PROLOGMEDIA – Di sebuah sudut Kota Serang, Banten, hiduplah seorang polisi yang tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga lingkungan. Dialah Aiptu Eko Yulianto, Kepala SPKT Polsek Waringinkurung, sosok di balik inovasi brilian bernama Bank Sampah Berkah Bhayangkara. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang pengelolaan sampah, melainkan tentang dedikasi, inspirasi, dan harapan akan masa depan lingkungan yang lebih baik.
Di tengah persoalan darurat sampah yang melanda Kabupaten Serang, Aiptu Eko melihat peluang untuk memberdayakan masyarakat sekaligus mengatasi masalah lingkungan. Pada tahun 2021, bermodalkan dana dan lahan pribadi, ia mendirikan Bank Sampah Berkah Bhayangkara. Halaman rumahnya disulap menjadi gudang, tempat sampah anorganik diolah dan diubah menjadi berkah.
Dengan semangat membara, Aiptu Eko merekrut muda-mudi dan ibu-ibu untuk menjadi motor penggerak bank sampah ini. Mereka berkeliling dari RW ke RW, dari sekolah ke sekolah, mengedukasi warga tentang pentingnya memilah sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus. Aiptu Eko tak hanya mengajak warga untuk memilah sampah, tetapi juga membentuk bank sampah unit di lingkungan masing-masing, menjalin kemitraan yang solid untuk pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Sistem yang dibangun Aiptu Eko sangat sederhana namun efektif. Warga menabung sampah di bank sampah unit, kemudian Bank Sampah Bhayangkara (induk) mengambil sampah-sampah yang sudah terpilah tersebut. Sampah-sampah itu kemudian ditimbang dan dicatat, nilai ekonomisnya dihitung, dan warga mendapatkan imbalan yang bisa diuangkan atau ditukar dengan sembako.
Namun, Aiptu Eko tak berhenti di situ. Ia menciptakan inovasi yang lebih menarik, yaitu memberikan kesempatan kepada warga untuk menabung uang dari hasil penjualan sampah. Tabungan ini bisa dicairkan kapan saja, terutama saat warga membutuhkan dana mendesak.
Bahkan, Aiptu Eko memberikan kemudahan bagi warga yang ingin membuat atau memperpanjang SIM atau SKCK. Mereka bisa menggunakan dana dari tabungan sampah untuk membayar biaya administrasi.
Kisah inspiratif Aiptu Eko ini sampai ke telinga pimpinan Polda Banten. Mereka memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inovasi Aiptu Eko dan memberikan bantuan berupa lahan dan bangunan untuk dijadikan gudang penampungan sampah dari unit-unit bank sampah. Bantuan ini menjadi suntikan semangat bagi Aiptu Eko untuk terus mengembangkan Bank Sampah Berkah Bhayangkara.
Saat ini, Aiptu Eko telah merekrut 15 orang untuk membantu menjalankan programnya. Mereka bekerja di bank sampah induk sebagai pemilah sampah-sampah anorganik sebelum dijual ke perusahaan industri daur ulang sampah. Aiptu Eko memberikan upah harian kepada para pekerja ini, yang berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Penghasilan ini tentu sangat berarti bagi mereka, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Baca Juga:
Gubernur Andra Soni Tegaskan APBD Banten 2026 Difokuskan untuk Pembangunan dan Pelayanan Publik
Aiptu Eko tak mengambil keuntungan dari penjualan sampah. Baginya, yang terpenting adalah operasional bank sampah tercukupi dan para pekerja mendapatkan upah yang layak. Ia bahkan memberikan harga yang lebih tinggi kepada warga yang menyetor sampah dibandingkan harga di lapak-lapak pengepul. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi kepada warga agar terus memilah sampah dan berpartisipasi dalam program Bank Sampah Berkah Bhayangkara.
Meskipun programnya telah berjalan lebih dari tiga tahun, Aiptu Eko menyadari bahwa dampaknya masih kecil jika dibandingkan dengan volume sampah yang dihasilkan oleh Kabupaten Serang setiap harinya, yaitu mencapai 500 ton. Namun, ia tak patah semangat. Ia terus berupaya untuk menambah jumlah titik unit bank sampah agar dapat mengubah status darurat sampah Kabupaten Serang.
Aiptu Eko berharap, setiap desa di Kabupaten Serang memiliki minimal satu bank sampah. Dengan semakin banyaknya bank sampah, volume sampah yang dikelola akan semakin besar dan dampak positifnya akan semakin terasa. Ia juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan memahami pentingnya pengelolaan sampah.
Hampir setiap minggu, Aiptu Eko dan timnya mengadakan sosialisasi di sekolah-sekolah. Mereka memberikan edukasi kepada anak-anak tentang cara memilah sampah, manfaat daur ulang, dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Aiptu Eko berharap, edukasi ini dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini sehingga anak-anak dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kisah Aiptu Eko Yulianto ini adalah kisah tentang seorang polisi yang berdedikasi, inovatif, dan peduli terhadap lingkungan. Ia telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama, yaitu menjaga kebersihan lingkungan dan memberdayakan masyarakat. Aiptu Eko telah membuktikan bahwa dengan semangat, kerja keras, dan inovasi, kita dapat mengatasi masalah lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
Aiptu Eko Yulianto diusulkan oleh Polresta Serang Kota dalam Hoegeng Corner 2025 atas inovasinya itu. Sebab, program Bank Sampah Berkah Bhayangkara dinilai menjadi sarana edukasi tentang pengelolaan sampah dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat setempat.
Kisah Aiptu Eko adalah secercah harapan di tengah persoalan sampah yang semakin kompleks. Ia adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, dari seorang individu yang berani bermimpi dan bertindak.
Baca Juga:
Selamatkan Bumi! Toyota Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar: Inovasi yang Bikin Negara Lain Melongo!
Semoga kisah Aiptu Eko dapat menginspirasi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih bersih dan lestari.









