Menu

Mode Gelap

Berita · 20 Nov 2025 09:35 WIB

Operasi Zebra 2025: Polisi Gunakan Tilang Manual dan ETLE untuk Tangkap Pengendara Bandel


 Operasi Zebra 2025: Polisi Gunakan Tilang Manual dan ETLE untuk Tangkap Pengendara Bandel Perbesar

PROLOGMEDIA – Di tengah upaya penegakan ketat terhadap pelanggaran lalu lintas melalui Operasi Zebra 2025, pihak kepolisian telah mengumumkan bahwa tilang manual akan tetap berlaku dan menjadi bagian penting dari operasi ini. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk keterbatasan peralatan otomatis dan kebutuhan untuk penanganan yang lebih personal terhadap pelanggar yang terjadi di lapangan.

Operasi Zebra sendiri adalah program tahunan yang digelar oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya patuh terhadap peraturan lalu lintas. Tahun 2025, operasi ini ditargetkan untuk mencakup lebih banyak titik strategis di seluruh Indonesia, mulai dari kota-kota besar hingga daerah pedalaman.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Divhumas) Korps Lalu Lintas Polri, Kombes Pol Aan Suhanan, menjelaskan bahwa tilang manual tidak akan digantikan sepenuhnya oleh tilang otomatis meskipun teknologi terus berkembang.

“Kita menyadari bahwa tilang otomatis memiliki manfaatnya sendiri, seperti kemampuan untuk merekam pelanggaran secara terus-menerus tanpa ada kehadiran petugas langsung,” ujar Aan dalam konferensi pers yang diadakan di Markas Divisi Lalu Lintas Polri, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun, dia menambahkan bahwa tilang manual masih memiliki peran yang tak tergantikan, terutama dalam menangani kasus-kasus yang membutuhkan penilaian langsung dari petugas. Misalnya, ketika terjadi pelanggaran yang melibatkan bahaya langsung bagi orang lain atau ketika ada keadaan khusus yang membuat peralatan otomatis tidak bisa berfungsi dengan baik.

Selain itu, Aan menjelaskan bahwa tilang manual juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi pengendara. Ketika petugas memberikan tilang secara langsung, mereka bisa sekaligus memberikan penjelasan tentang mengapa pelanggaran tersebut dilarang dan apa dampaknya bagi keselamatan diri dan orang lain.

“Ini adalah momen yang berharga untuk berkomunikasi langsung dengan pengendara, mengingatkan mereka tentang peraturan, dan mendorong mereka untuk lebih patuh ke depannya,” katanya.

Hal ini dianggap lebih efektif daripada tilang otomatis yang hanya memberikan notifikasi setelah pelanggaran terjadi, tanpa ada kesempatan untuk berinteraksi dan memberikan edukasi secara langsung.

Operasi Zebra 2025 sendiri akan difokuskan pada beberapa pelanggaran lalu lintas yang sering menjadi penyebab kecelakaan, seperti melanggar lampu lalu lintas, mengemudi tanpa SIM atau STNK, tidak memakai sabuk pengaman, dan mengemudi sambil memakai ponsel. Petugas yang terlibat dalam operasi ini akan ditempatkan di titik-titik yang sering terjadi pelanggaran atau yang dianggap strategis, seperti persimpangan besar, jalan raya, dan area padat penduduk.

Mereka akan menggunakan alat-alat pendukung seperti kamera, timbangan kendaraan, dan alat pengukur kecepatan untuk mendeteksi pelanggaran. Namun, meskipun ada alat ini, petugas akan tetap melakukan pemeriksaan secara manual untuk memastikan akurasi dan menghindari kesalahpahaman.

Baca Juga:
Historia Bisnis Perpindahan Kebun Sawit Salim ke Negeri Jiran

Salah satu alasan utama mengapa tilang manual tetap dipertahankan adalah keterbatasan peralatan otomatis di beberapa daerah. Meskipun di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung telah banyak dipasang kamera pengawas lalu lintas, di daerah pedalaman atau kota kecil, peralatan ini masih jarang ditemukan.

“Kita tidak bisa mengandalkan semata-mata pada teknologi jika tidak semua daerah memiliki akses ke peralatan yang cukup,” jelas Aan.

Oleh karena itu, tilang manual menjadi solusi sementara yang efektif untuk menegakkan peraturan lalu lintas di daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh teknologi.

Selain itu, pihak kepolisian juga memperhatikan respon masyarakat terhadap tilang manual. Beberapa orang merasa bahwa tilang manual lebih adil karena mereka bisa menjelaskan keadaan mereka kepada petugas, sedangkan tilang otomatis terkadang dianggap terlalu kaku dan tidak memperhitungkan keadaan khusus. Misalnya, ketika pengendara harus melanggar lampu merah karena ada kecelakaan di depan atau karena ada keadaan darurat lainnya. Dengan tilang manual, petugas bisa menilai keadaan tersebut dan mengambil keputusan yang sesuai, apakah akan memberikan tilang atau tidak.

“Kita ingin memastikan bahwa penegakan hukum tetap tegas tetapi juga manusiawi,” tegas Aan.

Namun, kepolisian juga menyadari bahwa tilang manual memiliki risiko tersendiri, seperti potensi penyalahgunaan wewenang atau kecurangan. Untuk mengatasi hal ini, pihak Polri telah menerapkan sejumlah langkah pencegahan, seperti memberikan pelatihan kepada petugas tentang cara melakukan tilang dengan benar dan adil, memasang kamera pengawas di sekitar lokasi operasi, dan membuka saluran pengaduan bagi masyarakat yang merasa kurang puas dengan penanganan petugas.

“Kita akan sangat tegas terhadap petugas yang menyalahgunakan wewenang. Penegakan hukum harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas,” katanya.

Operasi Zebra 2025 diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap penurunan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Menurut data Divisi Lalu Lintas Polri, pada tahun 2024, terdapat lebih dari 100 ribu kasus kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia, yang menyebabkan ribuan jiwa tewas dan luka-luka. Dengan penegakan ketat melalui tilang manual dan otomatis, diharapkan masyarakat akan lebih waspada dan patuh terhadap peraturan lalu lintas, sehingga angka kecelakaan bisa menurun secara signifikan.

Aan juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung Operasi Zebra 2025. Selain patuh terhadap peraturan, masyarakat juga bisa melaporkan pelanggaran lalu lintas yang mereka lihat ke pihak kepolisian melalui saluran yang tersedia.

“Kesuksesan operasi ini tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga pada kerjasama dan kesadaran masyarakat. Semua orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan lalu lintas,” pungkasnya.

Baca Juga:
Perjalanan Panjang Kabupaten Lebak: Sejarah, Budaya, dan Potensi Besar di Usia ke-197

Dengan kerja sama antara pihak kepolisian dan masyarakat, diharapkan Operasi Zebra 2025 bisa berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu menciptakan lingkungan lalu lintas yang aman dan teratur bagi semua orang.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Buruh Rembang Bergerak ke Semarang, Tiga Tuntutan Upah Jadi Sorotan

9 Desember 2025 - 02:19 WIB

Rombongan Pengusaha China Tinjau Proyek IKN, Beri Respons Mengejutkan

9 Desember 2025 - 02:11 WIB

Erupsi Spektakuler Gunung Kīlauea, Lava Menyembur hingga 30 Meter ke Langit

8 Desember 2025 - 19:58 WIB

Kayu Gelondongan Bersertifikat Kemenhut Terdampar di Pantai Lampung, Aparat Selidiki Legalitasnya

8 Desember 2025 - 19:49 WIB

Sejarah Desa Bedulan Cirebon: Legenda Nyi Mas Baduran dan Persinggahan Pasukan Demak

8 Desember 2025 - 19:39 WIB

Lebih dari 6.000 Lulusan S2 dan S3 di Indonesia Putus Asa Mencari Kerja

8 Desember 2025 - 19:29 WIB

Trending di Berita