PROLOGMEDIA – Pada pekan pertama Desember 2025, suasana duka dan tantangan masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Aceh setelah diterjang banjir besar dan tanah longsor yang meluluhlantakkan rumah-rumah, memutus akses jalan, serta menyisakan limpahan kayu gelondongan dan material berat lainnya yang memenuhi permukiman warga. Di tengah upaya pemulihan pascabanjir, sebuah langkah tak biasa diambil oleh otoritas setempat: empat ekor gajah Sumatera terlatih dikerahkan untuk membantu membersihkan tumpukan kayu besar dan puing bekas banjir di Kabupaten Pidie Jaya, daerah yang menjadi salah satu episentrum bencana.
Langkah ini memicu perdebatan luas di tengah masyarakat dan berbagai kalangan pemerhati satwa. Di satu sisi, gajah-gajah yang dikenal sebagai “tenaga berat alami” tersebut terlihat mampu membuka kembali akses jalan yang sebelumnya tertutup rapat oleh kayu dan lumpur, membantu tim tanggap darurat menjangkau rumah penduduk, serta mempermudah distribusi bantuan ke wilayah yang sebelumnya terisolasi oleh material sisa banjir. Namun di sisi lain, pemerhati konservasi dan sejumlah tokoh masyarakat menilai penggunaan hewan dilindungi ini sebagai tindakan yang problematis dan bermasalah secara etika.
Empat gajah yang masing-masing bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni diambil dari pusat latihan gajah terlatih di Aceh Besar dan dipandu oleh mahout atau pawang yang berpengalaman. Menurut pihak berwenang, mereka dipilih karena kemampuan fisik gajah yang besar serta pengalaman panjang dalam membantu operasi penanganan bencana di masa lalu, termasuk pembersihan puing pascatsunami di Aceh pada tahun 2004 yang masih diingat banyak orang sebagai salah satu tanggap bencana terbesar di sejarah Indonesia.
Para gajah ini bekerja bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh di desa-desa seperti Meunasah Bie, Meurah Dua, dan Meureudu, lokasi-lokasi yang aksesnya sulit dilalui oleh alat berat seperti ekskavator atau truk besar. Di wilayah yang lebih sempit dan terjal, gajah-gajah tersebut terlihat menyingkap kayu gelondongan yang tersangkut di sekitar rumah penduduk, menarik potongan log besar, serta membuka kembali jalur yang sebelumnya tertutup rapat oleh material banjir. Bagi banyak warga setempat, kehadiran makhluk besar ini memberi secercah harapan di tengah keterpurukan.
Seorang warga mengaku sangat terbantu dengan kehadiran gajah-gajah tersebut. Rumahnya yang tertimbun kayu dan lumpur akhirnya dapat dibersihkan setelah jalur menuju permukiman dibuka kembali. Tanpa bantuan itu, warga merasa proses pembersihan akan berlangsung jauh lebih lama dan berisiko.
Namun, di balik apresiasi sebagian warga, kritik tajam datang dari aktivis konservasi dan pemerhati hak hewan. Mereka menilai gajah bukanlah alat pengganti ekskavator atau mesin berat lainnya. Lingkungan pascabanjir yang dipenuhi kayu tajam, puing bangunan, dan material berbahaya dinilai sangat berisiko bagi keselamatan satwa dilindungi tersebut.
Baca Juga:
Air Bah Mengamuk di Tengah Malam — Kota Tenggelam, Mayat Bergeletakan
Para kritikus juga menyoroti ironi bahwa banjir besar yang melanda Aceh turut merusak habitat alami gajah di hutan. Satwa yang seharusnya dilindungi dan dibiarkan hidup di alam justru diminta membantu membersihkan kerusakan lingkungan yang juga berdampak langsung pada ruang hidup mereka sendiri.
Seorang pakar kedokteran hewan dari universitas ternama menjelaskan bahwa meskipun gajah dikenal kuat secara fisik, kondisi lingkungan ekstrem dapat memicu cedera, stres, serta gangguan kesehatan jangka panjang. Risiko tersebut meningkat apabila gajah bersentuhan dengan material berbahaya atau bekerja dalam tekanan psikologis akibat keramaian dan suara alat berat.
Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip kesejahteraan hewan yang mencakup kebebasan dari rasa sakit, ketakutan, dan tekanan. Menurutnya, pengerahan satwa dalam kondisi darurat harus dilakukan secara sangat terbatas dan dengan pengawasan ketat agar tidak melanggar prinsip tersebut.
Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh menyatakan telah mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesejahteraan satwa sebelum pengerahan dilakukan. Gajah-gajah tersebut hanya bekerja dalam durasi singkat setiap hari dan berada di bawah pengawasan pawang berpengalaman serta tim medis. Lokasi kerja juga disebut telah disterilkan dari benda tajam yang berpotensi melukai satwa.
Meski demikian, kritik tetap bergulir. Sejumlah aktivis mendesak pemerintah agar lebih memprioritaskan penggunaan alat berat dan memperkuat sistem penanganan bencana yang tidak bergantung pada tenaga satwa dilindungi. Mereka menilai kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius dalam kebijakan mitigasi dan pemulihan bencana ke depan.
Perdebatan ini juga menyita perhatian figur publik dan masyarakat luas yang menilai perlindungan satwa harus tetap menjadi prioritas, bahkan dalam situasi darurat. Di sisi lain, warga terdampak berharap proses pemulihan wilayah mereka terus berjalan cepat dan aman, mengingat kerusakan akibat banjir masih menyisakan pekerjaan panjang.
Baca Juga:
Masyarakat Geruduk PT Inalum: Tuntut Keadilan untuk Pengusaha Lokal dan Lingkungan!
Banjir besar yang melanda Aceh telah menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lingkungan, kesiapsiagaan bencana, serta keseimbangan antara kebutuhan manusia dan perlindungan satwa. Banyak pihak berharap peristiwa ini mendorong lahirnya kebijakan yang lebih bijak, manusiawi, dan berkelanjutan dalam menghadapi bencana di masa mendatang.









