PROLOGMEDIA – Di dapur rumah Shinta Anggraeni, deretan galon berukuran 15 liter berdiri rapi seperti barisan prajurit. Setiap malam, galon-galon yang sudah dipenuhi air menjadi harapan terakhir warga Kampung Cidereum, Caringin, Kabupaten Bogor, untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Air yang mengisi galon itu bukan berasal dari sumur keluarga yang sudah ada sejak ayahnya, Nanang Djafaruddin, hijrah dari Jakarta ke sini pada tahun 2008. Sumur yang dulu selalu penuh dan tidak terpengaruh musim kemarau sudah lama kering dan tidak bisa dipakai lagi – semuanya dimulai sejak pabrik air mineral Aqua (PT Tirta Investama) berdiri di wilayah sekitarnya.
Shinta mendapatkan aliran air dari Sarana Air Bersih (SAB), sebuah program hibah yang diberikan oleh pabrik Aqua kepada warga Kampung Cidereum. Sumber airnya terletak sekitar seratus meter dari rumahnya, tetapi ada syarat yang membuatnya kesulitan: SAB hanya mengaliri ratusan rumah penduduk pada siang hari saja. Tanpa bak penampungan atau torrent di rumah, Shinta harus bekerja cepat menyemprotkan waktu untuk mengisi galon-galonnya sebelum matahari terbenam.
“Kalau malam air tidak nyala. Saya harus siapin bekal dari pagi atau siang, kalo kehabisan ya terpaksa tidur dengan kurangnya air,” ujar Shinta saat berbincang di kediamannya pada Selasa (28/10/2025), dengan nada yang penuh keprihatinan.
Yang lebih membuatnya tertekan adalah, meskipun air berasal dari hibah pabrik, Shinta tidak menikmatinya secara gratis. Dia harus membayar Rp 3.000 per kubik untuk setiap liter air yang dipakai, ditambah biaya abodemen Rp 3.000 per bulan tergantung pemakaian. Dalam sebulan, pengeluaran untuk air saja bisa mencapai Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu – jumlah yang tidak sedikit bagi keluarga yang berpenghasilan terbatas. Padahal, sebelum pabrik Aqua hadir di dekat Desa Batu Kembar, Shinta dan keluarga mengandalkan sumur keluarga tanpa harus membayar sepuhunpun.
“Dulu air sumur bagus banget, segar dan selalu ada meskipun kemarau parah. Sekarang? Sumurnya sudah mati total, tidak keluar satu tetes pun,” katanya sambil menunjuk ke sumur di halaman rumah yang sudah tertutup debu.
Kesan frustasi Shinta diamini oleh ayahnya, Nanang Djafaruddin, yang tinggal hanya sepuluh meter dari rumahnya. Kedua keluarga sebelumnya menggunakan sumur yang sama, yang kini sudah kering habis. Tak mau menyerah, Nanang sempat membuat sumur lain sebagai sumber air cadangan. Namun, upaya itu juga sia-sia – sumur baru tersebut juga tak lagi mengeluarkan air. Nanang, yang sudah tinggal di Desa Batu Kembar sejak 2008, masih ingat jelas bagaimana perubahan itu terjadi.
Baca Juga:
Kapolres Serang Galang Donasi Spontan, Terkumpul Rp18 Juta untuk Korban Bencana Aceh–Sumatera
“Pabriknya buka sejak tahun 2011. Tiba-tiba saja, orang-orang mulai ngebor-ngebor di daerah Ciherang, dan tahu-tahu sudah jadi pabrik besar. Tak lama setelah itu, sumur-sumur kita mulai kering perlahan,” ceritanya, dengan nada yang penuh keraguan terhadap keberadaan pabrik tersebut.
Kondisi yang dialami Shinta dan Nanang bukanlah kasus tunggal. Ketua RT 03 Engkos Kosasih, yang memimpin lingkungan dengan 150 Kepala Keluarga, mengungkapkan bahwa sebagian besar warga sudah kehilangan akses ke sumur pribadi. Hitungan kasarnya, hanya sekitar 20 warga di lingkungannya yang memiliki sumur sendiri – dan bahkan mereka pun kini harus bergantung pada SAB karena sumurnya juga sudah tidak mengeluarkan air. “Hanya sedikit warga yang tinggal di dekat sungai yang masih beruntung, sumurnya masih hidup airnya. Yang lain? Semua sudah bergantung pada SAB Aqua,” katanya, menjelaskan bahwa kebutuhan air menjadi masalah utama yang selalu dibahas di rapat RT setiap bulan.
Warga menduga kuat bahwa keringnya sumur-sumur mereka disebabkan oleh pengeboran air tanah yang dilakukan oleh pabrik Aqua di Ciherang. Menurut mereka, pabrik yang membutuhkan air dalam jumlah besar setiap hari telah menyedot air tanah di kawasan sekitarnya, sehingga muka air tanah turun drastis dan membuat sumur warga tidak bisa lagi menangkap air. Beberapa warga bahkan menyebutkan bahwa sebelum pabrik berdiri, muka air tanah di daerah itu cukup dangkal – hanya perlu menggali beberapa meter saja untuk mendapatkan air yang cukup. Sekarang, meskipun menggali sumur hingga kedalaman puluhan meter, tidak ada air yang keluar.
Perasaan tidak puas terhadap kondisi ini semakin membesar di kalangan warga. Banyak dari mereka merasa bahwa air dari SAB yang harus dibayar tidak bisa dianggap sebagai kompensasi yang layak, mengingat mereka telah kehilangan sumber air yang bebas dan terjamin selama bertahun-tahun. “Kita kehilangan sumur yang sudah kita andalkan sejak lama, dan sekarang harus membayar untuk air yang seharusnya diberikan sebagai ganti rugi. Ini tidak adil,” ujar salah satu warga lain, Siti Nurhaliza, yang juga mengalami masalah yang sama.
Meskipun telah menghadapi kesulitan ini selama bertahun-tahun, warga belum pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dari pihak pabrik atau pemerintah daerah tentang penyebab keringnya sumur dan solusi jangka panjang. Beberapa kali, mereka telah mencoba mengajukan keluhan, tetapi tidak ada tanggapan yang memuaskan. Saat ini, mereka hanya bisa bertahan dengan mengandalkan SAB yang terbatas dan membayar biaya yang terus menambah beban ekonomi.
Baca Juga:
Cipare Darurat Narkoba: Keresahan Warga Memuncak Akibat Transaksi Tersembunyi di Belakang Sekretariat FKPPI Banten
Di tengah kegalauan tentang kebutuhan air, warga Kampung Cidereum terus berharap bahwa satu hari nanti, mereka akan kembali mendapatkan akses ke air bersih yang terjamin dan tidak harus membayar mahal. Mereka berharap pihak pabrik dan pemerintah daerah bisa bekerja sama untuk menemukan solusi yang adil, baik dengan memperbaiki SAB agar bisa mengalir sepanjang hari atau menemukan cara untuk memulihkan muka air tanah di kawasan tersebut. Sampai saat itu, deretan galon di dapur akan tetap menjadi temannya setiap hari – sebuah bukti nyata tentang betapa berharganya air bagi kehidupan sehari-hari.









