Menu

Mode Gelap

Wisata · 26 Des 2025 13:53 WIB

Pantai Kunti Palabuhanratu Ditutup, Keindahan Alam Kini Hanya Bisa Dinikmati dari Kejauhan


 Pantai Kunti Palabuhanratu Ditutup, Keindahan Alam Kini Hanya Bisa Dinikmati dari Kejauhan Perbesar

PROLOGMEDIA – Pulau Kunti, yang selama ini dikenal sebagai salah satu permata alam di kawasan Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark di Sukabumi, Jawa Barat, kini hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Sejak resmi ditutup untuk aktivitas manusia pada awal 2024, panorama pasir putih dan formasi batuan vulkanik purba yang memukau itu tidak lagi dapat dijelajahi langsung oleh wisatawan, meskipun pesonanya tetap menarik perhatian banyak orang yang datang ke wilayah selatan Jawa Barat ini.

Pada masa jayanya, Pulau Kunti — meskipun secara administratif lebih tepat disebut tanjung karena terhubung dengan daratan lewat formasi geologi yang unik — adalah destinasi yang wajib dikunjungi oleh pecinta alam dan fotografer. Gugusan batuan tua berusia jutaan tahun yang berbaris seperti dinding alami, berpadu harmonis dengan lautan biru dan hamparan pasir putih di sekitarnya, menciptakan pemandangan yang tak lekang oleh waktu. Namun sayangnya, keindahan itu semakin terancam akibat tekanan manusia yang tidak terkendali.

Penutupan kawasan ini bukanlah keputusan yang diambil secara gegabah. Menurut Kepala Resor Cikepuh, Iwan Setiawan, kebijakan tersebut telah melalui pertimbangan yang matang dan proses sosialisasi panjang kepada masyarakat serta pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Keputusan ini diambil karena berbagai aktivitas yang terjadi selama beberapa tahun terakhir dianggap telah melampaui batas yang diperbolehkan di kawasan konservasi.

Sejak lama, Pulau Kunti memang memiliki status sebagai kawasan konservasi dengan perlindungan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Status ini seharusnya menjamin bahwa segala bentuk kegiatan di pulau dan pantainya membutuhkan izin khusus, bahkan sebelum larangan total diberlakukan. Namun dalam praktiknya, pelanggaran terhadap aturan itu terus terjadi.

Aktivitas ilegal yang marak di kawasan itu menjadi alasan utama penutupan. Pedagang tanpa izin bermunculan dan membuka kios di area yang seharusnya dilindungi, mengganggu struktur ekosistem yang rapuh. Selain itu, munculnya aktivitas perambahan lahan berupa pembukaan kebun singkong dan kebun pisang di sekitar wilayah konservasi semakin memperparah kondisi lingkungan. Perubahan penggunaan lahan seperti ini berdampak negatif terhadap flora dan fauna lokal, serta meningkatkan risiko erosi di area yang sebenarnya harus dilindungi dari gangguan manusia.

Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan lokal, tetapi juga berpotensi mengancam status Geopark Ciletuh Palabuhanratu sebagai salah satu geopark global yang diakui UNESCO. Organisasi yang menaungi situs warisan geologi dan keanekaragaman budaya dunia ini memiliki standar ketat dalam hal pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ancaman terhadap status geopark ini memicu upaya serius dari berbagai pihak untuk memastikan bahwa kawasan tetap berada dalam kondisi terbaiknya.

Sebagai bagian dari proses revalidasi yang dilakukan tim asesor UNESCO pada akhir 2024, pemerintah daerah bersama pengelola Geopark Ciletuh Palabuhanratu dan pelaku usaha perahu wisata menyepakati langkah tegas: mensterilkan Pulau Kunti dari segala bentuk aktivitas manusia langsung. Kesepakatan ini mulai diterapkan sejak 1 Januari 2024 dan tetap berlaku sampai sekarang. Langkah tersebut dinilai krusial demi mempertahankan fungsi ekologis kawasan serta memastikan nilai geopark tetap tinggi di mata komunitas internasional.

Baca Juga:
Polsek Panongan Sikat Jaringan Narkoba Lintas Provinsi, Kapolresta Beri Penghargaan!

Hasilnya, upaya pelestarian ini menunjukkan perkembangan positif. Geopark Ciletuh Palabuhanratu berhasil melalui proses evaluasi pada 2025 dengan hasil yang memuaskan, sehingga statusnya sebagai salah satu geopark global tetap dipertahankan. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi para pendukung pelestarian alam yang selama ini khawatir akan masa depan kawasan warisan geologi yang unik ini.

Meskipun demikian, kebijakan penutupan memberikan dampak yang signifikan bagi sektor pariwisata di wilayah tersebut. Pulau Kunti dulunya menjadi daya tarik yang kuat, menarik ratusan bahkan ribuan wisatawan setiap tahunnya. Kini, kunjungan fisik tidak lagi memungkinkan. Wisatawan harus berpuas diri dengan menikmatinya dari kejauhan, misalnya dengan menaiki perahu wisata yang beroperasi di perairan sekitar. Aktivitas ini masih diperbolehkan, namun wisatawan dilarang keras untuk turun atau menginjakkan kaki di pulau itu sendiri.

Untuk sebagian pelaku usaha pariwisata seperti operator perahu, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang baru. Menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan yang ingin melihat Pulau Kunti dari dekat menjadi fokus utama mereka. Beberapa operator mulai memodifikasi rute wisata atau menambahkan narasi edukatif selama perjalanan, menjelaskan tentang nilai geologi dan pentingnya pelestarian lingkungan kepada para pengunjung. Hal ini tidak hanya memberikan pengalaman yang berbeda, tetapi juga meningkatkan kesadaran wisatawan akan pentingnya menjaga alam.

Pulau Kunti sendiri menyimpan lebih banyak cerita selain pemandangan indahnya. Di kawasan itu terdapat sebuah gua purba yang dikenal masyarakat lokal sebagai “Gua Anti Jomblo”. Gua ini menghadap langsung ke laut dan memiliki cerita legenda yang berakar kuat dalam tradisi masyarakat setempat. Konon, siapa pun yang memasuki gua tersebut akan dipercepat datangnya jodoh. Meskipun cerita ini lebih bersifat folklor daripada fakta ilmiah, mitos itu tetap menjadi bagian menarik dari kekayaan budaya di Pulau Kunti yang kerap dibagikan oleh wisatawan maupun pemandu wisata.

Secara geologis, gua tersebut terbentuk akibat abrasi laut selama jutaan tahun. Gelombang yang terus menghantam tebing bebatuan purba perlahan-lahan menciptakan rongga alami. Suara ombak yang memantul di dalam gua menciptakan gema yang kadang menyerupai tawa, memperkaya daya tarik tempat ini dengan nuansa yang mistis sekaligus memikat.

Walaupun Pulau Kunti kini hanya bisa dilihat dari kejauhan, bukan berarti eksotismenya memudar. Keputusan untuk melindungi dan menjaga kawasan ini mencerminkan komitmen kuat untuk mempertahankan keindahan alam Indonesia bagi generasi masa depan. Dalam era di mana eksploitasi terhadap sumber daya alam kerap mengabaikan konsekuensi jangka panjang, langkah tegas seperti ini menjadi contoh bagaimana pelestarian dan pembangunan wisata dapat berjalan beriringan.

Bagi para pencinta alam dan pemburu pemandangan spektakuler, keindahan Pulau Kunti masih layak menjadi alasan untuk merencanakan kunjungan ke Ciletuh Palabuhanratu. Meski tidak bisa disentuh secara langsung, panorama dari kejauhan tetap mampu menggugah rasa kagum. Cahaya matahari yang menyapu pasir putihnya saat senja tiba, serta debur ombak yang tak henti-hentinya mengusap tepi pantai, terus menjadi saksi bisu tentang betapa berharganya warisan alam yang satu ini.

Baca Juga:
31 Pejabat Fungsional Pemprov Banten Dilantik, Perkuat Birokrasi Profesional dan Berbasis Kinerja

Dengan penutupan ini, Indonesia mengirimkan pesan kuat bahwa pelestarian alam bukan hanya sekadar slogan, tetapi sebuah tindakan nyata yang siap melampaui kepentingan sesaat demi kelestarian jangka panjang. Bagi Pulau Kunti, masa depan yang lebih hijau dan lestari mungkin kini sedang menunggu di cakrawala — tetap memesona, meskipun hanya bisa dilihat dari jauh.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata