PROLOGMEDIA – Menjelajahi Pasar Jatinegara bukan sekadar aktivitas berbelanja barang kebutuhan atau pakaian, tetapi juga merupakan pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Terletak di kawasan Jakarta Timur, pasar yang telah eksis selama puluhan tahun ini menyimpan jejak sejarah dan cita rasa kuliner Jakarta yang autentik dan masih dijaga konsistensinya oleh para pedagang legendaris. Di balik lorong‑lorong sempit, deretan kios tua, dan suasana pasar yang terasa seperti labirin, tersembunyi aneka makanan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga setempat — bahkan sebelum segala tren kuliner kekinian bermunculan.
Berbagai kedai dan lapak yang ada di dalam dan sekitar pasar ini tidak hanya menjual makanan untuk mengisi perut, tetapi juga menyajikan kisah panjang tentang keuletan dan kecintaan terhadap cita rasa tradisional yang kaya. Hidangan Nusantara yang beragam, mulai dari bakmi klasik, gado‑gado Betawi khas, hingga camilan tradisional, semuanya hadir dengan karakter rasa yang kuat dan kenangan budaya yang tak ternilai harganya.
Perjalanan kuliner dimulai dari salah satu sudut pasar yang paling dikenal oleh para pecinta mie. Di antara deretan pakaian, buku, dan alat tulis, terdapat sebuah kedai yang tampak sederhana namun selalu ramai pengunjung. Ini adalah Bakmi Ayam Jackie, sebuah tempat makan yang beroperasi sejak pertengahan 1990‑an dan tak pernah sepi dari pengunjung yang penasaran dengan bakmi bergaya oriental yang ditawarkannya. Aroma bawang putih dan minyak ayam yang khas langsung menyambut sejak mangkuk pertama disajikan. Tekstur mie yang kenyal, berpadu dengan bumbu gurih yang tajam namun pas, membuat siapa pun yang mencicipi ingin kembali lagi untuk menambah porsi. Menu di sini tidak hanya bakmi ayam saja, tetapi juga bakmi pangsit, bakmi bakso, bakmi sui kiau, kwetiau ayam, dan bihun ayam yang semuanya ditawarkan dengan harga terjangkau dan dijamin halal.
Melangkah lebih jauh lagi ke dalam lorong pasar, pengunjung akan menemukan aroma yang berbeda — satu aroma yang mengingatkan pada jajanan tradisional yang sering dijumpai di pasar‑pasar Nusantara. Inilah Combro Bu Aminah, yang telah menjadi legenda di kawasan ini sejak era 1980‑an. Terletak di Gang Tai, combro buatan Bu Aminah berbeda dari combro pada umumnya: adonan singkongnya padat, isian oncomnya matang sempurna dengan bumbu yang kuat, dan jangan lupakan sensasi pedas cabai rawit yang kerap membuat para pelanggan ketagihan. Lokasi yang tersembunyi sama sekali tak menghalangi popularitasnya — bahkan sebaliknya, lokasi itu memberi kesan petualangan tersendiri sebelum berhasil menemukan kios kecil ini. Karena banyaknya peminat, kini pembeli sering kali memesan lebih dulu satu hari sebelumnya agar tidak kehabisan.
Baca Juga:
Manfaat Menaruh Spons di Dalam Lemari Es: Trik Sederhana untuk Menjaga Buah dan Sayuran Tetap Segar
Tepat di lorong sempit lain, ada sebuah warung yang namanya sering disebut peserta pencinta mie rumahan sejati: Bakmi Lorong Pasar Jatinegara. Sejak awal berdirinya pada tahun 1970‑an, warung ini mempertahankan formula bumbu dan cara masak bakminya secara turun‑temurun. Tidak ada fasilitas mewah atau interior Instagrammable di sini — yang ada hanyalah suasana sederhana, meja panjang berjejer di ruang sempit, dan semangkuk bakmi yang mengundang rasa penasaran. Kuah kaldu yang jernih namun kaya rasa, pangsit homemade, serta bahan pelengkap yang selalu segar menjadi alasan banyak pelanggan rela menunggu antrean panjang demi seporsi bakmi yang memuaskan. Meskipun harga bakmi mulai dari angka yang terjangkau, rasa yang ditawarkan jauh di atas ekspektasi warung biasa.
Tetapi Jatinegara tidak hanya menawarkan masakan berat saja. Di sebuah gang kecil lainnya berdiri sebuah kios gado‑gado klasik yang sudah berusia puluhan tahun: Gado‑gado Encim. Di tempat ini, gado‑gado bukan sekadar sayuran yang disiram bumbu kacang biasa — saus kacangnya dibuat dari campuran kacang mede dan kacang tanah yang digiling halus, sehingga menghasilkan tekstur dan rasa yang gurih dan lebih kompleks. Campuran bawang putih dan cabai yang diulek langsung ke dalam saus membuat setiap suapan memiliki aroma tradisional Betawi yang kuat. Sayuran segar seperti tauge, selada, dan kentang yang disajikan dengan bumbu kacang ini membuat Gado‑gado Encim menjadi pilihan sempurna untuk makan siang yang menyehatkan namun penuh rasa.
Setelah menikmati bakmi dan gado‑gado, perjalanan kuliner berlanjut ke Warung Pojok Bu Suro, sebuah tempat makan rumahan yang letaknya cukup tersembunyi di Pasar Barat Jatinegara. Warung ini telah ada sejak awal 1980‑an dan kini dikelola oleh generasi kedua keluarga pemiliknya. Suasana warung yang sederhana membuat pengunjung merasa seperti makan di rumah nenek sendiri — hangat, ramah, dan penuh cita rasa masa kecil. Menu di sini adalah masakan rumah khas Betawi dan Indonesia pada umumnya, seperti pindang bandeng yang menjadi favorit hampir semua pengunjung, ayam goreng kampung dengan kulit renyah dan dagingnya yang juicy, semur Betawi yang kental dan harum, sop daging yang lembut serta sayur lodeh yang beraroma santan. Dengan harga yang tetap bersahabat, warung ini tidak hanya memuaskan lidah tetapi juga menghangatkan perut yang lapar.
Baca Juga:
Nutrisi Susu Pasteurisasi vs Susu Mentah: Fakta Ilmiah di Balik Klaim Kesehatannya
Ketika sore mulai turun, suasana pasar berubah — namun aroma makanan terus menguar di udara. Para pedagang dan pengunjung yang datang bukan hanya untuk membeli bahan pokok, tetapi juga untuk kembali menikmati kuliner yang sudah mereka kenal jauh sebelum tren makanan modern hadir. Pasar Jatinegara, dengan segala lorongnya yang bikin penasaran dan deretan kuliner legendarisnya, terus membuktikan bahwa kuliner klasik lokal masih bertahan dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Di setiap sudutnya, ada cerita lama yang tersimpan dalam setiap santapan, menunggu untuk ditemukan — siap menggugah rasa dan menyimpan kenangan baru bagi siapa saja yang singgah.









