PROLOGMEDIA – Seorang pensiunan guru, Mushoddiq (65), yang dulunya menggantungkan harapan besar pada tabungan pensiun dan janji manis investasi, kini harus memulai kembali dari titik nol. Tabungan dan dana pensiunnya habis setelah terjerat investasi bodong — sebuah penipuan yang memakan korban para pensiunan dan guru di Indonesia — dan membuat hari-harinya berubah drastis.
Setelah merasa kehilangan segalanya, ia memilih bangkit dengan cara sederhana: membuka lapak koran dan majalah di sudut jalan. Dari sana, ia berusaha menenukkan kehidupan meskipun penghasilannya jauh dari kata cukup, jauh dari pengharapan masa pensiunnya dulu. Untuk generasi yang sudah seharusnya bisa menikmati masa tenang setelah puluhan tahun mengabdi, perubahan ini sungguh memilukan.
Kisah Mushoddiq hanyalah salah satu dari sekian banyak korban penipuan investasi yang mengincar masyarakat rentan — khususnya pensiunan, guru, dan warga nonproduktif yang berharap “tambah penghasilan.” Menurut laporan terkini dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kerugian korban penipuan daring di Indonesia telah menembus angka luar biasa: sejak dibentuknya satuan tugas anti-scam, total kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 7,3 triliun. Korban tidak melulu muda atau pekerja aktif — banyak di antaranya pensiunan, termasuk mantan guru, janda, pekerja migran, ibu rumah tangga.
Penipuan semacam ini sering terjadi karena para pelaku menawarkan “imbalan pasti”: misalnya bunga tinggi dari investasi atau pengembalian dana cepat, yang seolah terlalu mudah untuk ditolak. Banyak pensiunan seperti Mushoddiq tergiur dengan janji tersebut karena menganggap tabungan pensiun sebagai jaring pengaman hidup, berharap bisa menambah dana untuk kebutuhan sehari-hari, kesehatan, atau keluarga. Namun kenyataannya malah berakhir dengan kehancuran finansial.
Baca Juga:
13,5 Ton Cengkih Terkontaminasi Radiasi Dipulangkan ke Indonesia dan Siap Dimusnahkan
Kasus Mushoddiq dan banyak korban lain menunjukkan betapa rentannya kelompok pensiunan terhadap penipuan keuangan — terutama di era digital ketika tawaran investasi bodong tersebar lewat telepon, media sosial, atau aplikasi daring. Sementara itu, upaya penegakan hukum dan edukasi literasi keuangan tampaknya belum cukup cepat menjangkau mereka yang sudah lanjut usia atau memiliki pengetahuan keuangan terbatas.
Kini, di usia senja, setiap harinya bagi Mushoddiq adalah perjuangan baru. Suatu saat ia menuangkan harap bahwa lapak koran kecilnya bisa menambah sedikit penghasilan untuk menutupi kebutuhan hidup yang mulai menipis. Tapi lebih dari itu — ia berharap kisahnya bisa menjadi peringatan bagi banyak pensiunan lain agar tidak mudah tergiur janji manis investasi yang terdengar “wah.” Ia berharap ada lebih banyak edukasi dan perlindungan bagi kelompok rentan, terutama mereka yang sudah berhenti bekerja dan mengandalkan tabungan sebagai sandaran hidup.
Kisah ini menyisakan banyak pelajaran pahit. Bahwa penghormatan terhadap guru dan pensiunan tidak cukup hanya dengan ucapan terima kasih — perlu juga sistem sosial dan perlindungan nyata agar mereka tidak menjadi korban penipuan. Bahwa dalam kondisi yang rentan, kepercayaan butuh dibarengi kewaspadaan. Dan bahwa di balik angka kerugian triliunan rupiah, ada manusia sehari-hari seperti Mushoddiq: manusia dengan harapan tenang di hari tua, yang kini harus berjuang keras demi sesuap nasi dan selembar kertas koran.
Baca Juga:
ASDP Perkuat Operasi Terintegrasi Sumatera–Jawa–Bali untuk Kelancaran Penyeberangan Nataru 2026
Jika kamu mau — saya bisa bantu cari data terkini tentang berapa banyak pensiunan yang menjadi korban scam dalam 5 tahun terakhir, untuk membantu memahami skala masalah ini. Mau saya kumpulkan?









