PROLOGMEDIA – Di sudut kota Malang, di kawasan bersejarah Kayutangan Heritage, aroma rempah dan kehangatan nostalgia berpadu melalui sajian kue yang sudah menua bersama sejarah: Ontbijtkoek. Meski berasal dari negeri Belanda, kue ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan kuliner di tanah air — sebuah saksi bisu percampuran budaya, rasa, dan kenangan.
Asal-usul Ontbijtkoek bermula di Belanda, setidaknya sejak abad ke-16, ketika masyarakat Eropa mengenal roti atau cake dengan bahan utama tepung rye dan rempah-rempah seperti kayu manis, jahe, pala — kadang disertai cengkeh atau rempah lain. Awalnya dikenal sebagai “pepperkoek” atau “kruidkoek”, kue ini kerap disajikan sebagai pendamping kopi atau teh di pagi hari — satu iris dengan olesan mentega, selai, atau keju menjadi bubuhan sederhana namun memuaskan.
Di Belanda, Ontbijtkoek tak sekadar kue biasa. Kehadirannya bahkan melekat dalam tradisi: kue ini pernah dijadikan bagian dari ritual pemakaman, di mana kombinasi madu dan rempah dianggap melambangkan perpaduan antara duka dan harapan — kesedihan dari kehilangan dan penghormatan terhadap kehidupan.
Namun, yang menarik bukan hanya sejarah Eropa-nya — melainkan bagaimana kue ini beradaptasi dan “bermigrasi” ke Indonesia. Di tanah air, rempah sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari; aroma kayu manis, jahe, dan rempah lain bukan hal asing, bahkan dicintai. Karena itu, ketika Ontbijtkoek dikenalkan, rasanya langsung nyambung dengan lidah lokal. Banyak resep diadaptasi menggunakan tepung terigu, gula aren atau gula kelapa, agar sesuai dengan bahan lokal — berbeda dari versi “original” Belanda yang menggunakan rye dan brown sugar.
Di Indonesia, pengaruh Ontbijtkoek bisa dilihat pada kue-kue tradisional seperti Roti Gambang atau Roti Ganjel Rel — roti khas Betawi dan Semarang — yang diyakini terinspirasi dari Ontbijtkoek. Meski teksturnya lebih keras dan padat, aroma kayu manis yang melekat tetap membawa nuansa rempah ala Belanda ke lidah nusantara.
Baca Juga:
Tragedi Gunung Salak: Petugas Gugur Sikat Tambang Emas Ilegal, Ini Penyebabnya!
Kini, di kawasan heritage Malang, Ontbijtkoek hidup kembali — bukan sebagai warisan yang terlupakan, melainkan sebagai kue nostalgia yang terus disukai. Warga setempat, melalui UMKM dan komunitas lokal, memproduksi kue ini baik dalam versi “basah” maupun “kering”. Harganya pun relatif terjangkau: di kisaran Rp 40.000 hingga Rp 65.000, menjadikannya pilihan oleh-oleh yang menarik bagi wisatawan.
Keberadaan Ontbijtkoek di Indonesia bukan semata soal rasa, tetapi juga soal identitas budaya — sebuah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan tekstur padat dan aroma rempah yang kuat, kue ini berhasil membangkitkan kenangan masa kolonial sekaligus menjadi bagian dari kuliner modern yang terus lestari. Banyak orang menyukai Ontbijtkoek bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena “cerita” di baliknya — tentang bagaimana resep asing berasimilasi dan menemukan tempat di hati masyarakat lokal.
Bagi yang ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah — alih-alih membeli — resep Ontbijtkoek pun telah tersedia secara sederhana dan praktis. Beberapa versi menggunakan kombinasi 6 butir telur, gula kelapa — atau gula aren — tepung terigu, susu bubuk, mentega, minyak, dan bubuk kayu manis (atau spekkoek), dipanggang dalam suhu 160–170°C selama sekitar 30 menit. Kadang ditaburi almond atau kenari agar menambah tekstur. Setelah dingin, ontbijkoek pun siap disantap bersama kopi atau teh hangat.
Menariknya, bagi beberapa orang Indonesia, menikmati Ontbijtkoek bukan sekadar makan kue — tetapi juga merasakan “potongan sejarah”. Dalam satu gigitan, ada jejak kolonialisme, adaptasi budaya, perubahan rasa dan bahan, serta pelestarian tradisi lewat kuliner. Di zaman ketika makanan cepat saji dan tren kuliner datang silih berganti, keberhasilan Ontbijtkoek bertahan menunjukkan bahwa makanan warisan bisa tetap relevan — asalkan dihargai, diadaptasi, dan disajikan dengan cinta.
Dengan begitu, Ontbijtkoek bukan hanya sekadar kue rempah dari negeri jauh. Ia telah berubah menjadi ikon lokal — penghormatan terhadap masa lalu sekaligus sajian kekinian. Bagi warga Malang dan banyak penggemarnya di seluruh Indonesia, setiap potong Ontbijtkoek adalah undangan untuk menikmati nostalgia, mengingat sejarah, dan merayakan rasa: hangat, rempah, sederhana, namun sarat makna.
Baca Juga:
4,5 Jam Tembus Hutan Leuser: Ladang Ganja Raksasa Terungkap!
Dan bagi siapa saja yang tertarik, kue ini tetap tersedia — entah sebagai oleh-oleh khas, camilan sore, atau sajian untuk menghangatkan percakapan sambil menyeruput teh. Ontbijtkoek membuktikan satu hal: bahwa rasa dan memori, ketika ditempa waktu, bisa menjadi jembatan budaya yang abadi.









