PROLOGMEDIA – Menjelang akhir tahun, ketika seluruh dunia bersiap menyambut liburan Natal dan Tahun Baru, ada fenomena tak biasa yang terjadi di salah satu pusat kuliner dan budaya paling ikonik di Tokyo, Jepang. Di tengah ramainya rutinitas wisata, sebuah pasar tradisional yang sudah lama menjadi magnet bagi para pelancong dari seluruh penjuru dunia justru mengeluarkan permintaan yang mengejutkan: mereka meminta turis untuk tidak datang, khususnya pada bulan Desember yang biasanya dipenuhi oleh gelombang wisatawan. Permintaan ini bukan tanpa alasan. Justru di balik ajakan tersebut tersimpan cerita penting tentang keseimbangan antara tradisi lokal, keselamatan publik, dan tantangan pariwisata massal di era modern.
Pasar yang dimaksud bukanlah sekadar pasar biasa. Ia adalah bagian dari Tsukiji Outer Market, kawasan pasar yang sangat terkenal di Tokyo, tempat di mana sejarah kuliner Jepang bertemu dengan arus wisata global. Meski pasar pelelangan ikan yang legendaris telah dipindahkan ke Toyosu pada 2018, bagian luar pasar ini masih dipenuhi oleh jaringan toko kecil, warung sushi, pedagang makanan jalanan, dan kios yang menjajakan bahan makanan premium dan makanan siap santap. Tempat ini sejak lama menjadi jantung budaya makanan Jepang dan tujuan utama bagi wisatawan yang ingin merasakan keaslian kuliner lokal. Aroma sushi segar, hiruk‑pikuk pedagang yang memanggil pembeli, serta deretan produk laut yang dipajang membuat Tsukiji menjadi bagian penting dalam perjalanan banyak pelancong ke Tokyo.
Namun, dengan semakin populernya Tokyo sebagai tujuan wisata dunia — didorong oleh kebijakan visa yang lebih longgar, lemahnya nilai yen yang membuat biaya perjalanan relatif lebih menarik, serta meningkatnya minat budaya Jepang secara global — jumlah pengunjung asing yang datang ke Jepang terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Jepang mencatat rekor jumlah wisatawan yang mengunjungi negaranya, dengan puluhan juta turis asing setiap tahunnya. Tren ini tidak hanya terjadi di lokasi‑lokasi wisata besar seperti Kyoto dan Gunung Fuji, tetapi juga di kawasan perdagangan tradisional seperti Tsukiji.
Masalah mulai terasa ketika bulan Desember tiba, bulan ketika masyarakat Jepang bersiap menyambut Oshogatsu — tahun baru tradisional yang sangat penting dalam kalender budaya Jepang. Pada periode ini, masyarakat lokal dan pedagang dari seluruh Jepang datang ke pasar untuk membeli bahan makanan dan makanan khas untuk perayaan, mulai dari ikan segar berkualitas tinggi hingga bahan masakan yang akan disajikan di meja makan di malam pergantian tahun. Ini adalah tradisi yang telah berlangsung lama dan memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan masyarakat Jepang. Namun, kombinasi antara tradisi domestik ini dan lonjakan wisatawan internasional menciptakan kepadatan yang luar biasa di sepanjang gang sempit pasar.
Dalam kondisi normal, Tsukiji Outer Market memang selalu ramai. Gang‑gang antara kios sempit itu dirancang untuk pejalan kaki, bukan ribuan orang yang bergerak secara bersamaan. Namun desakan lebih banyak wisatawan — terutama kelompok tur yang datang bersama‑sama untuk berjalan sambil mencicipi makanan, berfoto, atau sekadar menikmati suasana — membuat area ini berubah menjadi sangat padat dan hampir tidak bisa dilalui. Sementara wisatawan individual cenderung bergerak cepat dan fleksibel, kelompok besar dengan pemandu cenderung mengambil ruang yang lebih luas dan sering berhenti di titik‑titik tertentu, sehingga arus pengunjung menjadi sangat terhambat.
Baca Juga:
Teknologi Mengudara: Drone Bantu Petani Tanam Padi Lebih Cepat & Efisien
Kondisi ini mengundang kekhawatiran tidak hanya dari sisi tradisi pasar yang mulai terganggu tetapi juga dari sisi keselamatan publik. Gang yang sempit, lalu lintas pejalan kaki yang padat, dan berhentinya arus orang untuk foto atau menjelaskan sesuatu kepada grup mereka dapat menciptakan situasi berbahaya. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar: di tempat lain di Tokyo, seperti persimpangan Shibuya yang terkenal sebagai salah satu yang tersibuk di dunia, otoritas setempat pernah meminta wisatawan untuk tidak berkumpul dalam jumlah besar pada periode tertentu seperti Halloween karena risiko keselamatan dan gangguan pada kehidupan warga. Ini mencerminkan bagaimana kota besar pun kerap berupaya menyeimbangkan antara keramahan terhadap wisatawan dan menjaga kenyamanan serta keamanan publik.
Karena itu, dewan pengelola pasar tersebut membuat keputusan luar biasa untuk meminta agen tur dan grup wisatawan agar menunda kunjungan mereka di bulan Desember. Mereka menegaskan bahwa permintaan ini bukan untuk melarang kedatangan wisatawan secara total, melainkan lebih kepada upaya menjaga keselamatan dan memastikan tradisi lokal tetap dapat dijalankan dengan baik oleh pembeli domestik yang datang untuk persiapan tahun baru. Wisatawan independen tetap dipersilakan, dengan catatan bahwa mereka harus memahami dan menghormati situasi setempat serta tidak berhenti lama di jalur utama pasar atau menghalangi arus lalu lintas lainnya.
Permintaan ini secara implisit mengakui bahwa overtourism — yaitu fenomena di mana lokasi wisata menerima jumlah pengunjung melebihi kapasitas yang aman atau nyaman — bukan hanya masalah bagi kota‑kota kecil atau atraksi alam, tetapi juga pasar urban tradisional di tengah ibu kota modern seperti Tokyo. Para pedagang sendiri memiliki pandangan yang beragam: beberapa sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan internasional, sementara yang lain merasa bahwa kerumunan wisatawan besar menghambat pelanggan reguler mereka yang datang untuk belanja tradisional. Bagi banyak warga Jepang, pasar seperti Tsukiji lebih dari sekadar objek wisata; ini adalah bagian dari keseharian dan identitas budaya mereka yang harus tetap hidup.
Menariknya, permintaan ini juga menunjukkan pendekatan yang halus dan menghormati antara pihak pasar dan wisatawan. Alih‑alih menetapkan larangan tegas yang bisa menciptakan ketegangan atau kesan tidak ramah, pasar memilih untuk menyampaikan permintaan secara langsung kepada penyelenggara tur. Ini menunjukkan upaya mencari solusi yang seimbang: menjaga tradisi lokal dan keselamatan, sambil tetap mempertahankan hubungan baik dengan komunitas wisata global yang selama ini membantu memperkenalkan keunikan Jepang kepada dunia.
Fenomena ini pun memicu refleksi yang lebih luas tentang cara pariwisata dikelola di era modern. Di satu sisi, arus wisata internasional memberikan manfaat ekonomi yang besar dan memperkaya pengalaman budaya bagi pelancong dan penduduk lokal. Namun di sisi lain, tanpa adanya perencanaan dan pengelolaan yang tepat, lonjakan kunjungan bisa mengubah pengalaman itu menjadi beban dan bahkan mengancam identitas serta fungsi tempat‑tempat yang ramai dikunjungi. Kasus Tsukiji menjadi contoh bagaimana sebuah komunitas lokal berusaha mempertahankan keseimbangan tersebut — bukan dengan menutup pintu, tetapi dengan mengajak semua pihak untuk lebih berpikir tentang waktu, cara, dan dampak kehadiran mereka.
Baca Juga:
Manfaat Menaburkan Garam di Pintu Masuk Rumah: Trik Sederhana untuk Kebersihan dan Energi Positif
Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Jepang pada periode liburan akhir tahun mendatang, narasi ini menjadi pengingat bahwa pariwisata yang bertanggung jawab tidak hanya soal melihat sebanyak mungkin tempat dalam daftar kunjungan, tetapi juga memahami konteks lokal, menghormati tradisi setempat, dan bergerak dengan penuh kesadaran terhadap lingkungan serta komunitas yang dikunjungi. Di dunia yang semakin terhubung, pengalaman terbaik sering kali datang dari interaksi yang penuh hormat dan saling menghargai antara budaya yang berbeda.









