Menu

Mode Gelap

Kuliner · 13 Des 2025 21:03 WIB

Menelusuri Warisan Rasa Kecap Legendaris Favorit Bung Karno yang Masih Bertahan hingga Kini


 Menelusuri Warisan Rasa Kecap Legendaris Favorit Bung Karno yang Masih Bertahan hingga Kini Perbesar

PROLOGMEDIA – Di sebuah sudut Kota Blitar yang tak terlalu mencolok, hanya sekitar 50 meter dari jalan utama yang kini dikenal sebagai Jalan Mastrip, tersembunyi sebuah warisan kuliner yang tak hanya sekadar bumbu dapur, tetapi bagian dari sejarah panjang Indonesia. Di balik deretan pepohonan rindang dan suasana yang tenang, berdiri sebuah tempat produksi kecil yang memancarkan aroma tradisi dan cerita panjang tentang cita rasa masa lalu: tempat pembuatan kecap Sie Wie Bo.

Begitu melangkah masuk, suasana yang terasa bukanlah hiruk pikuk industri modern, melainkan ketenangan sebuah dapur klasik yang masih mempertahankan cara-cara tradisional. Di sana, pohon-pohon rimbun membentuk kanopi alami, dan bangunan sederhana menjadi saksi bisu dari proses pembuatan kecap yang sudah diwariskan lintas generasi sejak awal abad 20. Produksi kecap di tempat ini memang tidak besar; setiap botol yang keluar dari sini dihasilkan dengan penuh ketelitian dan kecintaan pada proses.

Saya disambut hangat oleh dua sosok penting di balik kelangsungan usaha ini: Ibu Cecil, generasi ketiga pelaku usaha Kecap Sie Wie Bo, dan rekan kerjanya, Ibu Susi. Senyum mereka adalah tanda keramahan khas Indonesia, tetapi yang lebih menarik adalah kisah yang mereka miliki tentang kecap yang bukan sekadar bumbu, melainkan bagian dari warisan kuliner Indonesia. Saat kami berjalan berkeliling area produksi, Ibu Cecil mulai membuka lembar sejarah panjang yang membentuk identitas kecap ini.

Awalnya, cerita ini bermula pada tahun 1901 ketika seorang pria bernama Sie Bian Siang memulai usaha produksi kecap di kota ini. Pada masa itu, kecap sedang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia yang mulai terbuka terhadap pengaruh budaya kuliner dari banyak penjuru, termasuk dari Tionghoa. Sie Bian Siang memproduksi kecap secara sederhana, namun kualitasnya begitu kuat di lidah masyarakat hingga usaha tersebut berkembang.

Tak lama kemudian, pada tahun 1920, usaha tersebut diteruskan oleh putranya, Sie Wie Bo, dan sejak saat itu kecap produksi keluarga ini dikenal dengan nama Kecap Sie Wie Bo, yang kemudian disingkat menjadi Kecap SWB. Nama ini kemudian menjadi ikon tersendiri di kalangan penikmat kuliner tradisional.

Produksi kecap ini sempat terhenti pada masa-masa tertentu dalam sejarahnya, namun semangat dan formula resep turun-temurun itu tidak pernah hilang. Pada 2019, produksi yang semula berada di Blitar dipindahkan ke Bogor, di mana Ibu Cecil melanjutkan tradisi keluarganya untuk menjaga agar resep asli tetap hidup. Semua proses digerakkan dengan kesungguhan hati untuk mempertahankan cita rasa yang sedari dahulu sudah menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat sekitar.

Baca Juga:
Tol Serang–Panimbang: Akses Baru yang Mengerek Sport Tourism & Pariwisata Banten

Salah satu dokumen bersejarah yang dipamerkan di dapur ini adalah sebuah surat pemesanan yang tertanggal 10 Mei 1954. Dalam surat itu, Kepala Rumah Tangga Presiden Republik Indonesia pada masa itu memesan 50 botol kecap untuk keperluan istana Presiden di Jakarta. Bayangkan, sepenggal catatan kecil seperti surat itu bercerita banyak tentang bagaimana sebuah produk sederhana seperti kecap bisa melintasi ruang dapur rumah tangga hingga ke meja makan istana negara.

