PROLOGMEDIA – Di sebuah desa di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, warga digegerkan oleh penemuan yang luar biasa: sebuah kerangka manusia terdapat rapi di dalam batang pohon aren yang tumbang. Penemuan ini terjadi pada Selasa, 9 September, di Dusun I, Desa Pematang Ganjang. Laporan awal kemudian menimbulkan banyak pertanyaan — siapa sosok di balik tulang-tulang itu, dan bagaimana bisa jasad seseorang berada di dalam pohon?
Kasus tersebut awalnya ditangani oleh Polsek Firdaus, namun kemudian dilimpahkan ke Polres Serdang Bedagai. Polisi memasang garis pengamanan di lokasi dan mengevakuasi batang pohon aren beserta kerangkanya ke markas Polres. Penanganan yang hati-hati ini memperlihatkan betapa seriusnya aparat menanggapi temuan ganjil ini.
Setelah publik merespons dengan rasa ingin tahu tinggi, muncul kesaksian dari seorang warga yang mengaku anaknya telah menghilang selama dua tahun. Sosok yang hilang ini adalah seorang pria muda bernama Muhammad Yuda Prawira. Ia diduga terakhir terlihat pergi merantau, dan sejak itu keluarganya tak kunjung mendengar kabar. Menurut Kapolsek Firdaus, Ahmad Albar, keluarga tersebut tinggal dekat dengan titik temuan, menambah bobot kuat pada dugaan bahwa kerangka itu mungkin milik Yuda.
Saat pertama kali dievakuasi, kerangka di dalam bangkai pohon tampak mengejutkan: tulang-tulangnya masih relatif utuh, meskipun sudah berserakan. Di sekitar kerangka, tim juga menemukan sejumlah barang milik sang korban, tergolong sangat personal: sepasang celana panjang hitam, kaus biru dengan tulisan “just run”, sebuah ponsel Nokia lawas, dan gelang aluminium berwarna perak. Barang-barang ini kemudian menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan.
Untuk memastikan identitas kerangka tersebut, pihak kepolisian mengambil sampel DNA dan mengirimkannya ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri di Jakarta. Proses mencocokkan sampel ini berlangsung dengan seksama: polisi mengambil sampel pembanding dari keluarga yang mengaku kehilangan anak, agar bisa memastikan apakah kerangka dan keluarga itu berhubungan secara biologis.
Beberapa minggu kemudian, jawaban datang. Hasil uji Labfor dan tes DNA menunjukkan bahwa kerangka itu memang milik Muhammad Yuda Prawira. Menurut Kasi Humas Polres Sergai, Iptu L. B. Manulang, DNA kerangka menunjukkan kecocokan hingga 99,9 persen dengan ayah kandung Yuda.
Baca Juga:
Wagub Apresiasi Irna Center: Garda Terdepan Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Banten
Salah satu kelegaan bagi keluarga datang dari temuan forensik: tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tulang belulang. Menurut Pamin Subdit Yamet Dokpol Polda Sumut, Iptu Egar Saragih, identifikasi kerangka tidak menunjukkan luka atau patah yang mengindikasikan penganiayaan. Namun, Egar juga menegaskan bahwa penyelidikan belum berhenti di sana. Karena yang ditemukan hanyalah tulang dan tidak ada jaringan lunak seperti otot atau organ, tidak semua aspek kematian bisa dianalisis secara detail. “Kalau ada jaringan lunak, mungkin kita bisa cek lebih jauh apakah ada tanda kekerasan,” katanya.
Dari sudut pandang ilmiah, proses ini merupakan bagian dari scientific crime investigation. Dengan hanya menemukan rangka tulang, ahli forensik tidak dapat menyimpulkan banyak hal tentang bagaimana Yuda meninggal. Tanpa daging atau organ yang tersisa, analisis lebih mendalam menjadi terbatas. Meski begitu, polisi tidak menutup kemungkinan bahwa penyidikan akan terus berlanjut jika ada bukti tambahan atau keterangan saksi baru.
Sementara itu, di rumah duka, suasana haru menyelimuti keluarga. Setelah identitas terkonfirmasi, mereka melakukan fardu kifayah — upacara pemakaman wajib — dan menempatkan kerangka Yuda di pemakaman Muslim setempat. Ibunya, Amaliyah, menyatakan harapannya agar kematian anaknya kelak bisa terungkap sebabnya secara tuntas.
Bagi warga setempat, kasus ini pun menjadi bahan diskusi berat. Ada yang mencurigai bahwa Yuda mungkin menjadi korban pembunuhan, kemudian jasadnya dipindahkan dan disembunyikan di pohon aren. Namun, hingga kini, belum ada bukti kuat yang menunjukkan ke arah tersebut — polisi menyatakan bahwa penyidikan akan terus dilanjutkan ketika bukti tambahan muncul.
Cerita Yuda Prawira adalah kisah yang menyedot perhatian banyak orang: dari misteri temuan kerangka dalam batang pohon hingga proses ilmiah mengungkap identitas melalui DNA. Di balik peristiwa tragis itu, ada rasa kehilangan yang mendalam dari keluarga, terutama orang tua yang selama dua tahun hanya bisa berharap akan kehadiran kembali anaknya. Penutupan identitas melalui uji forensik memberikan sedikit petunjuk, tapi juga membuka lebih banyak pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa Yuda bisa berada di dalam pohon.
Baca Juga:
Jembatan Baru di Pesisir Yogyakarta Jadi Ikon Wisata, Infrastruktur Megah Perkuat Akses dan Daya Tarik Selatan DIY
Kisah ini bukan hanya menjadi catatan kriminal; ia juga mengusik empati sosial dan menggugah kesadaran akan pentingnya penyelidikan ilmiah dalam mengungkap misteri kematian. Ketika akar-akar pohon aren berpelukan dengan tulang manusia, terjalin kisah manusia yang hilang, dan akhirnya terungkap melalui sains.









