PROLOGMEDIA – Klaten adalah kota yang nyaman, adem, dan terasa tenang — tapi bagi banyak pemuda di sana, “tinggal di Klaten” saja terasa seperti hidup di zona penantian. Terlalu dekat dan terlalu nyaman untuk dijadikan kampus impian, namun juga terasa terlalu “di tengah‑tengah” untuk dijadikan rumah akhir: berada di antara dua kota besar — Yogyakarta (Jogja) di barat daya dan Surakarta (Solo) di timur laut — membuat Klaten sering dianggap sebagai titik transit, bukan tujuan utama.
Saya sendiri lahir di Klaten. Kini saya kuliah di Solo, sementara banyak teman saya memilih Jogja. Ketika orang lain bertanya, “Kenapa tidak kuliah di Klaten saja? Bukankah di sana ada kampus?” — jawaban kami tak sesederhana itu. Karena pada kenyataannya, ada alasan-alasan kuat yang membuat Jogja dan Solo jadi lebih menarik — bukan karena Klaten kekurangan kampus, melainkan karena pilihan hidup yang lebih luas.
Pertama, pilihan universitas dan jurusan di Jogja dan Solo jauh lebih banyak dan variatif. Jogja dan Solo dikenal sebagai “kota pelajar”: di Jogja ada kampus besar favorit, di Solo juga demikian. Namun di Klaten, ketersediaan kampus dan jurusan terkadang tidak sesuai dengan impian dan minat banyak anak muda. Tak jarang, jurusan impian yang diidam‑idamkan tidak tersedia di kampus lokal — padahal impian itu sudah terlanjur tertanam. Untuk saya, memilih kampus di Solo adalah tentang mengejar cita‑cita, bukan sekadar pendidikan.
Kedua, soal biaya hidup: meskipun Jogja dan Solo adalah kota besar, penduduk dari Klaten yang merantau ke sana sering merasa hidup mereka tetap “bersahabat”. Harga kost murah, makan terjangkau, transportasi dan kebutuhan sehari‑hari bisa dikelola dengan pengeluaran yang masih aman—bahkan tidak terlalu jauh berbeda dengan biaya hidup di Klaten. Jadi, keinginan untuk merantau ke Jogja atau Solo tidak selalu tentang gaya hidup mewah, melainkan soal mempertahankan keseimbangan antara kualitas pendidikan dan biaya hidup yang wajar.
Baca Juga:
HP Bakal Punah? Era AI Ancam Dominasi Smartphone!
Ketiga, akses transportasi dari Klaten ke Jogja maupun Solo sangat mudah — dan ini adalah faktor penting yang membuat orang tua serta calon mahasiswa merasa nyaman. Mereka bisa naik KRL Commuterline Yogyakarta–Solo (relasi Jogja–Solo), dengan ongkos murah, dengan waktu tempuh relatif cepat. Jarak Klaten ke Jogja sendiri hanya sekitar 40 km, dan jika naik kereta bisa sampai dalam waktu kurang lebih 30–45 menit.
Selain itu, mobilitas pakai kendaraan pribadi atau motor juga memungkinkan — memberi fleksibilitas bagi mereka yang suka bepergian tanpa bergantung transportasi umum. Banyak dari kami memilih Jogja atau Solo bukan karena jauh, melainkan karena jarak dan kemudahan akses membuat memilih dua kota itu terasa seperti “menjauh sedikit”, tetapi tetap dekat dengan rumah asal.
Keempat, suasana akademik dan lingkungan kampus di Jogja dan Solo menawarkan lebih banyak peluang untuk tumbuh — bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai manusia yang mencari jati diri. Di sana ada komunitas kreatif, budaya perkuliahan yang hidup, lingkungan belajar yang mendukung, hingga kehidupan sosial dan pertemanan yang lebih dinamis. Bagi mereka yang dari Klaten, suasana seperti itu terasa penting untuk membentuk pengalaman mahasiswa: belajar, bersosialisasi, bereksplorasi. Rasanya seperti hidup dua dunia — akademik dan sosial — dalam satu waktu.
Alasan‑alasan ini lah yang membuat banyak warga Klaten, terutama generasi muda, lebih memilih untuk kuliah di Jogja atau Solo. Bukan karena Klaten kekurangan kampus — melainkan karena Jogja dan Solo menawarkan kombinasi yang sulit dibuang: kampus dengan ragam jurusan dan kualitas, biaya hidup yang masuk akal, akses transportasi yang mudah, dan suasana kampus + sosial yang kaya.
Baca Juga:
Land Cruiser FJ: SUV Tangguh Harga Lebih Murah! Spesifikasi dan Fiturnya!
Dan meskipun Klaten sering dipandang sebagai kota transit — tempat singgah sejenak dalam perjalanan ke Jogja atau Solo — bagi banyak dari kami, merantau ke dua kota itu lebih dari sekadar “perjalanan”. Itu adalah pilihan hidup: perjuangan meraih mimpi, dan upaya untuk membangun masa depan tanpa melupakan akar.









