Menu

Mode Gelap

Berita · 22 Nov 2025 20:03 WIB

Mendikdasmen Soroti Nilai Matematika TKA 2025 yang Merosot, Tekankan Perlunya Perbaikan Pembelajaran


 Mendikdasmen Soroti Nilai Matematika TKA 2025 yang Merosot, Tekankan Perlunya Perbaikan Pembelajaran Perbesar

PROLOGMEDIA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan keprihatinannya atas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, khususnya dalam mata pelajaran matematika. Menurutnya, nilai matematika siswa SMA yang mengikuti TKA menunjukkan performa yang “jebol” dan jauh dari harapan. Pernyataan ini mencuat setelah pengumuman awal dari Kemendikdasmen yang mengindikasikan adanya tantangan serius dalam penguasaan numerasi siswa.

 

TKA sendiri merupakan ujian baru yang digelar mulai November 2025 untuk menggantikan sebagian peran Ujian Nasional (UN). Namun, berbeda dari UN sebelumnya, TKA dirancang bukan sebagai syarat kelulusan; melainkan sebagai alat asesmen tambahan yang lebih objektif untuk memetakan kemampuan akademik individu siswa.

 

Mu’ti menyampaikan bahwa rendahnya skor matematika dalam TKA tidak sepenuhnya mencerminkan kecerdasan siswa, melainkan merupakan pertanda bahwa metode pengajaran dan materi pendukung — seperti buku pelajaran — belum mampu mendorong siswa untuk terus mengeksplorasi matematika secara mendalam. Dalam pidatonya, dia menegaskan bahwa kesulitan siswa mungkin berasal dari cara kita mengajarkan matematika: kurangnya daya tarik, dan buku teks yang kurang menyenangkan atau interaktif.

 

Selain itu, Mendikdasmen menyoroti rendahnya literasi numerik di kalangan siswa, yang sejatinya menjadi bekal dasar untuk memahami sains dan teknologi. Mu’ti menyebut bahwa anggapan umum bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit bisa menjadi penghambat. untuk memperbaiki hal ini, pemerintah tengah mendorong pengembangan kurikulum STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dengan buku-buku sains yang lebih mudah, murah, dan menyenangkan untuk siswa.

 

Skor TKA juga dinilai sebagai indikator penting dalam evaluasi sistem pendidikan secara menyeluruh. Lebih dari sekadar ujian formal, TKA diharapkan menjadi cermin sejauh mana pembelajaran akademik di sekolah-sekolah berjalan efektif dan adil. Sebab, TKA memberikan data objektif yang bisa digunakan untuk menilai capaian belajar siswa dan mengidentifikasi kelemahan sistem pengajaran di berbagai daerah.

 

Tantangan ini bukan sekadar masalah nasional, tetapi juga menyangkut masa depan pendidikan Indonesia di era kompetisi global. Skor numerasi yang rendah berisiko memperlemah daya saing generasi muda, terutama ketika mereka menghadapi tuntutan pendidikan tinggi atau karier di bidang STEM. Kemendikdasmen pun melihat urgensi untuk memperbaiki pendekatan pembelajaran: tidak cukup hanya mengandalkan metode tradisional, tetapi perlu strategi yang lebih kreatif agar matematika tidak dipandang sebagai beban.

 

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latifulhayat, sebelumnya telah menegaskan bahwa TKA bukanlah pengganti ujian sekolah tradisional. Dalam penjelasannya, TKA lebih berfungsi sebagai alat pelengkap penilaian, yang membantu mengurangi manipulasi nilai rapor dan memberikan dasar objektif dalam seleksi prestasi. Dia menambahkan bahwa TKA berbasis komputer, dan hasilnya dapat dipakai untuk jalur prestasi, seperti seleksi masuk perguruan tinggi atau jalur penerimaan berprestasi di sekolah.

 

Struktur TKA untuk jenjang SMA mencakup tiga mata pelajaran wajib: Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, ditambah dua mata pilihan sesuai peminatan siswa. Semua ini tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025.

Baca Juga:
Kontroversi Soeharto Jadi Pahlawan, Munir Justru Terlupakan?

 

Di sisi lain, ada reaksi dari siswa yang menghadapi soal TKA. Beberapa mengeluhkan tingkat kesulitan terutama pada bagian matematika. Sebagai contoh, ada laporan bahwa beberapa siswa memilih melewati soal yang dianggap terlalu rumit karena keterbatasan waktu. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa format soal TKA bisa jadi belum sepenuhnya sejalan dengan kesiapan siswa, baik dari sisi konten maupun strategi pengerjaan.

 

Mendikdasmen menanggapi kritik semacam itu dengan serius. Mereka menyadari bahwa kebijakan TKA merupakan langkah besar dalam transformasi sistem penilaian nasional — dan transformasi besar tentu memerlukan waktu, evaluasi, dan koreksi. Oleh karena itu, pihak kementerian mendorong guru, sekolah, dan daerah untuk lebih intens membuat program pengayaan numerasi, workshop, dan materi pembelajaran yang lebih menarik agar siswa semakin siap menghadapi TKA.

 

Di tingkat kebijakan, Kemendikdasmen juga berencana untuk mengevaluasi hasil TKA secara rutin. Evaluasi ini mencakup analisis distribusi nilai, identifikasi kesenjangan antar wilayah, dan penyesuaian kebijakan pembelajaran agar lebih efektif dan inklusif. Dengan data TKA, kementerian berharap bisa memetakan prioritas intervensi di sekolah-sekolah yang punya performa rendah agar bantuan bisa lebih tepat sasaran.

 

Dalam jangka panjang, TKA diharapkan menjadi instrumen yang tidak hanya mengukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga menjadi pemacu perubahan dalam sistem pendidikan. Bila nilai matematika siswa tetap rendah, itu akan menjadi alarm bahwa reformasi kurikulum dan metode pengajaran harus terus dilanjutkan. Dan sebaliknya, jika perbaikan terjadi, TKA bisa menjadi bukti bahwa upaya pembaruan pendidikan memberi dampak nyata.

 

Namun, keberhasilan TKA tidak hanya bergantung pada pemerintah. Peran aktif guru, sekolah, dan komunitas pendidikan sangat krusial. Guru harus diberi pelatihan yang memadai untuk mengajarkan matematika secara kreatif dan relevan. Sekolah perlu menyediakan program remedial dan pengayaan untuk membantu siswa yang kesulitan. Orang tua juga bisa mendukung dari rumah dengan memberi dorongan agar anak lebih percaya diri dalam belajar matematika.

 

Publik pun diajak untuk memahami bahwa rendahnya nilai tidak selalu berarti kegagalan individu, tetapi bisa mencerminkan kelemahan sistem pendidikan nasional. Daripada menyalahkan siswa, penting untuk melihat masalah lebih besar: bagaimana sistem pendidikan membentuk mindset dan kebiasaan belajar, bagaimana materi ajar disusun, dan bagaimana evaluasi dijalankan.

 

Mendikdasmen menegaskan bahwa transformasi ini memerlukan kerja sama berbagai pihak. Dukungan terhadap kebijakan TKA harus diikuti dengan investasi dalam pelatihan guru, materi pembelajaran, dan infrastruktur pendidikan digital. Jika semua elemen ini berjalan sinergis, TKA bisa menjadi titik balik dalam membangun kualitas pendidikan Indonesia yang lebih kuat, adil, dan berdaya saing.

 

Baca Juga:
Sinergi Polres Serang & Ojol: Dari Keamanan Jalan Hingga Ekonomi Komunitas

Akhirnya, ungkapan keprihatinan dari Mendikdasmen atas “nilai matematika TKA yang jeblok” bukan sekadar pernyataan kritis — tetapi panggilan untuk bertindak. Ini adalah momen refleksi kolektif tentang bagaimana kita mendidik generasi muda agar tidak hanya lulus ujian, tetapi benar-benar menguasai kompetensi dasar yang menjadi pondasi masa depan. TKA, bila ditangani dengan serius dan disertai pemulihan sistemik, bisa menjadi salah satu alat paling efektif dalam meretas krisis numerasi dan memperkuat pendidikan Indonesia di era global.

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita