JAKARTA – Laut Natuna Utara, sebuah wilayah perairan yang kaya akan sumber daya alam, khususnya perikanan, kembali menjadi sorotan. Sayangnya, sorotan kali ini bukan karena kabar baik mengenai potensi laut yang melimpah, melainkan karena aktivitas ilegal yang terus merugikan negara, yaitu pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, terutama dari Vietnam.
Aksi pencurian ikan atau illegal fishing di Laut Natuna Utara bukan merupakan cerita baru. Sudah bertahun-tahun lamanya kapal-kapal ikan asing (KIA) berbendera Vietnam secara terang-terangan memasuki wilayah perairan Indonesia dan mengambil ikan-ikan berharga tanpa izin. Ironisnya, praktik ilegal ini terus berulang meskipun berbagai upaya penegakan hukum telah dilakukan.
Mengapa Laut Natuna Utara begitu menarik bagi kapal-kapal ikan asing? Jawabannya terletak pada kekayaan sumber daya perikanan yang dimilikinya. Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Pung Nugroho Saksono, atau yang akrab disapa Ipunk, menjelaskan bahwa Laut Natuna Utara memiliki jenis ikan yang ekonomis dan penting, bahkan bisa dibilang “ikan-ikan mahal” dalam dunia perikanan. Jenis ikan seperti cumi, kakap merah, dan kerapu menjadi incaran utama para pencuri ikan ini.
Lebih lanjut, Ipunk menyebutkan bahwa perairan perbatasan Indonesia, termasuk Laut Natuna Utara, sangat “seksi” karena ikannya yang menggiurkan. Kondisi ini membuat kapal-kapal ikan asing, khususnya dari Vietnam, rela mengejar hingga ke wilayah perairan Indonesia.
Urusan Perut: Alasan di Balik Pencurian Ikan yang Tak Pernah Usai
Lantas, mengapa kapal-kapal ikan asing Vietnam seolah tidak pernah jera melakukan pencurian ikan di Laut Natuna Utara? Ipunk memberikan jawaban yang cukup sederhana, namun sangat relevan:
“Kenapa mereka (KIA Vietnam) enggak jera, ini urusannya perut mereka.”
Pernyataan ini menggambarkan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama di balik praktik illegal fishing ini. Para nelayan Vietnam tergiur dengan potensi keuntungan besar yang bisa didapatkan dari mencuri ikan di Laut Natuna Utara. Mereka rela mengambil risiko ditangkap dan dihukum demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.
Selain itu, ada faktor lain yang turut memengaruhi, yaitu kerusakan lingkungan laut di Vietnam akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Pung menyebutkan bahwa nelayan Vietnam menggunakan alat tangkap pearl trawl atau pukat dasar yang dioperasikan dengan cara ditarik oleh dua kapal berukuran 70 GT. Praktik ini sangat merusak terumbu karang yang merupakan tempat berkembang biak ikan dan biota laut lainnya.
Akibatnya, ikan-ikan di perairan Vietnam semakin berkurang, dan mereka terpaksa mencari sumber perikanan baru di wilayah perairan negara lain, termasuk Indonesia. Kondisi ekosistem laut Indonesia, khususnya di Natuna Utara, yang masih terjaga dengan baik membuat populasi ikan tangkapan perikanan masih berlimpah. Inilah yang semakin menarik minat kapal-kapal ikan asing untuk melakukan pencurian ikan di wilayah tersebut.
Kerugian Negara yang Fantastis Akibat Illegal Fishing
Praktik illegal fishing di Laut Natuna Utara tidak hanya merugikan negara dari segi sumber daya alam, tetapi juga dari segi ekonomi. Total valuasi potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan dari penangkapan kapal ikan asing yang mencuri ikan di Laut Natuna Utara selama periode Januari hingga November 2025 mencapai angka yang fantastis, yaitu Rp22,6 miliar.
Angka ini tentu saja sangat besar dan menunjukkan betapa seriusnya dampak illegal fishing terhadap perekonomian Indonesia. Jika praktik ini terus berlanjut tanpa adanya tindakan tegas, maka kerugian negara akan semakin besar dan sumber daya perikanan Indonesia akan semakin menipis.
Baca Juga:
Gerak Cepat KMP Jatra II Angkut 50 Ton Bantuan dan Alat Berat untuk Sumatera Pascabencana
Upaya Pemberantasan Illegal Fishing yang Terus Ditingkatkan
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terus berupaya untuk memberantas praktik illegal fishing di Laut Natuna Utara dan wilayah perairan Indonesia lainnya.
Selama periode Januari hingga November 2025, KKP telah berhasil mengamankan enam kapal ikan asing yang mencuri ikan di Laut Natuna Utara. Dari enam kapal tersebut, lima di antaranya berbendera Vietnam dan satu kapal berbendera Malaysia.
Meskipun jumlah penangkapan kapal ikan asing yang menangkap ikan ilegal di Laut Natuna Utara menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, PSDKP tetap serius dalam memberantas illegal fishing di perairan RI.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak akan pernah memberikan toleransi terhadap praktik ilegal yang merugikan negara dan masyarakat.
Dalam upaya pengawasan dan pemberantasan illegal fishing ini, KKP tidak bekerja sendiri. Mereka dibantu oleh aparat penegak hukum lainnya, seperti TNI AL, kepolisian, Bea Cukai, dan BIN. Sinergi antara berbagai instansi ini sangat penting untuk menciptakan efek jera bagi para pelaku illegal fishing.
“Dalam pengawasan dan pemberantasan ilegal fishing ini, KKP dibantu aparat penegak hukum lainnya, yakni TNI AL, kepolisian, Bea Cukai dan BIN sekalipun itu, kami selalu bertukar informasi dan siapa yang duluan bisa melakukan intercept,” kata Ipunk.
Dengan adanya kerja sama yang solid antara berbagai instansi, diharapkan praktik illegal fishing di Laut Natuna Utara dan wilayah perairan Indonesia lainnya dapat ditekan seminimal mungkin.
Pentingnya Menjaga Kedaulatan dan Kekayaan Laut Indonesia
Kasus pencurian ikan di Laut Natuna Utara menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kedaulatan dan kekayaan laut Indonesia. Laut bukan hanya sekadar sumber daya alam, tetapi juga merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa.
Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian laut Indonesia dari berbagai ancaman, termasuk illegal fishing, perusakan lingkungan, dan pencemaran laut. Dengan menjaga laut, kita juga menjaga masa depan bangsa dan generasi penerus.
Pemerintah perlu terus meningkatkan upaya pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik illegal fishing. Selain itu, perlu juga dilakukan upaya-upaya preventif, seperti meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian laut dan memberikan alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Masyarakat juga dapat berperan aktif dalam menjaga laut dengan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang terjadi di wilayah perairan Indonesia. Dengan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan laut yang lebih aman, lestari, dan sejahtera.
Baca Juga:
Cara Efektif Mengusir Semut pada Tanaman Cabai untuk Tingkatkan Produksi
Laut Natuna Utara adalah bagian dari kekayaan Indonesia yang tak ternilai harganya. Mari kita jaga bersama-sama agar kekayaan ini dapat terus dinikmati oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang.









