Menu

Mode Gelap

Berita · 24 Nov 2025 18:14 WIB

POSCO International Perluas Kendali di Industri Sawit Asia Setelah Akuisisi Sampoerna Agro


 POSCO International Perluas Kendali di Industri Sawit Asia Setelah Akuisisi Sampoerna Agro Perbesar

PROLOGMEDIA – Perusahaan asal Korea Selatan, POSCO International, baru saja menuntaskan akuisisi strategis terhadap PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), sebuah pemain besar di sektor kelapa sawit Indonesia. Dengan menggelontorkan dana sekitar 1,3 triliun won (setara ± Rp 14,8 triliun), POSCO berhasil menguasai 65,72% saham SGRO, melalui anak usahanya, AGPA Pte. Ltd.

 

Dengan masuknya Sampoerna Agro ke dalam portofolio POSCO, perusahaan asal Korsel itu secara signifikan memperbesar lahan kebun sawit yang dikuasainya. Dari akuisisi ini, POSCO menambah 128.000 hektare kebun kelapa sawit, menjadikan total lahan yang dikuasai hingga mencapai 150.000 hektare, termasuk kebun yang sebelumnya sudah dikelola di Papua. Untuk memberi gambaran skala: luas tambahan kebun sawit tersebut lebih dari dua kali lipat luas kota Seoul.

 

Akuisisi ini bukan sekadar ekspansi area. POSCO menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai bisnis sawit mereka dari hulu ke hilir agar lebih mandiri, terutama dalam bisnis biofuel. Pada hari yang sama dengan akuisisi, POSCO juga meresmikan penyelesaian pembangunan kilang kelapa sawit di Kalimantan Timur. Kilang ini beroperasi melalui perusahaan joint venture bernama PT ARC (PT AGPA Refinery Complex), di mana POSCO memegang 60% saham dan GS Caltex 40%.

 

Kapasitas kilang tersebut cukup besar: bisa menyuling hingga 500.000 ton minyak sawit per tahun, setara dengan hampir 80% impor minyak sawit olahan Korea Selatan. Dengan demikian, POSCO tidak hanya dapat memasok minyak sawit kasar (CPO) dari kebunnya sendiri ke kilang yang baru, tetapi juga menjual produk olahan, baik di pasar domestik Indonesia maupun ekspor ke negara lain seperti Korea dan Tiongkok.

 

Menariknya, kebun sawit milik Sampoerna Agro yang diakuisisi oleh POSCO sudah dalam tahap matang. Itu artinya, POSCO bisa mendapatkan keuntungan relatif cepat, karena produksi bisa dipanen segera, tanpa harus menunggu tahun-tahun awal tanam.

 

Baca Juga:
Manis dan Berkhasiat! 6 Manfaat Minum Cengkeh & Kayu Manis Sebelum Tidur + Cara Buatnya

Sejak awal memasuki bisnis sawit pada 2011, POSCO sudah mengembangkan kebun di Papua dan mulai produksi komersial pada 2016. Saat ini, mereka telah mengoperasikan tiga pabrik pengolahan sawit di sana dengan kapasitas total sekitar 210.000 ton minyak sawit per tahun. Bahkan dari pabrik-pabrik tersebut, POSCO mencatat margin operasional yang cukup tinggi, rata-rata 36% pada tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa bisnis sawit mereka cukup menguntungkan.

 

Di sisi Sampoerna Agro sendiri, perusahaan ini tidak hanya mengandalkan kebun sawit saja. Mereka juga memiliki unit riset dan produksi benih unggul serta pusat penelitian pertanian, termasuk laboratorium analisis dan kebun benih di Sumatera. Unit benih ini penting karena benih unggul bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi kebun sawit.

 

Sementara dari sisi kinerja operasional, pada 2024 Sampoerna Agro mencatat produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 1,7 juta ton, meskipun turun sekitar 9% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh fenomena El Niño pada semester kedua 2023 yang berdampak pada beberapa kebun, terutama di Sumatra, serta karena kegiatan penanaman kembali (replanting) kebun yang sudah lama. Dari sisi penjualan, pendapatan SGRO pada 2024 tercatat sedikit naik menjadi Rp 5,69 triliun, sedangkan laba bersih mencapai sekitar Rp 748,6 miliar, meningkat cukup signifikan dari tahun sebelumnya.

 

Akuisisi ini jelas menjadi momen besar bagi POSCO. Mereka tidak hanya memperkuat posisinya dalam industri sawit global, tetapi juga memperdalam keterlibatan di rantai nilai biofuel, dari benih sawit hingga minyak olahan siap jual. Dengan kapasitas kilang besar di Kalimantan dan lahan kebun yang luas, POSCO berada di posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam pasokan minyak sawit, baik untuk dijual maupun untuk kebutuhan biofuel Korea Selatan dan pasar ekspor lainnya.

 

Di sisi makro, langkah ini bisa dilihat sebagai bagian dari tren global di mana perusahaan besar mendorong investasi dalam bisnis energi terbarukan dan bahan baku biofuel. Untuk Indonesia, ini juga berarti satu investasi luar besar di sektor sawit yang bisa mendorong nilai tambah lokal, namun tentu menuntut pengelolaan berkelanjutan agar dampak sosial dan lingkungan terjaga.

 

Baca Juga:
DPR Dorong PT Pindad Tingkatkan Produksi Alat Berat untuk Tangani Bencana Alam

Dengan akuisisi dan kilang baru, POSCO jadi semakin matang menancapkan pijakan dalam industri sawit berkelanjutan. Menarik untuk disimak bagaimana perusahaan asal Korea Selatan ini akan mengelola kebunnya ke depan — apakah akan memperkuat sertifikasi keberlanjutan, memaksimalkan efisiensi produksi, dan bagaimana menjajaki ekspansi biofuel lebih jauh lagi. Bagaimana menurut kamu dampak akuisisi ini terhadap industri sawit Indonesia dan biofuel global?

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita