Menu

Mode Gelap

Wisata · 17 Des 2025 12:02 WIB

Pesona Anggrek Pegunungan Meratus: Keindahan Alami yang Terancam


 Pesona Anggrek Pegunungan Meratus: Keindahan Alami yang Terancam Perbesar

PROLOGMEDIA – Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan bukan sekadar bentangan pegunungan yang megah dengan puncak-puncaknya yang membelah langit, tetapi juga rumah bagi salah satu kekayaan flora paling memukau di Indonesia: anggrek. Keindahan anggrek-anggrek alami yang tumbuh di lereng dan lembah Meratus telah menjadi magnet bagi pecinta alam, peneliti, dan pendaki yang ingin menyaksikan sendiri bunga-bunga eksotis ini mekar di habitat asli mereka — jauh dari tangan manusia dan jauh dari sorotan dunia luar.

 

Di hutan hujan tropis Pegunungan Meratus, khususnya sepanjang jalur menuju Puncak Haur Bunak, ribuan anggrek dari berbagai spesies berpasangan pada batang-batang pohon yang lembap dan rimbun. Mereka menunggu di setiap pos pendakian: di pos satu ke dua tampak mulai bermunculan; memasuki pos tiga hingga empat, keberadaan mereka semakin nyata, mekar dalam berbagai bentuk dan warna yang sungguh memesona.

 

Untuk mencapai puncak yang berada sekitar 1.141 meter di atas permukaan laut itu, tidaklah mudah. Perjalanan harus dimulai dari Banjarbaru, dilanjutkan dengan perjalanan motor menuju Bukit Batu di Kabupaten Banjar, kemudian menyusuri sungai dengan kapal motor ke tepian hutan yang masih perawan. Dari sana, para pendaki berjalan kaki melalui jalur yang licin, berkabut, dan penuh tantangan lewat hutan rimba yang gelap. Medannya tak kenal kompromi: dari trek terjal hingga akar-akar raksasa yang menyembul dari tanah, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang tiga hari dua malam yang penuh harap dan kejutan alam.

 

Rombongan berjumlah sekitar 75 orang — dari berbagai organisasi pecinta alam di Kalimantan Selatan — tergabung dibawah pemanduan Mapala Sylva. Mereka bukan sekadar mendaki, tetapi juga membawa misi konservasi anggrek di habitat aslinya. Di setiap belokan, setiap celah pohon dan batu, mereka berhenti sejenak untuk mencatat, memotret, dan terkadang mengagumi anggrek-anggrek yang menempel pada batang-batang pohon lembab dan rimbun.

 

Anggrek-anggrek ini bukan hanya bunga biasa. Beberapa spesies yang berhasil diidentifikasi oleh tim konservasi antara lain Dendrobium stuartii, Acriopsis liliifolia, Dendrobium compressum, Dendrobium crumenatum, Bulbophyllum lobbii, Trichoglottis bipenicillata, Polystachya concreta, dan Spathoglottis zurea. Bahkan tim menemukan empat jenis anggrek yang belum teridentifikasi — kemungkinan besar merupakan spesies baru yang belum pernah tercatat dalam literatur ilmiah manapun.

 

Data eksplorasi menunjukkan bahwa di kawasan konservasi hutan Sultan Adam — salah satu wilayah Meratus yang dilindungi — terdapat puluhan spesies anggrek yang berhasil dicatat. Dokumentasi awal mencatat setidaknya 35 spesies yang tersebar di bagian tenggara kawasan, termasuk spesies yang tumbuh di puncak Haur Bunak seperti Chelonistele sulphurea, Coelogyne exalata, Coelogyne incrassata, Eria leiophylla, Spathoglottis plicata, dan Thecostele alata.

 

Baca Juga:
Malaysia Ngotot Jadikan Durian Buah Nasional: Ini Alasan Kuat di Baliknya!

Secara global, anggrek dikenal sebagai salah satu famili tumbuhan yang paling kaya dan beragam: sekitar 850 genus dengan 25.000 spesies dikenal di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, jumlah spesies anggrek mencapai lebih dari 5.000, dengan Kalimantan menyumbang antara 2.500 hingga 3.000 jenis. Di Kalimantan Selatan, data menunjukkan sekitar 252 spesies anggrek alami ditemukan, dan angka ini diperkirakan masih jauh dari jumlah sebenarnya karena eksplorasi belum sepenuhnya menyentuh semua sudut hutan.

 

Namun di balik keindahan yang memukau itu, ancaman serius mengintai. Aktivitas manusia, terutama melalui alih fungsi lahan seperti penambangan, perkebunan, dan hutan tanaman industri, telah membawa dampak nyata terhadap habitat anggrek. Izin-izin eksploitasi yang tumpang tindih di sekitar Meratus membuat area alami tempat anggrek tumbuh makin terdesak. Deforestasi di wilayah Kalimantan Selatan antara tahun 2023 dan 2024 mencapai hampir 147.000 hektar, menunjukkan bahwa hutan yang menjadi rumah bagi anggrek-anggrek ini terus menyusut.

 

Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri: di satu sisi anggrek menjadi simbol keindahan alam dan keragaman hayati, sementara di sisi lain, keberadaannya di alam liar semakin terancam. Spesies seperti Paraphalaenopsis denevei, yang diyakini pernah hidup di Kalimantan Selatan, kini dianggap telah menghilang dari negara ini setelah tidak terlihat selama bertahun-tahun. Bahkan beberapa kolektor percaya bahwa spesies ini kini hanya bisa ditemukan di luar negeri, jauh dari habitat aslinya.

 

Kepekaan anggrek terhadap kondisi lingkungan membuatnya menjadi indikator penting bagi kesehatan hutan. Keberadaan anggrek yang masih tumbuh alami merupakan sinyal bahwa ekosistem di sekitarnya masih cukup baik. Sebaliknya, jika populasi anggrek menurun, itu bisa menjadi tanda awal adanya tekanan ekologis seperti deforestasi, polusi, atau perubahan iklim yang berdampak pada keseimbangan sistem hutan.

 

Anggrek juga memainkan peran ekologis yang menarik: mereka hidup dalam hubungan saling menguntungkan dengan serangga penyerbuk yang membantu proses reproduksi mereka, sementara serangga-serangga itu mendapatkan nektar atau serbuk sari sebagai sumber makanan. Hubungan mutualistik inilah yang menjadi bagian penting dalam menjaga siklus kehidupan di hutan tropis Meratus.

 

Upaya konservasi anggrek di Meratus pun tidak hanya dilakukan di lapangan. Beberapa perguruan tinggi dan lembaga konservasi telah bekerja sama menciptakan fasilitas seperti orchidarium — taman yang meniru habitat alami anggrek untuk tujuan konservasi, riset, dan edukasi. Di tempat-tempat seperti Taman Biodiversitas di Lembah Bukit Manjai, koleksi anggrek hutan Meratus dipelihara dan diteliti untuk memahami lebih jauh kebutuhan ekosistemnya serta bagaimana cara terbaik menjaga kelestariannya.

 

Baca Juga:
Cara Efektif Mengatasi Lalat Buah dan Ulat pada Cabai Merah Besar di Musim Hujan

Dengan setiap jejak kaki yang menelusuri hutan Meratus, setiap foto anggrek yang mekar di batang pohon, dan setiap catatan ilmiah yang dihasilkan, pesan yang sama berulang: alam ini kaya, rapuh, dan butuh perlindungan. Anggrek-anggrek Meratus bukan sekadar bunga yang cantik untuk dilihat, tetapi juga representasi dari kompleksitas dan keajaiban alam Indonesia yang harus dijaga dan dihargai generasi demi generasi.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata