PROLOGMEDIA – Di sepanjang alur Sungai Mahakam, sebuah suara khas dan pemandangan yang pernah lazim terlihat kini kian langka setiap musim berlalu. Sosok-sosok mamalia air yang dikenal sebagai pesut mahakam — lumba-lumba air tawar endemik sungai terbesar di Kalimantan Timur — pernah menjadi bagian akrab dari kehidupan masyarakat sungai. Namun hari ini, keberadaan mereka menghadapi tantangan yang begitu kompleks dan berat, hingga membuat populasi spesies ini berada di ambang kepunahan.
Pesut mahakam, secara ilmiah dikenal sebagai Orcaella brevirostris, adalah salah satu jenis cetacea yang beradaptasi hidup di air tawar. Berbeda dari lumba‑lumba laut, pesut telah berevolusi untuk hidup di lingkungan sungai, dan hanya bisa bertahan di ekosistem perairan tawar seperti alur Mahakam serta beberapa sungai besar lain di Asia Tenggara. Spesies ini memiliki sejumlah karakteristik biologis yang unik: masa kehamilan panjang, interval reproduksi yang luas, serta jumlah anak yang lahir sangat sedikit dibanding banyak jenis mamalia lainnya. Semua faktor ini membuat pemulihan jumlahnya menjadi proses yang sangat lambat.
Meski begitu, peran pesut jauh lebih penting daripada sekadar sekumpulan mamalia lucu yang berenang di sungai. Dalam ekosistem, mereka bertindak sebagai indikator kesehatan perairan dan bagian dari ritme alami yang membantu menjaga keseimbangan ikan dan organisme lain. Gerakan tubuh mereka di air membantu mengedarkan nutrisi dari dasar sungai ke permukaan, memberi kehidupan bagi plankton dan organisme dasar yang kemudian menjadi makanan ikan. Ketika jumlah pesut menurun, efek ini pun merambat ke seluruh jaringan kehidupan di sungai — yang pada akhirnya dapat berdampak pada kehidupan masyarakat setempat yang menggantungkan diri dari sumber daya sungai.
Namun, sepanjang dua dekade terakhir, perubahan drastis telah terjadi di sepanjang alur Sungai Mahakam. Dulu pesut dapat ditemui di wilayah hilir hingga sekitar Samarinda, tetapi sejak 1990‑an keberadaan mereka di sana semakin berkurang. Habitat utama kini terpusat jauh ke hulu, terutama di sepanjang perairan Muara Kaman hingga Muara Pahu, sekitar 180 hingga 350 kilometer dari muara sungai. Perjalanan panjang sungai itu kini dipenuhi oleh aktivitas manusia yang begitu intensif — mulai dari kapal dan tongkang barang besar yang lalu‑lintas setiap hari hingga aktivitas pertambangan dan perkebunan di sepanjang anak sungai.
Jumlah pesut yang tersisa di Mahakam kini diperkirakan hanya sekitar 60 hingga 80 ekor. Angka ini menunjukkan tren menurun yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan data beberapa tahun lalu. Setiap tahun diperkirakan hanya sekitar lima bayi pesut yang lahir namun secara bersamaan terdapat angka kematian yang hampir serupa atau bahkan lebih tinggi tergantung kondisi tahun tertentu. Mengingat tingkat reproduksi yang sangat lambat, setiap kasus kematian menjadi pukulan besar bagi keberlangsungan spesies ini.
Ancaman utama yang secara terus‑menerus membayangi kehidupan pesut bukan hanya satu atau dua faktor, melainkan kombinasi kompleks dari gangguan habitat dan tekanan aktivitas manusia. Salah satu ancaman terbesar berasal dari jeratan jaring insang (gillnet) yang digunakan nelayan di sepanjang sungai. Jaring dengan ukuran jala tertentu menjadi penyebab sekitar 70 persen kematian pesut yang diketahui, karena mamalia ini sering tersangkut dalam jaring saat mencari ikan yang terperangkap. Tidak jarang mereka tidak mampu mencapai permukaan air untuk bernapas akibat terikat dalam jaring.
Selain jeratan jaring, polusi suara dari ribuan kapal yang melintas setiap hari juga berkontribusi pada tekanan yang luar biasa terhadap pesut. Makhluk yang mengandalkan sonar berfrekuensi tinggi untuk navigasi dan komunikasi ini menjadi terganggu oleh kebisingan mesin dan gelombang besar yang dihasilkan oleh kapal. Gangguan suara ini dapat menyebabkan stres, disorientasi, dan perubahan pola migrasi sejak bayi pesut hingga individu dewasa.
Baca Juga:
Kapal Pesiar China Ramai-ramai Hindari Jepang, Korea Selatan Jadi Tujuan Favorit Baru
Degradasi habitat juga semakin mempersempit ruang hidup pesut. Sedimentasi yang disebabkan oleh pembukaan hutan dan erosi di sepanjang anak sungai memengaruhi kualitas air dan kondisi dasar sungai. Limbah dari aktivitas pertambangan batu bara, termasuk limbah debu dan bahan kimia, masuk ke sungai melalui anak sungai yang sempit sehingga merusak ekosistem. Pencemaran lain datang dari limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik, termasuk plastik dan kontaminan kimia dari pertanian, yang semakin memperburuk kualitas perairan tempat pesut hidup dan mencari makan.
Lalu lintas kapal barang dan kapal tongkang yang tinggi juga meningkatkan risiko benturan fisik dengan pesut — terutama anak‑anak pesut yang terserempet baling‑baling atau terdesak oleh gelombang besar ke tepi sungai. Risiko ini tidak hanya menyebabkan kematian langsung tetapi juga berdampak pada kondisi fisik individu yang tersisa, seperti stres metabolik dan penurunan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Menanggapi kondisi yang kritis ini, pemerintah bersama berbagai pihak kini mulai mengintensifkan upaya perlindungan dan konservasi pesut mahakam. Salah satu langkah awal yang telah dilakukan adalah penetapan kawasan konservasi berzonasi di Sungai Mahakam oleh pemerintah pusat, dengan pengaturan zona inti yang sepenuhnya dilindungi, zona pemanfaatan terbatas, dan zona khusus jalur lalu‑lintas kapal. Aturan ini bertujuan meminimalkan gangguan terhadap pesut di area inti sekaligus mengatur posisi kapal besar untuk melintas di jalur yang lebih aman.
Revisi regulasi perikanan juga tengah diproses agar lebih efektif melarang alat tangkap yang berisiko tinggi, khususnya jaring insang rengge yang selama ini menjadi penyebab utama jeratan pesut. Upaya ini merupakan bagian dari kerangka kerja yang lebih luas untuk menciptakan perikanan yang lebih lestari bagi manusia sekaligus aman bagi pesut dan biota air lainnya.
Pendekatan konservasi ini tidak hanya dilakukan secara top‑down dari kebijakan, tetapi juga melibatkan peran serta masyarakat lokal. Para nelayan diajak bekerja sama dengan pemasangan banana pinger — alat sonar sederhana yang terpasang pada jaring untuk menjauhkan pesut dari area yang berbahaya. Program ini telah menarik partisipasi ratusan nelayan di wilayah konservasi, dan sepanjang periode tertentu tidak ada laporan pesut mati akibat jeratan jaring di area yang menggunakan instrumen ini. Selain itu, pelatihan penyelamatan bagi pesut yang terjebak saat air surut, patroli oleh tim ranger lokal, serta kegiatan restorasi vegetasi di sempadan sungai juga dilakukan untuk memperkuat keseimbangan ekosistem.
Edukasi lingkungan dan kampanye pengelolaan sampah menjadi bagian dari strategi jangka panjang yang tidak bisa diabaikan. Upaya ini termasuk memasukkan muatan pelajaran lokal tentang konservasi di sekolah‑sekolah, kampanye pengurangan sampah plastik, serta pencarian alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan seperti perikanan keramba dan ekowisata yang tidak mengganggu ekosistem pesut. Semua inisiatif ini menjadi fondasi penting dalam memulihkan harapan bagi satu spesies yang kini hidup di ujung garis antara kelestarian dan kepunahan.
Baca Juga:
Kapolres Serang Sigap Bantu Korban Kebakaran di Petir
Masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan sungai mulai menyuarakan dukungan mereka terhadap upaya ini. Tidak sedikit warga yang melihat pesut sebagai simbol keberuntungan dan bagian tak terpisahkan dari budaya lokal. Mereka berharap bahwa generasi mendatang masih bisa menyaksikan pesut berenang bebas di sungai—bukan hanya sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai realitas yang hidup dan bernapas di sepanjang arteri kehidupan Kalimantan Timur.









