PROLOGMEDIA – Di pagi hari, setelah bangun tidur, banyak orang mempertimbangkan apakah minum air hangat atau air dingin lebih baik — terutama bila tujuan utamanya adalah melancarkan buang air besar (BAB). Berikut narasi menyeluruh berdasarkan informasi terkini, dengan uraian mendalam tentang bagaimana suhu air bisa mempengaruhi pencernaan, metabolisme, dan kesejahteraan tubuh.
Saat kita tertidur, tubuh kehilangan cairan lewat napas dan keringat. Maka ketika bangun, kondisi tubuh bisa sedikit dehidrasi. Minum air putih — dalam suhu apa pun — membantu mengembalikan cairan itu, sehingga organ-organ vital bisa berfungsi lebih optimal.
Namun, suhu air yang kita pilih bisa memengaruhi bagaimana tubuh merespons. Banyak pakar kesehatan dan literatur gaya hidup menyoroti perbedaan dampak antara air hangat (atau suhu ruangan) dengan air dingin, terutama terkait pencernaan dan kebiasaan BAB.
—
Mengapa air hangat sering direkomendasikan di pagi hari
Memperlancar pencernaan dan BAB: Air hangat diketahui dapat membantu melarutkan sisa makanan dan memudahkan pencernaan. Sistem cerna menjadi lebih lancar, sehingga kemungkinan sembelit bisa menurun.
Merangsang gerakan usus (peristaltik): Suhu hangat membantu otot-otot di saluran pencernaan rileks, sehingga makanan dan limbah bisa bergerak lebih mudah melalui usus. Ini penting terutama bagi mereka yang sering merasa “lambat” di pagi hari.
Mencegah sembelit dan memudahkan pengeluaran feses: Saat tubuh cukup terhidrasi dan usus bergerak aktif, tinja lebih mudah dibentuk dan dikeluarkan — sebuah langkah krusial agar BAB tidak berat atau terasa tidak nyaman.
Mendukung sirkulasi dan metabolisme lembut di pagi hari: Air hangat bisa membuat pembuluh darah sedikit melebar, membantu aliran darah lebih lancar, dan menciptakan sensasi hangat yang nyaman setelah tidur.
Menunjang rutinitas harian tubuh secara lembut: Daripada “kejutan” dingin, air hangat memberikan stimulasi halus bagi tubuh, membuat sistem pencernaan dan metabolisme perlahan bangun — cocok bagi mereka yang tidak nyaman langsung dengan air dingin saat perut kosong.
Banyak sumber kesehatan dan gaya hidup bahkan menyarankan untuk membuat minum air hangat di pagi hari sebagai kebiasaan rutin, terutama bila sering mengalami gangguan pencernaan atau konstipasi.
—
Situasi ketika air dingin bisa punya manfaat
Meskipun air hangat sering direkomendasikan untuk pencernaan, bukan berarti air dingin selalu “buruk.” Ada keadaan di mana air dingin punya peran — terutama tergantung kondisi tubuh dan kebutuhan saat itu.
Meningkatkan kesegaran dan kewaspadaan: Air dingin bisa memberikan efek “kesegaran” instan. Bagi sebagian orang, setelah bangun atau ketika masih mengantuk, air dingin bisa membantu memberikan rasa segar dan membantu tubuh bangun lebih cepat.
Menghidrasi cepat setelah aktivitas berat atau panas: Bila tubuh mengalami banyak aktivitas fisik atau berada di kondisi dengan suhu tinggi (keringat, panas), air dingin dapat membantu mendinginkan tubuh lebih cepat dan mengembalikan cairan.
Efek termogenesis ringan: Dalam beberapa literatur disebut bahwa air dingin bisa sedikit memicu tubuh bekerja untuk menghangatkan air yang diminum, sehingga metabolisme bisa sedikit meningkat — meskipun efeknya tidak drastis.
Namun, bagi banyak orang, terutama yang memiliki sistem pencernaan sensitif atau sering sembelit, air dingin bisa membuat perut terasa “kaget” atau memperlambat proses pencernaan.
Baca Juga:
Waspada Naiknya Asam Lambung, Kenali Makanan Pemicu dan Pilihan Aman untuk Pencernaan
—
Namun: Bukti ilmiah tetap terbatas
Penting untuk dicatat bahwa — meskipun banyak orang melaporkan manfaat — penelitian ilmiah yang benar-benar membuktikan bahwa air hangat lebih baik secara konsisten daripada air dingin masih terbatas. Menurut sejumlah pakar, aspek terpenting dari minum air adalah jumlah dan kecukupan hidrasi, bukan suhu air.
Sebuah inti pendapat dari komunitas medis menyebutkan bahwa “air — baik hangat, suam, atau dingin — tetap berperan penting untuk mendukung fungsi tubuh. Tapi klaim bahwa air hangat secara signifikan memperbaiki motilitas usus dibanding air suhu ruangan atau sedikit dingin belum punya konsensus kuat.”
Dengan kata lain: kalau tubuh Anda sudah cukup terhidrasi dan pencernaan Anda sehat, selisih efek antara air hangat vs air dingin mungkin tidak terlalu besar. Namun, jika Anda memiliki masalah seperti perut kembung, susah BAB, atau pencernaan sensitif — air hangat bisa jadi pilihan yang lebih nyaman.
—
Rekomendasi praktis berdasarkan kebutuhan tubuh
Bila kita menyimpulkan dari berbagai sumber dan pengalaman umum, berikut ini pendekatan yang bisa dipertimbangkan:
Jika Anda sering mengalami sembelit, perut kembung, atau BAB kurang lancar, mulailah hari dengan segelas air hangat — minimal satu gelas — sebelum makan atau melakukan aktivitas berat.
Jika Anda bangun tidur dan merasa mengantuk atau lesu, dan tubuh butuh “kejutan” ringan untuk bangun, air dingin bisa membantu memberi kesegaran — tapi pastikan tubuh tetap kenyang hidrasi dan tidak minum terlalu banyak sekaligus.
Bila Anda tinggal di iklim panas, setelah aktivitas luar atau olahraga berat: air dingin bisa membantu mendinginkan tubuh dan memulihkan cairan lebih cepat.
Jika Anda punya kondisi tertentu seperti lambung sensitif, maag, atau gangguan pencernaan, memilih air suhu ruangan atau hangat bisa lebih aman dan lembut bagi sistem pencernaan.
Yang paling penting: fokus pada jumlah total cairan harian — minum cukup air secara rutin. Suhu adalah pelengkap, bukan penentu utama.
—
Kesimpulan
Memilih antara air hangat dan air dingin di pagi hari bukan soal mana yang “pasti benar”, melainkan soal mana yang paling cocok dengan kebutuhan tubuh kita di saat itu. Air hangat menawarkan banyak potensi manfaat: membantu pencernaan, merangsang BAB, memperlancar metabolisme, dan memberi kelembutan pada tubuh setelah tidur. Di sisi lain, air dingin bisa berguna sebagai penyegar atau pemulih setelah panas atau aktivitas berat.
Secara ilmiah, belum ada bukti definitif bahwa air hangat jauh lebih baik — yang paling penting tetap: pastikan Anda cukup minum air sepanjang hari. Jika Anda penasaran, bisa dicoba sebagai kebiasaan sederhana: minum segelas air hangat setiap pagi selama beberapa minggu, lalu amati bagaimana respons tubuh Anda terhadap kebiasaan itu.
Baca Juga:
BNN Tingkatkan Kompetensi Petugas Rehabilitasi: Layanan Optimal bagi Pecandu Narkoba
Kalau kamu mau — saya bisa bantu carikan 7–10 studi ilmiah terbaru yang menyelidiki efek air hangat vs dingin terhadap pencernaan dan BAB, supaya kamu bisa lihat dari sudut bukti medis juga. Mau saya siapkan?