Yang membuat pembuatan Kecap Sie Wie Bo begitu istimewa adalah proses produksinya yang masih dilakukan secara tradisional hingga hari ini. Tidak ada mesin-mesin canggih yang menggantikan tangan manusia. Kedelai hitam yang menjadi bahan dasar difermentasi lama dalam guci-guci kuno, bumbu-bumbu dihaluskan satu per satu dengan tangan menggunakan ulek-ulek tradisional, dan proses pemasakan yang menggunakan tungku kayu bakar untuk menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas. Semua ini dilakukan secara telaten, meskipun prosesnya jauh lebih lambat dibanding pabrik modern.

Saya sempat mencium aroma ketika proses pemasakan berlangsung, sekitar dua jam setelah bahan-bahan dimasak. Bau harum kecap yang tengah matang tercium kuat, menggugah selera lebih cepat daripada dedaunan yang berguguran di sekitar dapur. Supervisor produksi kemudian memeriksa kekentalan kecap menggunakan viskometer, sebuah alat sederhana namun penting untuk memastikan tekstur kecap sudah sesuai standar turun-temurun yang telah ditetapkan keluarga selama lebih dari satu abad. Proses pemasakan dan pengadukan kadang harus diulang beberapa kali sebelum hasilnya benar-benar pas.

Akhirnya, setelah semua tahap selesai, kecap yang baru matang disaring dan dibiarkan mendingin kembali di dalam guci-guci keramik itu. Saya pun mendapat kesempatan untuk mencicipi kecap yang baru saja selesai dibuat. Begitu tetesannya menyentuh lidah, saya langsung merasakan kompleksitas rempah yang menyatu begitu harmonis, dipadukan dengan kelembutan manis alami dan kekentalan yang pas—sebuah cita rasa yang tak mungkin ditiru oleh proses produksi massal.

Kunjungan saya hari itu diakhiri dengan makan siang bersama kedua Ibu yang ramah itu. Menu yang disajikan sederhana tetapi penuh cita rasa: nasi timbel lengkap dengan kerupuk, tahu, dan tempe—semua hidangan sempurna dengan kecap SWB sebagai saus cocolan. Momen kebersamaan seperti ini menunjukkan bahwa kecap bukan sekadar pelengkap rasa, tetapi pengikat kenangan dan budaya dalam sebuah perjamuan sederhana.

Tak hanya itu, saya juga membawa pulang beberapa botol kecil Kecap Sie Wie Bo, sebagai oleh-oleh sekaligus saksi bisu dari pengalaman yang tidak akan terlupakan. Botol-botol kecil itu bukan sekadar bungkus kaca, tetapi simbol rasa sejarah yang bebas dari modifikasi modern yang sering kali mengikis cita rasa asli. Setiap tetesnya membawa cerita tentang tangan-tangan yang tak pernah lelah menjaga warisan rasa.

Baca Juga:
Ledakan SMAN 72: Kapolri Beri Dukungan & Janji Usut Tuntas

Lebih dari sekadar bumbu dapur, Kecap Sie Wie Bo adalah narasi tentang bagaimana sebuah cita rasa bisa melekat dalam ingatan generasi bangsa. Dari meja makan sederhana hingga Istana Presiden, kecap ini telah menyentuh kehidupan banyak orang, termasuk tokoh besar bangsa. Melalui produk inilah kita bisa merasakan bahwa rasa sejati bukan hanya soal lidah, tetapi tentang bagaimana tradisi, sejarah, dan kerja keras generasi demi generasi bertemu dalam sebuah botol kecap yang sederhana namun luar biasa.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

26 Desember 2025 - 19:57 WIB

Rahasia Singkong Goreng Merekah dan Empuk Tanpa Air Es

26 Desember 2025 - 19:08 WIB

Kreativitas Kuliner Nusantara: Ragam Camilan dan Olahan Unik dari Daun Pepaya

26 Desember 2025 - 18:24 WIB

Wajib Tahu, Ini Bagian Udang yang Aman Dimakan dan Sebaiknya Dihindari

25 Desember 2025 - 02:07 WIB

Waspada Saat Terbang, Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Pesawat

25 Desember 2025 - 01:52 WIB

Ayam Panggang Bumbu Pedas yang Meresap, Daging Empuk dan Juicy

23 Desember 2025 - 18:37 WIB

Trending di Kuliner