PROLOGMEDIA – Belakangan ini, makin banyak orang yang mempertanyakan — apakah makanan yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa otomatis jadi berbahaya? Ternyata, tidak semua makanan harus langsung dibuang setelah tanggal pada kemasan terlewati. Ada beberapa jenis makanan yang, dalam kondisi tertentu, tetap aman untuk dikonsumsi meski “expired”. Berikut kisah menariknya, yang perlu kita kenali bersama.
Sebagian besar dari kita sudah terbiasa memeriksa tanggal kedaluwarsa sebelum memakai atau mengonsumsi produk makanan. Ini wajar — sebagai upaya untuk menjaga kesehatan. Tapi ternyata, tanggal kedaluwarsa sering dipahami sebagai “batas aman mutlak”, padahal maksudnya lebih pada “kualitas terbaik” suatu produk. Setelah lewat tanggal tersebut, kualitas — seperti rasa atau tekstur — bisa menurun. Namun itu tidak selalu berarti makanan menjadi berbahaya.
Ada beberapa jenis bahan makanan yang dikenal punya stabilitas sangat tinggi, sehingga mikroba atau bakteri sulit berkembang di dalamnya. Akibatnya, makanan-makanan ini bisa bertahan lama — bahkan puluhan tahun — asalkan cara penyimpanannya benar.
Berikut empat contoh makanan yang termasuk “awet” meski sudah lewat tanggal kedaluwarsa:
Madu
Madu terkenal sebagai bahan makanan yang hampir tidak pernah basi. Rahasianya ada pada kadar airnya yang amat rendah — tanpa air, mikroba sulit berkembang. Asalkan madu disimpan dalam botol tertutup rapat dan tidak terkena pemrosesan berlebih, madu bisa mempertahankan rasanya selama puluhan bahkan ratusan tahun. Artinya: meski tertulis “kedaluwarsa”, asalkan kemasannya baik dan madu tak menunjukkan tanda rusak, madu tetap bisa dikonsumsi.
Garam
Sebagai bahan alami, garam memiliki daya simpan nyaris tanpa batas — setidaknya kalau garam tersebut murni dan tidak mengandung tambahan seperti yodium atau zat antikempal. Karena garam telah lama digunakan sebagai bahan pengawet (untuk ikan asin, acar, camilan kering), kita bisa memahami kenapa garam bisa bertahan dalam waktu sangat lama. Garam beryodium memang memiliki masa simpan terbatas (sekitar 5–6 tahun) karena zat tambahan yang mempengaruhi sifat alaminya, tapi garam murni tetap sangat awet.
Baca Juga:
Pemanfaatan Air Tanah untuk Industri AMDK: Mekanisme Alamiah, Tantangan Pengelolaan, dan Pentingnya Transparansi
Kopi Instan
Proses pembuatannya membuat kopi instan berbeda dari produk basah — air yang terdapat pada kopi telah dikeringkan, sehingga kandungan kelembapannya jadi sangat rendah. Entah itu melalui metode pengeringan udara panas maupun pembekuan vakum, minimnya air menjadikan kopi instan kurang ideal bagi pertumbuhan mikroba. Dengan demikian, meskipun sudah melewati tanggal kedaluwarsa, kopi instan umumnya tetap aman dikonsumsi — asalkan wadahnya tertutup rapat dan tak ada tanda kerusakan.
Kecap Asin (Soy Sauce)
Kecap asin termasuk bumbu fermentasi dengan umur simpan luar biasa lama. Botol yang belum dibuka dan disimpan dengan benar bisa bertahan puluhan tahun. Tingginya kadar garam dalam kecap membantu menjaga keawetannya, sehingga risiko kerusakan minimal. Namun, penting diingat — ini berlaku bila kecap tidak mengandung bahan tambahan yang merusak stabilitasnya, dan kemasannya masih utuh. Jika semua kondisi itu terpenuhi, kecap asin bahkan setelah lewat tanggal kedaluwarsa bisa tetap digunakan.
Meskipun begitu, penting untuk bersikap bijak — “aman” di sini bukan berarti tanpa syarat. Sebelum mengonsumsi makanan yang sudah melewati tanggal “kedaluwarsa”, perhatikan dulu kondisi fisiknya: jangan sampai ada perubahan warna, bau aneh, jamur, atau kemasan yang menggembung. Kalau ada perubahan semacam itu, lebih baik dibuang.
Pengetahuan ini penting, terutama dalam konteks menekan limbah makanan. Di tengah tingginya kesadaran akan food waste, memahami bahwa tidak semua makanan “expired” harus dibuang bisa membantu kita menghemat, sekaligus berkontribusi lebih sedikit terhadap sampah makanan. Namun di sisi lain, pun penting untuk cermat agar kita tidak mengambil risiko kesehatan — karena ada juga makanan yang memang menjadi berbahaya setelah lewat masa simpan.
Karena notifikasi tanggal pada kemasan lebih sering mengarah pada penilaian kualitas daripada keamanan, sebagai konsumen kita perlu peka terhadap dua hal: kondisi fisik produk dan cara penyimpanannya. Produk dengan kadar air rendah, kemasan tertutup, dan disimpan dalam tempat sejuk serta kering punya peluang jauh lebih besar untuk tetap aman meski sudah lewat “expired”.
Baca Juga:
Negara Kecil Curaçao Cetak Sejarah Sebagai Peserta Terkecil di Piala Dunia 2026
Dengan pemahaman ini, kita bisa meminimalkan sampah makanan — tanpa mengorbankan kesehatan. Tapi tetap, bila ada keraguan sekecil apa pun: bau tak sedap, warna berubah, kemasan rusak — lebih aman buang saja. Prinsip “lebih baik aman daripada menyesal” patut dijunjung, agar konsumsi tetap sehat dan bijak.









