PROLOGMEDIA – Nilai ujian matematika siswa–siswi SMA di seluruh Indonesia pada pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 dilaporkan anjlok. Banyak siswa bilang bahwa model soal yang diuji berbeda dari apa yang mereka pelajari di tiga tahun SMA — bahkan ada materi yang menurut mereka pernah muncul hanya di tingkat SMP. Salah satunya adalah Reyfan Athaillah Firdaus, siswa kelas XII di SMAN 2 Indramayu, yang juga pernah meraih juara olimpiade matematika tingkat kabupaten. Ketika melihat soal TKA, ia mengaku terkejut dan kewalahan.
Reyfan menjelaskan bahwa soal matematika dalam TKA lebih menuntut penalaran dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar rumus seperti ujian sekolah pada umumnya. Menurutnya, dari 25 soal matematika yang diberikan, kemiripan dengan materi sekolah sangat sedikit — sebagian besar soal benar-benar berbeda. Ada soal-soal yang bahkan menggunakan materi dari jenjang sebelumnya, yaitu SMP, yang seharusnya sudah jarang atau tidak diajarkan lagi di SMA.
Meski demikian, Reyfan merasa sedikit beruntung karena sejak lama ia telah sering berlatih soal matematika tambahan. Ia mengaku mampu menyelesaikan sebagian besar soal, hanya kira-kira dua soal yang terasa sangat sulit. Tapi bagi sebagian besar siswa lain, kondisi tidak sebaik dia.
Salah satu keluhan utama adalah waktu pengerjaan — siswa diberikan waktu 45 menit untuk menjawab 25 soal. Artinya, setiap soal harus dikerjakan dalam waktu sekitar 1,8 menit. Bagi siswa yang tidak terbiasa berpikir cepat dalam penalaran dan penerapan rumus ke soal kehidupan nyata, itu menjadi tekanan tersendiri.
Selain itu, pelaksanaan TKA 2025 dilakukan secara daring (online). Pelaksanaan secara daring menimbulkan kendala bagi siswa di banyak sekolah — tidak semua sekolah dapat menyediakan komputer atau laptop untuk setiap peserta. Ada sekolah yang meminta siswa membawa perangkat sendiri. Bahkan pada uji coba (try out) TKA jenjang dasar di beberapa tempat, ada yang mengalami server overload, masalah login, atau loading tiba-tiba sehingga ujian sampai batal digelar.
Seorang murid SD swasta di Depok, sebagai contoh, harus membawa laptop atau ponsel sendiri. Ia dan teman-temannya mengeluh soal sulit dibaca karena layar gawai terlalu kecil. Ada juga yang gagal login, atau komputer hang di tengah ujian. Bahkan, uji coba TKA sempat tidak jadi digelar karena beban server pusat terlalu berat.
Siswa dari SMP di Jakarta Timur, yang mengikuti uji coba TKA, juga merasakan ketidaksiapan sistem pembelajaran: metode pembekalan di sekolah relatif tidak seragam — guru di satu kelas mengajarkan cara menjawab soal TKA dengan cara tertentu, sementara guru lain di kelas berbeda menggunakan cara lain. Akibatnya, tidak satu pun siswa di angkatan tersebut yang meraih nilai di atas 60 dalam uji coba TKA.
Baca Juga:
Andra Soni Jenguk Revan, Pemuda Baduy Korban Perampokan: Komitmen Pemprov Banten untuk Rasa Aman Warga
Situasi ini kemudian memunculkan anggapan bahwa masalahnya bukan hanya pada siswa, melainkan sesuatu yang lebih sistemik. Banyak siswa — bahkan yang berprestasi — merasa kaget dan kewalahan. Bagi mereka, ujian yang semula dipahami sebagai kelanjutan dari kurikulum sekolah justru terasa sebagai sesuatu yang asing dan penuh tantangan baru.
Sejak 3 hingga 6 November 2025, sekitar 3,5 juta siswa dari 43.967 sekolah di seluruh Indonesia mengikuti TKA jenjang SMA secara serentak — sebuah pelaksanaan skala besar yang dilakukan untuk pertama kalinya.
Bagi sebagian siswa, seperti Reyfan, persiapan ekstra lewat les atau latihan soal mandiri membantu mereka menghadapi soal-soal yang menuntut logika tinggi. Namun bagi banyak siswa lain — terutama yang hanya mengandalkan pelajaran rutin sekolah — ujian ini terasa seperti ujian dari dunia berbeda. Soal yang butuh penalaran, waktu yang mepet, dan kendala teknis dalam pelaksanaan daring membuat banyak siswa kewalahan.
Kejadian ini kemudian menuai sorotan: bukan hanya tentang rendahnya nilai siswa, tapi juga relevansi soal dengan kurikulum, keseragaman pembekalan di sekolah, dan kesiapan infrastruktur untuk pelaksanaan ujian daring.
Bagi para siswa, terutama mereka di daerah atau sekolah yang fasilitasnya kurang mendukung — ujian ini terasa berat. Sementara bagi penyusun soal, tampaknya TKA dirancang dengan harapan menilai kemampuan berpikir kritis dan penerapan matematika dalam kehidupan nyata — bukan sekadar hafalan rumus.
Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa belum siap menghadapi metode penilaian semacam itu, baik dari segi materi maupun strategi menjawab dalam waktu singkat. Ujian yang dimaksudkan sebagai alat evaluasi baru ini justru mengekspos ketimpangan pendidikan: antara siswa yang punya akses lebih — les tambahan, komputer, latihan soal mandiri — dan siswa yang hanya mengandalkan pelajaran reguler serta fasilitas sekolah seadanya.
Dalam konteks ini, aspirasi agar pendidikan di Indonesia menghasilkan siswa yang tidak hanya pintar menghafal rumus, tapi juga mampu berpikir kritis dan kreatif — idealnya teruji melalui TKA — tampak terhambat oleh kondisi nyata di sekolah. Pelaksanaan TKA 2025 menegaskan bahwa transformasi cara mengevaluasi tidak bisa hanya soal mengganti model soal, tapi harus diikuti dengan pemerataan akses pendidikan, pembekalan yang merata, serta infrastruktur memadai agar semua siswa punya kesempatan yang adil.
Baca Juga:
Tiap Hari Murid Jalan Kaki 2 Jam Lewati Hutan selama 25 Tahun Demi ke Sekolah, Sentil Gubernur
Apabila tidak, TKA bisa jadi bukan hanya mengukur kemampuan, tapi juga memperlebar ketimpangan — antara siswa “siap” dan siswa “tertinggal.” Pengalaman Reyfan dan puluhan ribu siswa lain menjadi bukti bahwa dalam pelaksanaan berbasis digital dan penilaian penalaran tinggi, banyak aspek perlu dibenahi agar tujuan pendidikan baru ini tidak justru menciptakan persoalan baru.









