Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 21 Des 2025 01:47 WIB

Pola Makan Sehat untuk Pasien IBD: Strategi Menjaga Saluran Pencernaan dan Kesehatan Tubuh


 Pola Makan Sehat untuk Pasien IBD: Strategi Menjaga Saluran Pencernaan dan Kesehatan Tubuh Perbesar

PROLOGMEDIA – Radang usus kronis atau yang dikenal dengan istilah Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kondisi medis yang kini semakin banyak diperbincangkan, terutama karena dampaknya yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien. IBD sendiri termasuk dalam kelompok penyakit inflamasi yang menyerang saluran pencernaan, menyebabkan gejala yang tidak hanya mengganggu aktivitas sehari‑hari tetapi juga menuntut pasien untuk memperhatikan secara serius pola makan mereka demi menghentikan gejala kambuh dan membantu tubuh tetap sehat jangka panjang.

Pentingnya pola makan yang baik bagi pasien IBD tidak sekadar soal menjaga perut tetap “tenang,” tetapi berperan sebagai bagian fundamental dari strategi pengendalian gejala penyakit. Pasien dengan kondisi seperti ini sering mengalami masalah perut seperti diare berulang, nyeri perut, kram, hingga penurunan nutrisi yang serius kalau makanan yang mereka konsumsi tidak sesuai atau tidak disesuaikan dengan kondisi tubuh mereka. Maka dari itu, dokter dan ahli gizi umumnya menyarankan pendekatan pola makan yang tidak hanya seimbang secara gizi, tetapi juga bersifat personal—berdasarkan toleransi dan respon tubuh masing‑masing pasien.

Salah satu prinsip utama dalam mengatur pola makan pasien IBD adalah dengan mengonsumsi makanan dalam porsi kecil namun lebih sering. Pendekatan ini dipilih karena porsi kecil membantu meringankan kerja sistem pencernaan dan mengurangi risiko iritasi langsung pada usus yang sudah meradang. Dibandingkan dengan makan besar sekaligus, porsi kecil mampu memberikan tubuh asupan nutrisi tanpa membebani saluran pencernaan secara tiba‑tiba.

Selain itu, penerapan pola makan ini juga memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi. Misalnya pada fase gejala akut, pasien mungkin perlu sementara waktu memilih makanan yang mudah dicerna, tidak pedas, tidak terlalu berserat kasar, dan rendah lemak. Makanan seperti nasi putih, roti tawar, kentang rebus tanpa kulit, serta daging tanpa lemak sering direkomendasikan karena cenderung lebih lembut bagi saluran pencernaan dibandingkan makanan pedas atau berlemak tinggi.

Namun, bukan berarti pasien harus menghindari semua serat atau kelompok makanan tertentu secara absolut. Dalam perawatan IBD, keberagaman nutrisi tetap penting, terutama untuk menjaga status gizi pasien jangka panjang. Pada fase non‑kambuh atau remisi penyakit, dokter atau ahli gizi mungkin akan menyarankan kembali memasukkan makanan bernutrisi seperti sayur matang yang mudah dicerna, buah tanpa kulit, sumber protein tanpa lemak seperti ikan atau ayam tanpa kulit, serta produk susu rendah laktosa kalau toleransi tubuhnya memungkinkan.

Seiring dengan itu, kebutuhan cairan juga tidak boleh diabaikan. Pasien IBD sering kali rentan terhadap dehidrasi karena diare yang berkepanjangan, sehingga konsumsi air putih yang cukup setiap hari menjadi prioritas. Minuman berkafein, minuman berenergi, atau minuman yang terlalu manis sebaiknya dihindari karena berisiko memperburuk gejala atau menjaga tubuh tetap dehidrasi.

Baca Juga:
Bali Didorong Tinggalkan Atraksi Naik Gajah Demi Wisata yang Lebih Beretika

Meskipun demikian, pola makan sehat tidak bisa dianggap sebagai solusi tunggal yang bisa menyembuhkan IBD sepenuhnya. Perubahan pola makan sebaiknya dilakukan dalam kerangka kolaborasi dengan tenaga medis seperti dokter spesialis gastroenterologi atau ahli gizi klinis, karena setiap pasien dapat menunjukkan respons yang berbeda terhadap makanan tertentu. Tidak sedikit pasien yang mengidentifikasi sendiri “makanan pemicu” yang dapat memperburuk gejala mereka—misalnya makanan pedas, produk susu jika intoleran laktosa, atau makanan tinggi insoluble fiber seperti kacang‑kacangan.

Perlu juga dipahami bahwa diet tertentu bisa lebih efektif bagi sebagian pasien dibandingkan yang lain. Sebagai contoh, pendekatan low‑FODMAP yang meminimalkan makanan dengan karbohidrat tertentu seringkali dapat membantu beberapa pasien menurunkan gejala perut kembung atau gas, sedangkan diet lain seperti Specific Carbohydrate Diet (SCD) menekankan pengurangan karbohidrat tertentu untuk menekan peradangan usus. Namun, kedua pendekatan ini membutuhkan pengawasan ketat agar tidak menyebabkan kekurangan nutrisi yang penting.

Tak hanya itu, pasien IBD juga perlu memperhatikan status vitamin dan mineral tubuhnya, terutama bila penyakit sudah berlangsung lama atau sering kambuh. Kekurangan vitamin D, vitamin B12, zat besi, atau mineral lain bisa memperburuk kondisi kesehatan secara umum. Dalam beberapa kasus, suplemen khusus dianjurkan, tetapi sebaiknya diatur oleh tenaga kesehatan agar dosis dan kebutuhannya sesuai kondisi pasien.

Kesadaran terhadap kebutuhan diet sehat turut berkembang di kalangan masyarakat luas. Misalnya, makanan “western food” yang cenderung tinggi lemak dan rendah nutrisi dilaporkan berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kondisi peradangan seperti IBD jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang. Ini menjadi pengingat bahwa pola makan sehat bukan hanya penting bagi pasien IBD tetapi juga untuk masyarakat umum guna mencegah risiko gangguan pencernaan kronis di masa depan.

Dalam perjalanan hidup seorang pasien IBD, pola makan yang baik dan terencana tidak hanya membantu menekan gejala, tetapi juga memberi mereka kendali atas tubuhnya. Dengan dukungan tenaga medis, setiap pasien dapat secara bertahap menemukan pola makan yang paling cocok dengan kebutuhan unik tubuh mereka—baik saat fase gejala aktif maupun ketika penyakit berada dalam remisi. Hal ini sekaligus mendukung tujuan hidup yang lebih sehat dan produktif meskipun hidup berdampingan dengan penyakit kronis.

Pola makan menjadi bagian dari strategi holistik untuk meningkatkan kualitas hidup penderita IBD, bukan sekadar rutinitas diet yang membosankan. Saat pasien memahami kenapa makanan tertentu membantu atau mengganggu kondisi tubuhnya, mereka bisa mengambil langkah yang lebih cerdas dalam memilih asupan harian. Ini termasuk kemampuan untuk menyusun menu yang tidak hanya bersifat “aman” secara medis, tetapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi dan menikmati makan tanpa rasa takut akan flare‑up yang tiba‑tiba.

Baca Juga:
Gelombang Pemindahan 16 Kementerian ke IKN dan Kehadiran Grup 4 Kopassus Perkuat Transisi Ibu Kota Baru

Dengan komitmen disiplin dan kesadaran kesehatan, banyak pasien IBD kini menunjukkan bahwa kehidupan yang produktif dan berkualitas tetap mungkin dijalani — meskipun dengan batasan pola makan yang harus diperhatikan secara cermat setiap hari.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Respons Cepat Pemkab Serang, Sartini Warga Petir Dapat Bantuan dan Penanganan Medis

27 Januari 2026 - 12:15 WIB

Latihan Beban Bukan Sekadar Otot: Rahasia Tubuh Sehat dan Kuat bagi Wanita

2 Januari 2026 - 17:41 WIB

Deretan Makanan Kaya Vitamin B12 yang Penting untuk Energi, Saraf, dan Kesehatan Tubuh

1 Januari 2026 - 01:35 WIB

6 Latihan Upper Body Efektif untuk Membentuk Tubuh Kuat dan Proporsional

1 Januari 2026 - 01:26 WIB

Gaya Makan Sehat Milenial: Tren, Tips, dan Langkah Awal Menuju Hidup Lebih Fit

26 Desember 2025 - 19:55 WIB

8 Jenis Karbohidrat Tinggi Kalori yang Sebaiknya Dihindari Saat Diet

26 Desember 2025 - 19:32 WIB

Trending di Kesehatan