Yogyakarta – Siapa sangka, di balik hamparan ladang singkong yang menjadi ciri khas Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersembunyi sebuah kisah inovasi yang luar biasa. Para ibu dari Padukuhan Sumberejo, Kalurahan Ngawu, Playen, Gunungkidul, berhasil mengubah bahan pangan sederhana ini menjadi produk bernilai jual tinggi: mie instan mocaf!
Kisah ini bermula dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri 21, yang diprakarsai oleh Suti Rahayu, seorang perempuan berusia 72 tahun yang memiliki semangat tinggi untuk mengembangkan potensi daerahnya. Dengan bermodalkan ketekunan dan keberanian, Suti berhasil mengumpulkan 21 perempuan untuk bergabung dalam KWT dan memulai perjalanan inovasi mereka.
Mie Mocaf: Inovasi Sehat dari Singkong Gunungkidul
Mie instan mocaf yang dihasilkan oleh KWT Putri 21 ini berbeda dari mie instan pada umumnya. Terbuat dari tepung mocaf (modified cassava flour) yang bebas gluten, mie ini menjadi pilihan sehat bagi mereka yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap gluten. Selain tepung mocaf, bahan-bahan lain yang digunakan adalah tepung jagung dan tapioka, serta bumbu-bumbu alami yang diolah sendiri oleh para anggota KWT.
Proses pembuatan mie mocaf ini cukup unik. Tepung mocaf digiling hingga halus, kemudian diolah menjadi adonan mie. Setelah itu, mie dikukus dan dikeringkan. Sebagian mie juga digoreng sebelum dikemas dalam cup, siap untuk diseduh kapan saja.
Pantang Menyerah: Kunci Kesuksesan KWT Putri 21
Perjalanan KWT Putri 21 dalam menciptakan mie instan mocaf tidaklah mudah. Suti Rahayu bercerita bahwa mereka pernah mengalami kegagalan hingga 500 kilogram tepung terbuang sia-sia. Namun, Suti dan kawan-kawan tidak menyerah. Dengan berdoa dan terus berusaha, mereka akhirnya berhasil menciptakan “Mi Ayo” asli Jogja yang semakin dikenal luas.
Inovasi KWT Putri 21 ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pertanian, dinas lain, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka memberikan pelatihan, fasilitas alat, dan pendampingan untuk mengembangkan produk mie mocaf ini.
Produk Mendunia: Sampai Orang Jepang pun Datang Belajar!
Kini, mie instan mocaf dari KWT Putri 21 sudah memiliki banyak varian dan dipasarkan secara luas melalui media sosial dan toko online. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 9.000 per cup.
Baca Juga:
31 Pejabat Fungsional Pemprov Banten Dilantik, Perkuat Birokrasi Profesional dan Berbasis Kinerja
Yang lebih membanggakan, inovasi ini sudah dikenal hingga mancanegara. Suti Rahayu bercerita bahwa banyak orang dari berbagai daerah, bahkan dari Jepang, datang ke Sumberejo untuk belajar tentang pembuatan mie mocaf ini.
Hal ini menunjukkan bahwa produk lokal pun bisa bersaing di pasar global jika dikembangkan dengan inovasi dan kreativitas.
Semangat Kebersamaan dan Kontribusi Masyarakat
Kesuksesan KWT Putri 21 tidak lepas dari semangat kebersamaan dan kontribusi seluruh anggota. Suti Rahayu menekankan bahwa dalam bekerja, semua anggota harus terbuka dan saling berkontribusi.
Bahkan, untuk memasak mie, mereka menggunakan kayu bakar yang dibeli dari masyarakat atau anggota KWT, sehingga semua pihak dapat merasakan manfaatnya.
Kisah KWT Putri 21 ini menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa dengan semangat inovasi, kerja keras, dan kebersamaan, kita dapat menciptakan produk bernilai jual tinggi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Konsumen pun Terpikat
Salah seorang pembeli mi rendah gluten, Amelia, mengatakan dirinya sengaja membeli mi rendah gluten untuk kesehatan.
“Kebetulan suka makan mi, dan ini baru mencoba beberapa varian. Ternyata enak,” kata dia.
Baca Juga:
Flyover Unyur Serang Akan Dibangun Awal 2026, Anggaran Rp 25 Miliar dari APBD Banten
Kisah sukses KWT Putri 21 membuktikan bahwa inovasi dapat muncul dari mana saja, bahkan dari desa terpencil di Gunungkidul. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan mengembangkan kreativitas, para wanita tani ini berhasil menciptakan produk yang tidak hanya sehat dan lezat, tetapi juga membawa nama harum Gunungkidul ke kancah internasional.









