Menu

Mode Gelap

Berita · 14 Des 2025 11:45 WIB

Lonjakan Permintaan Babi di Kaltara, Peternak Kewalahan Jelang Nataru


 Lonjakan Permintaan Babi di Kaltara, Peternak Kewalahan Jelang Nataru Perbesar

PROLOGMEDIA – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, suasana di Kalimantan Utara berubah drastis. Tidak hanya terlihat dari gemerlap persiapan dekorasi di pusat-pusat kota dan gereja, tetapi juga dari dinamika ekonomi yang kian terasa kencang di pasar-pasar tradisional dan peternakan. Salah satu fenomena yang menarik perhatian masyarakat lokal adalah lonjakan permintaan terhadap babi, komoditas daging yang selama ini memiliki peran penting dalam tradisi dan budaya masyarakat setempat.

Di Kabupaten Malinau, jauh dari hiruk pikuk kota besar, para peternak babi merasakan dampak nyata dari meningkatnya permintaan tersebut. Sejak awal Desember, persediaan ternak di sejumlah peternakan mulai menipis, seiring dengan tingginya pesanan dari masyarakat yang ingin menyajikan hidangan istimewa di berbagai acara penting menjelang akhir tahun. Menurut pengamatan para peternak, peningkatan permintaan ini bukan semata-mata karena kebutuhan konsumsi harian, melainkan lebih kepada aspek prestise sosial dan budaya.

Seorang peternak berpengalaman yang telah menggeluti usaha ternak babi selama lebih dari dua dekade menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa di Malinau, terutama di daerah pedalaman, babi telah menjadi simbol kemewahan dan penghormatan dalam berbagai perayaan adat dan agama.

“Jika ada salah satu babi yang disajikan dalam sebuah acara, maka itu akan memberikan kesan bahwa acara tersebut istimewa dan penuh kehormatan,” ujarnya. Bahkan, menurutnya, satu ekor babi yang beratnya sekitar 30 kilogram bisa menjadi daya tarik utama dalam pesta pernikahan, acara syukuran, atau kegiatan adat lainnya.

Fenomena ini seolah menunjukkan pergeseran nilai dalam cara masyarakat merayakan momen-momen penting. Di luar kebutuhan pokok seperti ayam atau sayur mayur, daging babi menjadi barang yang diperebutkan menjelang periode perayaan besar, karena masyarakat percaya bahwa keberadaannya akan menambah kemewahan dan kebahagiaan di tengah keluarga dan tamu yang diundang. Hal ini berbeda dengan beberapa komoditas lainnya yang justru terpengaruh naik turun harga karena dinamika pasokan, cuaca, dan permintaan pasar global.

Meskipun permintaan melonjak, harga daging babi di tingkat peternak dan pasar masih relatif stabil. Para peternak di Malinau sendiri memilih untuk tidak menaikkan harga secara drastis demi menjaga kepercayaan pelanggan. Di peternakan, harga babi hidup yang dijual secara borongan masih berada sekitar angka Rp100.000 per kilogram, sedangkan daging bersih dijual sekitar Rp130.000 per kilogram. Stabilnya harga ini dianggap penting, mengingat banyak keluarga yang sudah merencanakan pengeluaran besar menjelang Nataru dan tidak ingin terbebani oleh harga daging yang melonjak tajam. Namun, meskipun harga relatif stabil, stok babi yang tersedia di peternakan terbilang cepat habis.

Beberapa peternak lain juga mengalami pengalaman serupa. Di satu lokasi peternakan lain yang berada di sekitar wilayah Malinau Raya, stok ternak yang awal bulan masih mencapai puluhan ekor kini tinggal tinggal sedikit.

“Awal bulan masih ada sekitar 26 ekor, tapi sekarang tinggal 15 ekor, dan semuanya sudah banyak dipesan,” ujar salah seorang peternak lainnya. Ia juga menyebut sebagian besar pembeli berasal dari daerah sekitar Mentarang hingga Tanjung Lapang, bahkan termasuk komunitas keluarga yang akan menggelar pesta besar pada akhir Desember.

Baca Juga:
Sleman Jadi Penyumbang Pengangguran Terbesar di DIY, Tantangan dan Upaya Pemulihan Ekonomi

Yang tak kalah menarik adalah tingginya permintaan terhadap daging babi hutan, komoditas yang secara tradisional menjadi favorit di masyarakat Dayak setempat. Daging babi hutan memiliki tekstur dan rasa yang khas, sehingga sering dijadikan hidangan utama pada acara-acara adat dan perayaan besar. Namun, sejak pandemi COVID-19, populasi babi hutan di alam liar mengalami tekanan, membuat ketersediaannya semakin langka.

Akibatnya, harga daging babi hutan kini berada jauh di atas jenis babi ternak biasa, bahkan mencapai kisaran Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram apabila tersedia. Karena itu, begitu ada satu truk daging babi hutan yang datang ke pasar, stoknya selalu habis dalam tempo singkat, karena banyak pemesan yang mempersiapkan hidangan spesial akhir tahun.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu titik, tetapi dirasakan pula di wilayah lain. Di Kota Tarakan, misalnya, beberapa peternak babi menyatakan bahwa bulan Desember biasanya menjadi masa panen bagi mereka, karena banyak acara gereja, keluarga, dan komunitas yang memesan babi sebagai bagian dari menu utama. Permintaan sangat tinggi terutama untuk acara adat Toraja dan tradisi Natal, yang kerap dipadukan dalam rangkaian perayaan besar keluarga. Bahkan di beberapa kasus, pembelian dilakukan dalam bentuk borongan satu ekor utuh, dengan harga mencapai puluhan juta rupiah untuk babi yang berukuran besar.

Tetapi tidak semua daerah mengalami kelangkaan serupa. Di sebagian wilayah lain seperti Krayan, Kabupaten Nunukan, kondisi stok ternak babi masih relatif aman. Salah seorang peternak di sana menjelaskan bahwa sektor ternak babi di wilayahnya cukup stabil, dengan permintaan yang meningkat, tetapi pasokan tetap tertata karena usaha ternak yang sudah terorganisir dengan baik. Di sana, harga babi juga tetap berada di kisaran yang sama, sekitar Rp100.000 per kilogram, dengan pembelian borongan satu ekor besar yang bisa mencapai jutaan rupiah tergantung ukuran dan kualitasnya.

Sementara itu, di Kabupaten Bulungan, peternak mengaku bahwa harga babi cenderung stabil karena pasokan yang cukup melimpah dalam beberapa tahun terakhir. Kepada pewarta, salah seorang peternak mengatakan bahwa meskipun ada lonjakan permintaan menjelang Nataru, mereka masih mampu memenuhi kebutuhan pasar tanpa harus menaikkan harga secara signifikan. Di desa-desa, babi sering kali digunakan tidak hanya untuk konsumsi pribadi tetapi juga untuk kegiatan gotong royong masyarakat dan pesta panen, yang membuat distribusi babi tetap berjalan sepanjang akhir tahun.

Fenomena permintaan babi jelang Natal dan Tahun Baru ini sejalan dengan tren kebutuhan pangan lain di berbagai wilayah Indonesia. Misalnya, sejumlah pasar tradisional di daerah lain mencatat kenaikan harga komoditas tertentu seperti cabai, ayam, dan telur, yang juga dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun. Kenaikan harga cabai di beberapa kota bahkan mencapai angka yang membuat konsumen harus menyesuaikan pengeluaran mereka. Lonjakan permintaan untuk berbagai jenis bahan pangan ini menunjukkan bahwa menjelang masa libur panjang, tekanan terhadap rantai pasokan pangan semakin besar, dan konsumen cenderung mempersiapkan kebutuhan jauh-jauh hari.

Dengan meningkatnya permintaan, para pelaku usaha di sektor peternakan dan pasar tradisional menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan komoditas sekaligus menstabilkan harga agar tidak membebani daya beli masyarakat. Di tengah berbagai dinamika ini, aspek budaya tetap memainkan peran penting dalam menentukan pola konsumsi, terutama bagi komunitas yang menjadikan makanan sebagai bagian penting dari perayaan dan tradisi.

Baca Juga:
Malaysia Ikuti Jejak Indonesia, Aturan Baru Medsos Ubah Lanskap Digital Asia Tenggara

Permintaan babi menjelang Nataru bukan hanya sekadar soal kebutuhan pangan, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat merayakan kebersamaan, menghormati tamu, dan memperkokoh ikatan sosial lewat tradisi kuliner yang kaya makna.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita