Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 24 Nov 2025 19:37 WIB

Nutrisi Susu Pasteurisasi vs Susu Mentah: Fakta Ilmiah di Balik Klaim Kesehatannya


 Nutrisi Susu Pasteurisasi vs Susu Mentah: Fakta Ilmiah di Balik Klaim Kesehatannya Perbesar

PROLOGMEDIA – Susu murni — terutama yang belum melalui proses pemanasan atau “raw milk” — sering digembar-gemborkan sebagai pilihan paling sehat karena dianggap “alami” dan lebih kaya nutrisi. Namun, klaim bahwa susu pasteurisasi jauh lebih rendah gizinya bukanlah kebenaran mutlak. Berdasarkan rangkuman fakta dari para ahli gizi dan penelitian ilmiah, perbedaan kandungan nutrisi antara susu mentah dan susu yang dipasteurisasi jauh lebih kecil daripada anggapan umum, sementara risiko kesehatan dari raw milk justru sangat nyata.

 

Pertama-tama, mari kita uraikan apa itu pasteurisasi dan mengapa dilakukan. Pasteurisasi adalah proses pemanasan susu dengan suhu tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk membunuh bakteri patogen yang bisa menyebabkan penyakit. Tujuan utamanya adalah keamanan konsumen — bukan untuk mengubah komposisi gizi susu secara drastis.

 

Menurut para ahli, meskipun pemanasan dapat menyebabkan hilangnya beberapa vitamin yang peka terhadap panas, seperti vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B12, dan C, penurunan ini umumnya bersifat minimal dan tidak signifikan secara praktek. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis dari 40 studi menemukan bahwa penurunan vitamin setelah pasteurisasi memang ada, tetapi vitamin-vitamin tersebut awalnya sudah terdapat dalam susu dalam jumlah relatif rendah.

 

Dari segi protein, penelitian menunjukkan bahwa kualitas protein susu tidak berubah secara signifikan karena proses pemanasan. Komposisi utama protein susu — casein dan whey — tetap relatif sama setelah pasteurisasi. Mineral seperti kalsium, seng, dan selenium juga stabil selama proses pemanasan karena tahan panas, sehingga bioavailabilitasnya tidak banyak berubah.

 

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah hilangnya vitamin larut air. Memang, vitamin seperti folat (vitamin B9), vitamin C, dan beberapa vitamin B mengalami penurunan setelah pasteurisasi. Namun, menurut para peneliti, dampak kehilangan ini tidak terlalu besar dalam konteks asupan harian karena kandungan awal vitamin tersebut di susu relatif rendah dan masih dapat dipenuhi dari sumber makanan lain.

 

Sementara itu, ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa kandungan beberapa nutrisi tertentu justru bisa meningkat setelah pasteurisasi. Sebagai contoh, dalam satu kajian, kadar vitamin A ditemukan meningkat setelah pemanasan. Hal ini mungkin mengejutkan banyak orang, tetapi menunjukkan bahwa efek pemanasan terhadap gizi susu tidak selalu bersifat negatif.

Baca Juga:
Wisata Transit di Sekitar Bandara Juanda: 14 Destinasi Wajib untuk Perjalanan Tak Terlupakan

 

Di sisi lain, pendukung susu mentah sering mengklaim bahwa raw milk memiliki lebih banyak enzim, bakteri baik (probiotik), molekul bioaktif, dan nutrisi “alami” yang hilang ketika dipasteurisasi. Mereka mengatakan bahwa pemanasan dapat menonaktifkan enzim seperti laktase, mengurangi zat antimikroba bermanfaat, dan menghancurkan komponen biologi lain yang baik untuk kesehatan. Namun, klaim ini perlu dilihat dengan hati-hati, karena bukti ilmiahnya terbatas dan banyak yang belum dikuatkan dengan penelitian berkualitas tinggi.

 

Tak kalah penting, risiko kesehatan dari raw milk sangat nyata dan menjadi perhatian besar para dokter dan ahli kesehatan. Karena susu mentah belum mengalami pemanasan, ia bisa menjadi media ideal bagi bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, Listeria, dan patogen lainnya untuk bertahan dan berkembang. Bagi kelompok rentan — seperti anak-anak, orang tua, wanita hamil, atau mereka dengan sistem kekebalan lemah — konsumsi raw milk bisa berbahaya dan bahkan mengancam nyawa.

 

Ahli kesehatan menegaskan bahwa meski raw milk mungkin menawarkan sedikit perbedaan nutrisi, manfaat tersebut tidak sebanding dengan risiko infeksi serius yang bisa ditimbulkan. Susu pasteurisasi, di sisi lain, menyediakan hampir semua nutrisi penting susu sambil mengurangi potensi bahaya kesehatan.

 

Beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa klaim bahwa raw milk bisa mencegah alergi atau asma—salah satu argumen populer pendukung susu mentah—belum terbukti secara kuat dan dapat dimengerti sebagai bias karena faktor lingkungan lain, seperti keberadaan hewan ternak di lingkungan konsumen.

 

Kesimpulannya, meskipun memang ada sedikit penurunan sejumlah vitamin pada susu yang dipasteurisasi, proses ini tidak secara signifikan merusak nilai gizinya. Protein dan mineral tetap terjaga dengan baik, dan banyak potensi kerugian vitamin dapat ditutup melalui pola makan seimbang. Di sisi lain, risiko kesehatan dari minum susu mentah jauh lebih besar, dan para ahli menyarankan agar kita mengutamakan keamanan tanpa mengorbankan nutrisi yang sangat besar.

 

Baca Juga:
Cara Membersihkan Lumut di Tandon Air dengan Aman dan Efektif agar Air Tetap Bersih

Karena itu, jika Anda mempertimbangkan untuk mengonsumsi raw milk demi alasan kesehatan, penting untuk menimbang baik-baik manfaat versus risiko. Secara ilmiah, susu pasteurisasi masih merupakan pilihan yang bijak: menyediakan gizi penting sekaligus menjaga keamanan bagi Anda dan keluarga.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Respons Cepat Pemkab Serang, Sartini Warga Petir Dapat Bantuan dan Penanganan Medis

27 Januari 2026 - 12:15 WIB

Latihan Beban Bukan Sekadar Otot: Rahasia Tubuh Sehat dan Kuat bagi Wanita

2 Januari 2026 - 17:41 WIB

Deretan Makanan Kaya Vitamin B12 yang Penting untuk Energi, Saraf, dan Kesehatan Tubuh

1 Januari 2026 - 01:35 WIB

6 Latihan Upper Body Efektif untuk Membentuk Tubuh Kuat dan Proporsional

1 Januari 2026 - 01:26 WIB

Gaya Makan Sehat Milenial: Tren, Tips, dan Langkah Awal Menuju Hidup Lebih Fit

26 Desember 2025 - 19:55 WIB

8 Jenis Karbohidrat Tinggi Kalori yang Sebaiknya Dihindari Saat Diet

26 Desember 2025 - 19:32 WIB

Trending di Kesehatan