Menu

Mode Gelap

Berita · 21 Nov 2025 19:20 WIB

Ramai-Ramai Tarik Deposito, Warga RI Balik ke Tabungan


 Ramai-Ramai Tarik Deposito, Warga RI Balik ke Tabungan Perbesar

PROLOGMEDIA – Menjelang libur panjang akhir tahun yang dinanti-nanti, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan perubahan perilaku yang menarik dalam hal penempatan dana. Yang dulunya menjadi pilihan utama untuk mengamankan dan menumbuhkan uang, deposito berjangka, kini mulai ditinggalkan sebagian, dan dana-dana itu mengalir kembali ke tabungan biasa. Kebutuhan akan uang tunai yang lebih besar dan fleksibilitas penarikan sewaktu-waktu menjadi alasan utama mengapa tabungan semakin diminati, jauh melebihi instrumen berjangka yang mengunci dana untuk waktu tertentu.

Berdasarkan rilis laporan uang beredar dalam arti luas (M2) oleh Bank Indonesia pada Jumat (21/11/2025), likuiditas perekonomian Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan positif pada Oktober 2025. M2 yang mencakup uang tunai di tangan masyarakat, tabungan, deposito, dan instrumen keuangan lainnya tumbuh 7,1% tahun ke tahun (yoy), sehingga mencapai jumlah Rp8.783,1 triliun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 6,9% (yoy), menunjukkan bahwa aliran uang di dalam negeri semakin aktif dan melimpah.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan M2 terutama ditopang oleh penguatan komponen uang kuasi, khususnya tabungan yang terus naik secara signifikan, serta pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap solid di tengah stabilnya permintaan domestik. Kenaikan aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun, mulai dari perdagangan eceran hingga industri jasa, juga turut mendorong bertambahnya kebutuhan likuiditas baik oleh masyarakat maupun korporasi.

Perubahan yang paling mencolok terlihat dalam perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2025, yang mencerminkan pergeseran jelas dalam preferensi simpanan masyarakat. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa tabungan tumbuh semakin kuat, sementara simpanan berjangka atau deposito justru melambat cukup tajam, baik secara nominal maupun pertumbuhan tahunan. Pada Oktober 2025, posisi tabungan mencapai Rp2.996,6 triliun, naik dari bulan September yang sebesar Rp2.965,4 triliun. Pertumbuhan tahunan tabungan juga menguat signifikan, dari 6,4% menjadi 7,2% (yoy), dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok korporasi yang melonjak pesat sebesar 24,8% (yoy).

Meskipun tidak secepat korporasi, tabungan perorangan juga menunjukkan penguatan moderat, mencapai 5,2% (yoy). Kenaikan ini tidak bisa dilewatkan – ia mengindikasikan bahwa baik masyarakat maupun korporasi kini lebih mementingkan likuiditas, memilih instrumen yang fleksibel dan bisa ditarik kapan saja tanpa hambatan atau potongan bunga.

Sebaliknya, nasib deposito terasa semakin suram. Total deposito pada Oktober 2025 turun menjadi Rp3.292,5 triliun, dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp3.304,5 triliun. Pertumbuhan tahunan deposito juga merosot tajam, dari 5,9% menjadi hanya 4,9% (yoy). Bahkan untuk segmen perorangan yang biasanya menjadi pangsa besar deposito, pertumbuhan kembali tertekan di level negatif sebesar -2,7% (yoy). Angka ini semakin menandakan bahwa rumah tangga semakin enggan mengunci dana mereka dalam tenor panjang, dan malah memilih untuk mengalihkan sebagian atau seluruh dana ke tabungan yang lebih fleksibel.

Pola pergeseran ini tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor utama adalah tren penurunan suku bunga deposito yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Ketika suku bunga menjadi lebih rendah, manfaat untuk mengunci dana dalam deposito juga menyusut, membuat masyarakat lebih cenderung menyimpan uang di tabungan meskipun bunganya lebih kecil.

Baca Juga:
Zona Megathrust Indonesia Bertambah Jadi 14, Risiko Gempa Meningkat

Selain itu, memasuki akhir tahun, kebutuhan akan uang tunai meningkat secara signifikan. Orang-orang membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan hari-hari, berbelanja Natal dan Tahun Baru, melakukan perjalanan liburan, atau bahkan untuk membiayai acara keluarga seperti pernikahan atau arisan. Fleksibilitas tabungan yang memungkinkan penarikan tanpa batasan waktu menjadi sangat berharga dalam kondisi seperti ini.

Ketidakpastian situasi global juga turut memengaruhi keputusan masyarakat. Dengan ketidakpastian dalam pasar keuangan internasional, fluktuasi mata uang, dan potensi resesi di beberapa negara besar, banyak orang lebih memilih untuk menjaga dana mereka dalam bentuk yang mudah diakses.

Mereka khawatir jika mengunci dana dalam deposito, mereka tidak akan bisa menggunakannya sewaktu-waktu jika ada kebutuhan mendesak atau peluang investasi yang lebih baik muncul. Preferensi terhadap keamanan dan fleksibilitas menjadi lebih kuat daripada keinginan untuk mendapatkan bunga yang sedikit lebih tinggi dari deposito.

Meskipun terjadi pergeseran dalam komposisi simpanan, total DPK Indonesia masih bertumbuh solid sebesar 8,1% (yoy). Ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menyimpan uang di bank tidak memudar, hanya saja jenis instrumen yang dipilih berubah. Kenaikan tabungan di tengah penurunan deposito menjadi sinyal penting bahwa likuiditas masyarakat meningkat, yang pada gilirannya dapat mendorong aktivitas ekonomi lebih lanjut.

Dengan uang yang lebih mudah diakses, masyarakat cenderung lebih bersedia untuk berbelanja atau berinvestasi dalam skala kecil, yang berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi domestik.

Perubahan perilaku simpanan ini juga menjadi pertimbangan bagi bank-bank di Indonesia. Mereka perlu menyesuaikan produk dan layanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang kini lebih mementingkan fleksibilitas dan likuiditas. Beberapa bank mungkin akan menawarkan tabungan dengan bunga yang lebih kompetitif atau fitur tambahan yang menarik, sementara juga mencari cara untuk meningkatkan minat kembali terhadap deposito, mungkin dengan menawarkan tenor yang lebih pendek atau keuntungan tambahan lainnya.

Baca Juga:
Binuang dan TNI AU Gorda Bersatu dalam Bakti Sosial dan Karya Bakti

Semua ini menunjukkan bahwa dunia perbankan dan keuangan Indonesia terus berkembang, menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan preferensi masyarakat yang selalu berubah, terutama menjelang musim akhir tahun yang selalu penuh aktivitas.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita