Menu

Mode Gelap

Blog · 11 Des 2025 12:27 WIB

Paparan Mikroplastik di Udara Meningkat Akibat Kebiasaan Membakar Sampah Plastik


 Paparan Mikroplastik di Udara Meningkat Akibat Kebiasaan Membakar Sampah Plastik Perbesar

PROLOGMEDIA – Paparan mikroplastik kini menjadi ancaman serius yang semakin sulit dibendung di Indonesia. Polutan halus ini tak lagi terkurung di laut atau sungai, mereka sudah menjalar ke udara, menyatu dalam hujan, bahkan menyusup ke dalam tubuh manusia. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa kebiasaan membakar sampah, terutama plastik, menjadi salah satu sumber utama pencemaran mikroplastik di udara.

 

Hasil riset dari Ecoton bersama SIEJ atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia menunjukkan bahwa partikel-partikel mikroplastik berkomposisi poliolefin, material umum dalam kantong plastik dan kemasan, terdeteksi dengan frekuensi tinggi di udara, terutama di area perkotaan. Penelitian mengungkap bahwa dari seluruh aktivitas yang menyumbang mikroplastik di udara, pembakaran sampah plastik mendominasi penyebab, dengan kontribusi mencapai sekitar 55 persen.

 

Dalam pemantauan terhadap 18 kota di Indonesia, hasilnya sangat mencengangkan, sejumlah kota besar tercatat sebagai titik kritis. Misalnya, di Jakarta ditemukan rata-rata 37 partikel per dua jam selama pengambilan sampel udara, menjadikannya wilayah dengan polusi mikroplastik udara tertinggi. Kota-kota lain seperti Bandung, Semarang, dan Kupang juga termasuk dalam daftar lima besar wilayah terkontaminasi.

 

Peneliti menyatakan bahwa partikel mikroplastik ini dapat terangkat ke atmosfer melalui asap pembakaran, kemudian terbawa angin dan menyebar hingga ratusan kilometer. Ketika bereaksi dengan uap air di udara, partikel ini bisa ikut turun bersama hujan, fenomena yang kini dikenal sebagai hujan mikroplastik.

 

Tak hanya mencemari udara, jejak mikroplastik bahkan ditemukan pada tubuh manusia. Hasil riset kolaboratif antara Greenpeace Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperlihatkan bahwa dari 67 sampel manusia, baik dari urin, darah, maupun feses, 95 persen mengandung mikroplastik, terutama dari jenis plastik PET atau polyethylene terephthalate, yang lazim digunakan untuk botol air kemasan sekali pakai. Sebanyak 204 partikel terdeteksi pada temuan tersebut, terutama pada pengguna kemasan plastik sekali pakai.

 

Efek kesehatan dari paparan ini sangat serius. Menurut Pukovisa Prawirohardjo, peneliti saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, individu yang terpapar mikroplastik menunjukkan risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat. Artinya, kemampuan berpikir, mengingat, dan membuat keputusan bisa tergerus tajam akibat kontaminasi partikel mikroplastik.

Baca Juga:
Energi Bersih Danau Toba: Kisah di Balik Industri Aluminium Kebanggaan Nasional

 

Bahaya mikroplastik tidak terbatas hanya pada sistem saraf. Partikel kecil ini bisa ikut masuk ke dalam rantai makanan. Ketika mikroplastik mencemari tanah, air, atau makanan laut, organisme seperti ikan atau udang bisa menelannya. Dari situ, mikroplastik bisa berpindah ke tubuh manusia yang mengonsumsi hasil laut tersebut. Di dalam tubuh, mikroplastik dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus, komunitas bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain yang penting bagi kesehatan, serta memicu stres oksidatif, yang berisiko merusak sel, sistem kardiovaskular, sistem reproduksi, dan saraf.

 

Situasi ini mencerminkan buruknya pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Volume sampah plastik terus melonjak, global menunjukkan lonjakan dramatis dari 213 juta ton pada tahun 2000 menjadi 460 juta ton pada 2019. Di dalam negeri, data dari SIPSN atau Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat bahwa timbulan sampah plastik meningkat dari 4,38 juta ton pada 2019 menjadi 7,86 juta ton pada 2023.

 

Di tengah situasi yang makin kritis, para peneliti menyerukan perubahan besar, baik dari pemerintah, produsen plastik, maupun masyarakat luas. Pengelolaan sampah harus dilakukan secara benar dan menyeluruh, mulai dari pemilahan sampah di rumah, memperketat larangan penggunaan plastik sekali pakai, serta mendorong penggunaan kemasan yang dapat digunakan ulang.

 

Di level produsen, dibutuhkan tanggung jawab lebih, seperti transparansi komposisi plastik dalam produk serta peta jalan konkret untuk mengurangi produksi kemasan sekali pakai. Tanpa tindakan nyata, partikel mikroplastik, yang awalnya tampak sepele, akan terus menumpuk di udara, tanah, dan tubuh manusia, membawa dampak jangka panjang yang sulit dibayangkan.

 

Membersihkan polusi plastik bukan tugas ringan. Tapi pengelolaan yang tepat dari darat, bukan membakar sampah, adalah kunci untuk mencegah mikroplastik menyebar lebih luas.

 

Baca Juga:
Liburan di Bandung? Wajib Coba Kue Balok Kekinian di Sikomo Antapani

Krisis mikroplastik di udara bukan sekadar soal sampah, ini soal udara yang kita hirup, air hujan yang kita sentuh, makanan yang kita makan, dan kesehatan kita, sekarang dan masa depan. Tanpa perubahan mendasar dalam kebiasaan dan kebijakan, mikroplastik bisa menjadi ancaman tak terlihat yang terus menghantui kehidupan sehari-hari.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog