PROLOGMEDIA – Dunia ilmu pengetahuan kembali dikejutkan oleh sebuah penemuan luar biasa di jantung hutan tropis Papua Nugini. Di tengah rapatnya pepohonan karst dan kontur pegunungan Southern Fold yang terpencil, sekumpulan ilmuwan berhasil mendeteksi adanya spesies burung pengicau yang sebelumnya belum pernah dikenal oleh dunia sains. Penemuan ini bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati yang menakjubkan di wilayah itu, tetapi juga membuka kembali pintu bagi penelitian mendalam tentang kehidupan liar yang tersembunyi jauh di dalam hutan yang belum terjamah manusia.
Selama bertahun–tahun, para peneliti dari berbagai lembaga riset, termasuk Australian Museum Research Institute, telah menaruh perhatian besar pada kelompok burung kecil dari famili Cinclosomatidae yang dikenal sebagai jewel-babblers atau burung pengicau permata, yang karakteristiknya unik dan sering kali sulit diamati secara langsung di alam liar. Spesies–spesies dalam genus Ptilorrhoa ini terkenal karena bentuk tubuhnya yang gemuk, sayap pendek, serta corak warna bulunya yang memikat, dengan motif warna biru atau cokelat kemerahan yang kontras dengan wajah yang terlihat seperti memakai topeng hitam dan bercak putih di bagian pipi atau tenggorokan. Meskipun suaranya cukup lantang, mereka memiliki perilaku pemalu, lebih sering terdengar daripada terlihat oleh peneliti lapangan.
Penemuan yang kini menggemparkan komunitas ilmiah ini muncul dari studi berjudul “A new species of jewel-babbler (Cinclosomatidae: Ptilorrhoa) from the Southern Fold Mountains of Papua New Guinea”, yang dipublikasikan di jurnal Ibis pada 26 November 2025. Studi ini merangkum periode panjang pengamatan melalui kamera jebak yang dipasang di area hutan terpencil. Atas dasar dokumentasi intensif tersebut, ilmuwan berhasil mengidentifikasi keberadaan burung pengicau yang selama ini tidak memiliki deskripsi ilmiah formal.
Proses penemuan ini sendiri bukan tanpa tantangan. Sejak tahun 2017, tim peneliti memasang kamera jebak di lereng Iagifu Ridge, kawasan antiklin batu kapur berhutan di ujung tenggara pegunungan Agogo. Di lokasi yang sulit diakses ini, kamera–kamera tersebut merekam gambar–gambar kehidupan liar secara otomatis selama lebih dari 1.800 hari, melewati empat periode pengamatan utama: 2017, 2019, 2021, dan 2024. Selama periode ini, dari ribuan foto yang diambil, terdapat 94 gambar serta tujuh video berdurasi sekitar 30 detik yang menangkap sosok burung misterius yang kemudian diklasifikasikan sebagai spesies baru.
Berdasarkan hasil analisis foto–foto tersebut, komunitas ilmuwan menyimpulkan bahwa sosok itu berbeda dari burung–burung jewel-babbler yang telah dikenal sebelumnya. Mereka pun menamai spesies baru ini dengan nama Ptilorrhoa urrissia, atau lebih dikenal sebagai jewel-babbler permata berkerudung, yang diambil dari nama lokal “Urrissia” di kawasan Pegunungan Iagifu, tempat spesies ini terdeteksi. Penamaan ini sekaligus mencerminkan lokasi geografis dan keunikan habitatnya yang tersembunyi jauh dari peradaban manusia modern.
Temuan ini menjadi momen penting karena menambah jumlah spesies dalam genus Ptilorrhoa yang sebelumnya sudah mencakup empat spesies lain, masing–masing memiliki adaptasi dan wilayah sebaran tertentu di Papua Nugini. Kelompok–kelompok tersebut meliputi Ptilorrhoa caerulescens yang hidup di dataran rendah, Ptilorrhoa castanonota di perbukitan rendah, Ptilorrhoa leucosticta di hutan pegunungan, serta Ptilorrhoa geislerorum yang memiliki dua populasi terpisah. Namun, Ptilorrhoa urrissia menambahkan dimensi baru terhadap pemahaman kita mengenai variasi evolusi dan ekologi di antara burung–burung permata ini.
Baca Juga:
Banjir Rob 20 Cm Genangi RE Martadinata Jakarta Utara, Arus Lalu Lintas Sempat Macet Pagi Ini
Meskipun dokumentasinya sudah kuat, jumlah individu Ptilorrhoa urrissia di alam liar tampaknya sangat kecil. Berdasarkan hasil kamera jebak dan pengamatan berkelanjutan selama beberapa tahun, diperkirakan populasi mereka di alam liar kurang dari sepuluh ekor secara total. Burung–burung ini tampak hidup sendiri–sendiri, berpasangan, atau dalam kelompok kecil di area laba–laba tujuh hektare yang menjadi lokasi pengamatan utama. Perilaku sosial seperti ini mengisyaratkan bahwa spesies ini memiliki struktur kehidupan yang sangat spesifik dan mungkin rentan terhadap perubahan habitat.
Peneliti juga berspekulasi bahwa habitat potensial yang dapat dihuni spesies ini kemungkinan terbatas pada area–area tertentu antara Gunung Bosavi dan Gunung Karimui di bagian selatan Papua Nugini. Wilayah–wilayah yang kaya akan hutan karst dan bentang alam yang kompleks ini bisa menjadi kantong–kantong kecil tempat Ptilorrhoa urrissia bertahan hidup, tetapi akses untuk mempelajari mereka secara langsung tetap menjadi tantangan besar karena kondisi geografis yang sulit dijangkau serta perilaku pemalu burung tersebut.
Selain itu, salah satu aspek yang membuat spesies ini unik adalah suara atau vokalisasinya. Sampai saat ini, para peneliti belum berhasil mendengar suara khas Ptilorrhoa urrissia. Ini berbeda dengan beberapa kerabatnya yang lebih vokal. Ketidakmampuan untuk mendeteksi suara ini melalui alat perekam lapangan menunjukkan bahwa burung ini mungkin memiliki pola komunikasi yang sangat jarang terdengar atau hanya terjadi dalam kondisi tertentu, yang bisa menjadi fokus penelitian masa depan.
Namun, di balik keindahan dan nilai ilmiahnya, Ptilorrhoa urrissia menghadapi sejumlah ancaman nyata. Predator alami seperti elang, marsupial pemangsa kecil, dan burung hantu agresif termasuk di antara ancaman utama yang dihadapi burung ini. Selain itu, predator yang dibawa manusia seperti kucing domestik dan anjing juga terdeteksi melalui rekaman kamera jebak sebagai ancaman terhadap burung yang bersarang di tanah seperti jewel-babbler. Ancaman semacam ini terus mempersempit peluang bertahan hidup burung–burung langka ini di alam liar.
Lebih jauh lagi, perubahan iklim menjadi ancaman global yang serius bagi Ptilorrhoa urrissia dan spesies burung pegunungan tropis lainnya. Pemanasan global dapat merubah struktur vegetasi dan iklim mikro di kawasan pegunungan, mengubah ketersediaan sumber makanan serta tempat berlindung bagi spesies–spesies dengan kemampuan penyebaran yang rendah seperti burung ini. Karena mereka tidak dapat berpindah ke ketinggian lebih tinggi dengan mudah, perubahan lingkungan dapat mengakibatkan penurunan drastis dalam populasi mereka.
Baca Juga:
Kapolres Serang Sigap Bantu Korban Kebakaran di Petir
Penemuan Ptilorrhoa urrissia tidak hanya menggugah kekaguman terhadap keanekaragaman hayati Papua Nugini, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya pelestarian habitat alami yang masih tersisa di dunia. Di tengah ancaman ekstensi dan kerusakan habitat yang terus meningkat, temuan ini menjadi seruan bagi komunitas global untuk lebih serius dalam menjaga dan mempelajari kekayaan alam yang masih tersisa—kehidupan liar yang mungkin belum pernah kita dengar, lihat, atau pahami sepenuhnya.









