PROLOGMEDIA – Di tengah upaya pemerintah dan industri energi untuk mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, muncul fenomena yang menggembirakan di Indonesia: semakin banyak warga mulai beralih dari Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi ke BBM non-subsidi yang lebih bersih, terutama Pertamax Turbo. Data yang diungkapkan oleh PT Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi bukti nyata bahwa pergeseran pola konsumsi ini sudah mulai terasa secara signifikan.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo mengungkapkan bahwa permintaan terhadap Pertamax Turbo telah meningkat secara drastis, mencapai angka sekitar 76%. Fenomena ini muncul seiring dengan penurunan permintaan BBM bersubsidi hingga bulan Oktober 2025.
“Jadi untuk Pertamax Turbo ini terjadi peningkatan kurang lebih 76%, sehingga saat ini Pertamina secara maksimal mencoba menambah pasokan baik itu dari kilang maupun dari impor,” kata Mars Ega dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip pada Rabu (19/11/2025).
Upaya penambahan pasokan ini sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, terutama menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru yang biasanya menyaksikan lonjakan penggunaan kendaraan.
Sementara itu, penurunan konsumsi BBM bersubsidi tidak terlepas dari kebijakan digitalisasi yang telah diterapkan secara keseluruhan di SPBU Pertamina, yaitu wajib penggunaan QR Code dalam pembelian BBM bersubsidi. Menurut Mars Ega, kebijakan ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi penurunan permintaan.
“Kuota Solar sampai dengan Oktober 2025 diperkirakan bisa terkendali under 1,5% dari kuota yang diberikan kepada PT Pertamina Patra Niaga sementara untuk sektor Pertalite diperkirakan under 10% dari kuota 2025,” jelasnya.
Untuk informasi, kuota Pertalite untuk tahun 2025 ditetapkan sebesar 31,1 juta kiloliter (KL), sedangkan kuota Solar bersubsidi adalah 17,3 juta KL. Keterkendalian kuota yang baik ini menunjukkan bahwa kebijakan QR Code berhasil mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi dan mengarahkan konsumen ke pilihan BBM non-subsidi yang lebih berkualitas.
Baca Juga:
Disorot Pakar Hukum, Dedi Mulyadi Tegaskan Surat Edaran sebagai Langkah Mitigasi Bencana
Kinerja penjualan Pertamax Turbo yang melampaui target juga menjadi bukti kuat dari peralihan ini. Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan bahwa target awal penjualan Pertamax Turbo tahun ini sekitar 170 ribu KL. Namun, sampai saat ini realisasinya sudah mencapai sekitar 300 ribu KL – angka yang jauh di atas harapan. “Pasti nanti dengan adanya Satgas Natal Tahun Baru ini pasti akan meningkat lagi. Jadi let’s say mungkin di akhir-akhir tahun ini dia akan bertambah. Tapi kalau secara target memang sampai saat ini memang sudah di atas ya,” ujarnya. Lonjakan ini tidak hanya menunjukkan minat masyarakat yang tumbuh terhadap BBM bersih, tetapi juga kemampuan Pertamina untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat melalui penyesuaian pasokan.
Fenomena pergeseran konsumsi ini sebenarnya sudah mulai teramati sejak bulan Juli-Agustus 2025. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa saat itu terjadi perubahan pola yang tidak biasa, di mana konsumen yang tadinya menggunakan RON 90 atau Pertalite cenderung turun dan beralih ke BBM dengan RON yang lebih tinggi. “Jadi, konsumen yang tadinya pengguna RON 90 atau Pertalite itu cenderung turun dan beralih kepada RON yang lebih tinggi,” terang Laode dalam RDP bersama Komisi XI DPR pada Jumat (3/10/2025).
Data dari Kementerian ESDM memperkuat pernyataan ini. Penjualan harian BBM Pertalite di tahun 2025 turun menjadi 76.970 KL, dari sebelumnya mencapai 81.106 KL di tahun 2024. Sebaliknya, penjualan BBM non-subsidi meningkat menjadi 22.723 KL di tahun 2025, dibandingkan 19.061 KL di tahun sebelumnya. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kualitas bahan bakar yang digunakan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi negara melalui efisiensi kompensasi.
“Sebenarnya ini kalau dikaitkan dengan besaran kompensasi, maka kompensasi Pertalite itu turun dari Rp 48,9 triliun, diproyeksikan bisa terjadi efisiensi sehingga hanya menjadi Rp 36,314 triliun, artinya ada efisiensi sebesar Rp 12,6 triliun dengan adanya shifting ini,” ungkap Laode.
Efisiensi sebesar Rp 12,6 triliun ini adalah nilai tambah yang signifikan, yang dapat dialokasikan untuk program pembangunan lainnya di sektor-sektor yang membutuhkan. Selain itu, penggunaan BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo juga memiliki manfaat lingkungan, karena mengandung senyawa yang lebih bersih dan menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan BBM bersubsidi. Hal ini selaras dengan upaya nasional untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan meningkatkan kualitas udara di seluruh Indonesia.
Meskipun peralihan ke BBM bersih sudah terlihat, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan pasokan yang cukup di seluruh wilayah, terutama di daerah pedalaman yang sulit dijangkau. Selain itu, harga BBM non-subsidi yang lebih tinggi juga masih menjadi pertimbangan bagi sebagian masyarakat. Namun, dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan kesadaran akan manfaat kesehatan dan lingkungan, harapan terbesar adalah pergeseran pola konsumsi ini akan terus berlanjut dan menjadi tren jangka panjang di Indonesia.
Baca Juga:
Penindakan 250 Ton Beras Impor Ilegal di Sabang Disambut Dukungan Warga dan Petani
Dengan semua bukti yang ada, terlihat jelas bahwa warga Indonesia mulai menyadari pentingnya menggunakan energi yang lebih bersih dan berkualitas. Program dan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dan Pertamina telah memberikan dorongan yang kuat bagi perubahan ini, membawa manfaat baik bagi ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan. Semoga tren ini terus berkembang dan menjadikan Indonesia negara yang lebih peduli terhadap kelestarian bumi dan kesejahteraan masyarakatnya.









