Menu

Mode Gelap

Wisata · 21 Des 2025 20:37 WIB

Mercusuar Tua di Madura, Saksi Bisu Pelayaran dan Jejak Kolonial di Selat Madura


 Mercusuar Tua di Madura, Saksi Bisu Pelayaran dan Jejak Kolonial di Selat Madura Perbesar

PROLOGMEDIA – Pagi itu matahari baru saja mulai merangkak di balik cakrawala ketika kami bersiap meninggalkan Surabaya. Udara terasa sejuk, seakan memberi semangat bagi perjalanan yang sudah direncanakan jauh-hari: mengunjungi sebuah mercusuar bersejarah di Pulau Madura yang usianya hampir mencapai satu setengah abad. Dari hotel di Jalan Rajawali, mobil kami melaju pelan namun pasti menyusuri jalur utama menuju Jembatan Suramadu, jembatan ikonik yang menghubungkan daratan Jawa dengan Pulau Garam itu. Sesekali kami melirik ke luar jendela — laut yang luas membentang di sebelah kanan, pemandangan Selat Madura yang tenang memantulkan cahaya pagi dengan cemerlang.

Perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam itu bukan sekadar perjalanan biasa. Lebih dari sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain, ini adalah perjalanan menyelami jejak sejarah yang ditinggalkan masa kolonial Belanda. Jembatan Suramadu yang panjangnya membentang di atas lautan membawa kami melintasi batas geografis sekaligus mengantar pikiran kami ke masa lampau, ketika kapal-kapal besar berlayar di selat ini dengan bantuan sinyal mercusuar.

Begitu meninggalkan Surabaya dan memasuki jalan raya utama di Madura, suasana berubah. Hijaunya padi di sawah dan perkebunan rakyat yang terbentang luas di kiri kanan jalan seolah menghapus kesan gersang dan sederhana yang sering orang bayangkan tentang Madura. Ini bukan pulau yang kering dan monoton seperti stereotip biasa, melainkan sebuah lanskap yang kaya akan kehidupan dan cerita. Sawah, jalan kecil, serta kehidupan sehari-hari warga yang sibuk dengan rutinitasnya terlihat begitu kontras dengan tujuan kami: sebuah bangunan tinggi yang telah berdiri tegak sejak era kolonial.

Kemudian, setelah melewati hamparan sawah dan perkebunan, kami berbelok ke sebuah jalan kecil yang berada di tepi hamparan pohon bakau. Jalan yang tidak begitu lebar itu membawa kami semakin dekat dengan destinasi yang telah lama kami nantikan. Dari kejauhan, di ujung jalan, terlihat megah sebuah bangunan putih yang menjulang tinggi; di sanalah Mercusuar Sembilangan berdiri, anggun dan penuh wibawa. Warnanya putih bersih, kontras dengan birunya langit pagi dan kehijauan lingkungan sekitarnya. Berdiri setinggi puluhan meter dengan struktur baja yang kuat, mercusuar ini langsung mencuri perhatian kami sejak pandangan pertama.

Begitu turun dari mobil, langkah kaki kami terhenti sejenak. Di atas pintu mercusuar, terdapat sebuah plakat berbahasa Belanda yang tertancap kuat, menandakan tahun pembangunan menara ini: 1879, pada masa pemerintahan Raja Willem III dari Kerajaan Belanda. Plakat lain di bagian belakang mercusuar menunjukkan nama perusahaan kontraktor baja asal Den Haag yang membangunnya, lengkap dengan angka biaya konstruksinya pada masa itu. Meraba struktur metal tebal mercusuar sambil merenungkan angka-angka dari abad ke-19, kami seakan diajak kembali ke masa ketika kapal-kapal layar masih mengandalkan cahaya mercusuar untuk menavigasi Selat Madura yang rawan bahaya.

Kompleks mercusuar bukan hanya menara itu sendiri. Di kiri dan kanan berdiri bangunan panjang dengan kamar-kamar yang dulunya dipakai sebagai tempat tinggal para penjaga mercusuar. Meskipun telah berusia puluhan tahun, struktur bangunan ini masih terawat dengan baik. Pondasi baja, yang dicat putih keseluruhan, tampak kokoh dan mempertahankan keasliannya dari awal dibangun. Beberapa bagian bahkan masih mempertahankan jendela-jendela kaca klasik yang bisa dibuka, memberikan kesan autentik era kolonial yang tidak banyak berubah meski zaman telah berganti.

Baca Juga:
Kasus SKCK Palsu di Serang Ungkap Modus Penipuan Online, Polisi Imbau Pencari Kerja Lebih Waspada

Pada masa kolonial, mercusuar ini berfungsi sebagai alat bantu navigasi penting bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Madura. Cahaya dari puncaknya yang terang mampu terlihat jauh hingga belasan mil di laut, menjadi penunjuk arah yang sangat vital bagi pelayaran menuju pelabuhan utama seperti Tanjung Perak di Surabaya. Fungsi inilah yang membuat Mercusuar Sembilangan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah pelayaran di kawasan ini. Kini, meskipun teknologi navigasi modern seperti GPS telah banyak menggantikan peran pager mercusuar, fungsi dasar dari Mercusuar Sembilangan tetap relevan hingga saat ini. Cahaya yang dipancarkan masih digunakan sebagai panduan bagi kapal yang melintas, meskipun tidak lagi seterkenal dahulu.

Namun, ada satu hal yang sedikit mengecewakan bagi kami dan para pengunjung lain: sejak beberapa tahun terakhir, pengunjung tidak lagi diperbolehkan naik hingga puncak mercusuar. Hal ini dilakukan demi alasan keamanan karena adanya pemasangan alat-alat navigasi baru di bagian atas menara. Sebagai pengunjung, tentu kami merasa ingin merasakan pengalaman melihat laut dari ketinggian puluhan meter, namun regulasi keselamatan ini membuat kami hanya bisa menikmati pemandangan dari lantai dasar dan dari luar. Tidak putus asa, kami menggunakan drone untuk menangkap sudut pandang yang lebih tinggi, merekam panorama sekitar mercusuar dan hamparan Selat Madura yang membentang luas. Meski demikian, melihat menara ini dari lantai satu juga memberikan pengalaman tersendiri.

Begitu memasuki mercusuar, kesan pertama yang kami dapat adalah betapa massifnya struktur baja yang membentuk bangunan ini. Dari pintu masuk hingga dinding-dinding di dalam, semua terbuat dari lempengan besi yang sangat tebal, dipasang rapi dan kuat sepanjang bangunan. Setiap lantai memiliki jendela kecil yang memungkinkan cahaya masuk sekaligus memberi ruang untuk melihat lanskap di luar. Tangga-tangga besi yang menuju puncak masih ada, meskipun pintu menuju area atas telah ditutup untuk umum demi alasan keselamatan. Di bagian tengah bangunan, kami melihat ruangan silindris yang dulunya digunakan sebagai lift barang — sebuah inovasi pada masanya untuk mengangkut perlengkapan dan material ke puncak mercusuar.

Selain unsur sejarahnya, mercusuar ini menawarkan banyak potensi sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik. Area sekitarnya yang luas — kurang lebih satu hektar — memberikan ruang bagi pengunjung untuk berjalan-jalan santai, foto-foto, atau sekadar menikmati hembusan angin laut sambil merenungkan perjalanan panjang bangunan ini dari masa kolonial hingga era modern. Tempat parkir yang cukup luas juga membuat kunjungan menjadi lebih nyaman tanpa perlu khawatir mencari lahan untuk kendaraan.

Melangkah keluar dari kompleks mercusuar, kami berhenti sejenak menyaksikan keindahan Selat Madura di pagi hari. Perpaduan antara langit biru, laut yang tenang, dan mercusuar putih yang tegak berdiri menciptakan siluet yang begitu menenangkan. Meski tak dapat naik ke puncak, pengalaman menyentuh sejarah langsung dari struktur bangunan, membaca jejak masa lampau, serta merasakan kesejukan angin laut telah memberikan kenangan yang tak terlupakan.

Baca Juga:
Dishub DKI Tambah Kapal Wisata ke Kepulauan Seribu untuk Libur Natal dan Tahun Baru

Perjalanan pulang memberi kami waktu untuk merenung. Kota Bangkalan dan Mercusuar Sembilangan bukan sekadar destinasi wisata; mereka adalah saksi bisu perjalanan sejarah panjang yang tak banyak orang tahu. Bangunan ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan jejak-jejak masa lalu, agar generasi mendatang tetap bisa belajar dan merasakan sendiri bagaimana masa lampau terjalin dengan masa kini. Dalam sunyi dan keheningan bangunan tua itu, kami menemukan sebuah pelajaran: bahwa sejarah bukan hanya tentang catatan tertulis, tetapi juga tentang bangunan yang masih berdiri tegar, menantang waktu dan terus bercerita kepada siapa pun yang mau mendengarkan.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata