.
Menariknya, meski kebun dipulihkan, produktivitas tidak menurun — bahkan menunjukkan tren peningkatan. Sepanjang 2025, tercatat bahwa kebun hasil KSO ini menghasilkan ribuan ton kopi: buah kopi (cerry) sekitar 5.534 ton, dan green bean (biji siap olah/ekspor) sekitar 893 ton. Produksi ini melampaui volume tahun sebelumnya.
Produktivitas per hektar pun terjaga: cerry mencapai sekitar 2.530 kilogram per hektare, sementara green bean berada di kisaran 409 kilogram per hektare — menunjukkan betapa manajemen budidaya modern dan bibit unggul mampu menjaga efisiensi lahan.
Baca Juga:
Misteri Tengkorak di Katedral Wina: Pengakuan Turis Setelah 60 Tahun
Dengan kondisi demikian, tidak aneh jika kopi dari kawasan Ijen kini kembali mengepakkan sayap ke pasar global. Cita rasa khas kopi Arabika Ijen — dengan keasaman seimbang, body ringan hingga sedang, dan aroma bunga yang halus — menjadi daya tarik bagi para pencinta kopi di Eropa, Amerika Utara, serta Asia Timur.
Tak hanya soal cita rasa. Pengelola kebun juga menyiapkan semua dokumentasi dan standar keberlanjutan yang makin menjadi persyaratan ekspor global. Sertifikasi standar pertanian lestari, sistem pelacakan asal kopi (traceability), serta praktik konservasi tanah dan air — semua dilakukan agar kopi tidak hanya enak di lidah, tetapi juga ramah lingkungan dan sesuai regulasi internasional.
Kelompok petani lokal dan masyarakat sekitar juga mendapatkan tempat dalam proses ini. Skema tanam ulang dan budidaya melibatkan warga, memberi mereka kesempatan pekerjaan, penghasilan, dan andil dalam membangkitkan kembali identitas “Republik Kopi” bagi kawasan Ijen. Keterlibatan masyarakat menjadi pondasi bahwa kebangkitan ini bukan semata urusan perusahaan, tapi kebangkitan komunitas.
Momentum ini pun mendapat sorotan nasional. Produksi dan ekspor kopi dari Ijen kini tidak hanya menjadi kabar baik bagi industri, tetapi juga lambang kebangkitan agrikultur Indonesia — bahwa warisan kopi tradisional bisa diselaraskan dengan tuntutan pasar modern dunia.
Dengan seluruh upaya itu, kopi Arabika dari Ijen tak sekadar siap “menyapa pasar global” — ia bersiap memikat palet dunia. Dari kebun yang diremajakan, dari petani yang mendapat harapan baru, hingga cangkir kopi bagi penikmat di luar negeri, tersusunlah narasi kebangkitan: kopi yang dulu sempat redup kini kembali menemui masa kejayaannya.
Baca Juga:
Polsek Panongan Kompak! Apel Pagi Rutin Tingkatkan Soliditas & Kesiapsiagaan!
Harapan besar ditaruh pada tahun-tahun mendatang. Apakah kopi Ijen bisa kembali menjadi nama besar di ranah specialty coffee dunia? Dengan fondasi produktivitas, keberlanjutan, dan komitmen jejaring petani hingga ekspor — jawabannya tampak memberi peluang kuat.









