Menu

Mode Gelap

Berita · 15 Des 2025 13:12 WIB

Penemuan Ikan Endemik Baru di Sungai Mahakam Tambah Kekayaan Biodiversitas Kalimantan


 Penemuan Ikan Endemik Baru di Sungai Mahakam Tambah Kekayaan Biodiversitas Kalimantan Perbesar

PROLOGMEDIA – Di jantung pulau Kalimantan, mengalir sebuah sungai yang telah menjadi nadi kehidupan masyarakat, jalur transportasi dan ekosistem yang kaya akan berbagai makhluk hidup. Sungai Mahakam, dikenal dengan panjangnya yang mencapai ratusan kilometer dan melewati berbagai wilayah administratif, mulai dari daerah hulu hingga bermuara ke Selat Makassar, kini kembali menarik perhatian dunia sains. Kali ini bukan karena mamalia besar atau fenomena ekologis besar, melainkan karena penemuan makhluk yang begitu kecil—namun memiliki makna besar bagi ilmu pengetahuan dan upaya pelestarian alam. Sebuah spesies ikan air tawar baru telah resmi diidentifikasi dan dinamai, menambah daftar panjang kekayaan biodiversitas sungai ini.

Ikan tersebut diberi nama Desmopuntius mahakamensis, sebuah nama ilmiah yang merujuk langsung pada asalnya: Sungai Mahakam. Sebelumnya ikan ini dikira sebagai anggota takson Puntius sp., atau yang sering disebut sebagai striped puntius, karena pola garis horizontal yang jelas terlukis di sepanjang tubuhnya. Namun setelah pemeriksaan ilmiah yang lebih mendalam, para peneliti kemudian memastikan bahwa spesimen ini sebenarnya berbeda dan termasuk dalam genus Desmopuntius, sehingga layak diberi nama dan status sebagai spesies baru.

Kelompok ilmuwan Indonesia yang melakukan studi ini terdiri dari para ahli taksonomi dan evolusi dari berbagai institusi riset nasional dan universitas. Di antaranya adalah Tonisman Harefa, Haryono, Rudhy Gustiano, Gema Wahyudewantoro, serta Tedjo Sukmana. Mereka bekerja sama secara intensif untuk mengumpulkan, mengukur, dan menganalisis ratusan spesimen yang diambil dari berbagai titik di daerah aliran Sungai Mahakam. Sebagian besar spesimen dikumpulkan dari dua danau—Lake Wis dan Lake Jempang—serta dari beberapa aliran kecil yang berkontribusi pada sistem anak sungai utama Mahakam.

Desmopuntius mahakamensis sendiri merupakan ikan yang berukuran kecil. Tubuhnya biasanya kurang dari sembilan sentimeter panjangnya dan kurang dari dua sentimeter lebarnya, menjadikannya makhluk yang cukup ringkih di mata normal manusia, tetapi penuh karakter dalam dunia ilmiah. Matanya relatif besar dibanding ukuran tubuhnya, sementara mulutnya kecil dan sedikit tumpul. Selain itu, ikan ini memiliki sungut pendek di bawah mulutnya, serta sirip yang lengkap di berbagai bagian tubuh seperti punggung, dada, perut, dan ekor.

Yang paling menarik dari spesies ini adalah pola warna yang menghiasi tubuhnya. Secara umum, warnanya didominasi oleh kombinasi kuning keabu-abuan hingga keperakan dengan lima hingga enam garis horizontal berwarna hitam yang menjadi ciri khasnya. Sirip dan ekornya memancarkan warna kuning sampai oranye yang lebih transparan, sehingga saat dilihat di bawah sinar, ikan ini tampak begitu mencolok di antara vegetasi dan dasar sungai. Pola warna ini tidak hanya estetis, tetapi juga menjadi salah satu karakter morfologis utama yang digunakan ilmuwan untuk membedakannya dari kerabatnya yang lain.

Baca Juga:
Sejarah Panjang Kasunanan Surakarta: Mengenang Para Raja Keraton Solo

Secara taksonomi, Desmopuntius mahakamensis tergolong dalam keluarga Cyprinidae, yaitu satu kelompok besar yang juga mencakup ikan-ikan populer seperti ikan mas (Cyprinus carpio) dan koi. Bila dilihat secara sekilas, bentuk tubuhnya yang bercorak menyerupai ikan tiger barb yang sering ditemui di akuarium hias. Tidak heran jika beberapa penggemar ikan hias menganggapnya ideal sebagai ikan hias kecil ketimbang sebagai ikan konsumsi.

Dalam klasifikasi ilmiah, Desmopuntius mahakamensis kini menjadi anggota ke‑sembilan dari genus Desmopuntius, yang sebelumnya terdiri dari delapan spesies lain yang tersebar di sungai dan anak sungai di pulau‑pulau besar di Indonesia seperti Sumatera dan Kalimantan. Penemuan ini tidak hanya menambah jumlah spesies dalam genus tersebut, tetapi juga memberikan gambaran baru tentang keanekaragaman ikan air tawar di kawasan ini yang masih sebagian besar belum terungkap.

Penelitian untuk memastikan keunikan spesies ini tidak hanya menggunakan metode observasi morfologi permukaan tubuh. Para peneliti juga menerapkan alat ukur morfometrik canggih, hingga mengukur perbedaan hingga 0,1 mm, serta menggunakan teknik statistik seperti analisis diskriminan linier (LDA) untuk menetapkan klasifikasi yang akurat. Mereka juga melakukan pendekatan molekuler dengan mengurut DNA spesimen. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan genetik antara D. mahakamensis dan kerabat terdekatnya berkisar antara 7,2 hingga 13 persen—angka yang cukup signifikan dalam taksonomi ikan dan menunjukkan bahwa ini benar‑benar spesies yang unik dan berbeda.

Selain aspek ilmiah yang menarik, penemuan ini menimbulkan refleksi yang lebih luas berkaitan dengan kondisi lingkungan sungai. Sungai Mahakam merupakan salah satu sungai terbesar di Indonesia dan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat lokal sejak zaman dahulu, termasuk dalam bidang perikanan, transportasi, dan budaya. Namun dalam beberapa dekade terakhir, ekosistem sungai ini menghadapi ancaman yang semakin serius, seperti pendangkalan, polusi air, deforestasi di hulu, serta tekanan dari aktivitas pertambangan dan perdagangan hasil hutan. Kesemuanya berpotensi mengubah struktur habitat alami yang telah terbangun selama ribuan tahun, bahkan bisa mengancam keberlangsungan ikan‑ikan endemik yang baru diketahui ini.

Keberadaan D. mahakamensis pun menjadi simbol penting tentang bagaimana organisme kecil yang tampaknya remeh dapat memberi gambaran besar tentang keadaan lingkungan mereka. Di tengah upaya konservasi yang selama ini lebih banyak memberi perhatian kepada satwa besar seperti pesut Mahakam—mamalia air yang kini populasinya dilaporkan tinggal puluhan individu dalam status sangat kritis—penemuan ikan kecil ini mengingatkan bahwa ancaman ekologis juga berdampak pada spesies yang lebih kecil dan sering tak terlihat.

Baca Juga:
Warisan Sehat Nusantara: Ragam Jamu Tradisional dan Khasiat Alaminya

Ketika masyarakat dan ilmuwan mulai mengapresiasi berbagai temuan baru seperti Desmopuntius mahakamensis, itulah saatnya kita menyadari betapa rapuhnya jaringan kehidupan di sungai ini. Perlindungan terhadap sungai bukan hanya berarti menyelamatkan satu atau dua spesies besar, tetapi juga menjaga habitat yang menjadi rumah bagi ribuan organisme kecil yang masing‑masing berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita