Menu

Mode Gelap

Berita · 11 Nov 2025 06:42 WIB

Perburuan ‘Harta Karun’ Rp 216 Triliun di Bawah Laut: Siapa Saja yang Terlibat?


 Perburuan ‘Harta Karun’ Rp 216 Triliun di Bawah Laut: Siapa Saja yang Terlibat? Perbesar

JAKARTA, 11 November 2025 – Di era digital yang serba cepat ini, konektivitas internet bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan nadi yang memompa kehidupan ekonomi dan sosial. Di balik layar gawai pintar dan kemudahan akses informasi, terbentang sebuah infrastruktur raksasa yang seringkali terlupakan: kabel bawah laut.

Kini, jaringan kabel bawah laut ini menjelma menjadi “harta karun” baru yang diperebutkan oleh raksasa teknologi dunia, dengan nilai investasi yang diprediksi mencapai US$13 miliar atau setara dengan Rp 216 triliun.

Jejak sejarah kabel bawah laut sendiri telah terentang sejak ratusan tahun lalu. Pada tahun 1850, kabel bawah laut telekomunikasi komersial pertama digunakan untuk telegraf, menghubungkan Dover, Inggris, dengan Calais, Perancis, melalui Selat Inggris.

Sejak saat itu, teknologi kabel bawah laut terus berkembang pesat, dari sekadar pengirim pesan telegraf menjadi tulang punggung komunikasi global yang mendukung transaksi keuangan, email, panggilan video, hingga layanan streaming yang kita nikmati sehari-hari.

Namun, dalam satu dekade terakhir, lanskap industri kabel bawah laut mengalami perubahan signifikan. Munculnya pemain-pemain baru, yaitu raksasa teknologi seperti Meta (Facebook), Google, dan Amazon, telah mengubah peta persaingan.

“Sekitar sepuluh tahun lalu, kami melihat munculnya kategori besar lain, yakni pemain skala web dan sejenisnya, Meta, Google, Amazon, dll, yang sekarang mewakili 50% dari keseluruhan pasar,” jelas Paul Gabla, kepala penjualan di Alcatel Submarine Networks

Investasi Menggila Didorong AI

Lonjakan investasi di bisnis kabel bawah laut ini dipicu oleh perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Raksasa teknologi dunia berlomba-lomba membangun infrastruktur kabel bawah laut untuk mendukung kebutuhan konektivitas AI yang sangat besar.

Alex Aime, wakil presiden investasi jaringan Meta, menjelaskan bahwa tanpa infrastruktur bawah laut yang memadai, pusat data dan komputasi AI hanya akan menjadi “gudang yang sangat mahal.”

Baca Juga:
Kebangkitan Banteng Jawa di Pangandaran dan Harapan Baru bagi Wisata Edukasi Konservasi

“Sering kali, saat memikirkan AI, mereka memikirkan pusat data, komputasi dan data. Namun kenyataannya, tanpa konektivitas yang menghubungkan pusat-pusat data itu, yang ada hanya gudang sangat mahal,” kata Aime.

Meta sendiri telah mengumumkan proyek ambisius bernama Watermorth, sebuah kabel bawah laut sepanjang 50 ribu km yang akan menghubungkan lima benua di dunia. Proyek bernilai multi-miliar dolar ini akan menjadi kabel bawah laut terpanjang yang pernah dibangun.

Tidak ketinggalan, Amazon juga baru saja mengumumkan proyek Fastnet, yang akan menghubungkan pantai timur Maryland, AS, ke County Cak, Irlandia. Infrastruktur ini akan memiliki kapasitas lebih dari 320 terabit per detik, yang setara dengan kemampuan streaming 12,5 juta film HD secara bersamaan.

Sementara itu, Google telah berinvestasi dalam lebih dari 30 kabel laut, termasuk proyek Sol yang akan menghubungkan beberapa wilayah di AS, Bermuda, Azores, dan Spanyol.

Indonesia dalam Pusaran Persaingan

Lalu, bagaimana posisi Indonesia dalam pusaran persaingan “harta karun” bawah laut ini? Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tentu memiliki kepentingan strategis dalam pengembangan infrastruktur kabel bawah laut. Konektivitas yang memadai akan membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta memperkuat integrasi nasional.

Beberapa tahun lalu, Facebook dan Google telah mengumumkan proyek pembangunan kabel bawah laut yang menghubungkan Amerika Serikat dengan Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kecepatan dan kualitas internet di Indonesia, serta membuka akses ke informasi dan peluang global bagi masyarakat Indonesia.

Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia juga tidak kecil. Pembangunan infrastruktur kabel bawah laut membutuhkan investasi yang besar, teknologi yang canggih, serta regulasi yang mendukung. Selain itu, Indonesia juga perlu memastikan bahwa pembangunan kabel bawah laut tidak merusak lingkungan laut dan tidak mengganggu aktivitas nelayan tradisional.

Persaingan dalam bisnis kabel bawah laut ini diprediksi akan semakin ketat di masa depan. Raksasa teknologi dunia akan terus berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur ini untuk mendukung kebutuhan konektivitas AI dan layanan digital lainnya.

Baca Juga:
Rayap Mengancam Rumah? Ini Cara Mudah dan Efektif Membasminya Tanpa Ribet

Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk memanfaatkan peluang ini, sekaligus mengatasi tantangan yang ada, agar dapat menjadi pemain penting dalam peta persaingan “harta karun” bawah laut ini.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita