PROLOGMEDIA – Sebanyak 150 ekor benih ikan dewa dilepas ke perairan alami di kawasan Situs Kebon Balong Ki Buyut, Desa Sangkanurip, Kabupaten Kuningan. Aktivitas ini menjadi momen penting bagi masyarakat setempat dan pemerintah daerah karena bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan upaya nyata pelestarian alam yang sarat nilai ekologis dan pendidikan lingkungan. Lepasnya benih ikan dewa, atau dalam istilah ilmiah dikenal sebagai Labeobarbus douronensis, menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga sumber mata air serta keseimbangan ekosistem yang begitu penting bagi kehidupan di wilayah itu.
Kegiatan pelepasan benih ikan tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Ia menjelaskan bahwa acara ini bukan stimulasi mitos atau kepercayaan semata, tetapi bagian dari strategi yang lebih luas untuk melestarikan ekosistem mata air dan memperkenalkan generasi muda kepada pentingnya hubungan manusia dengan alam. Dalam pandangannya, menjaga habitat asli ikan dewa juga merupakan manifestasi hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui pemeliharaan lingkungan hidup yang telah dipercayakan kepada kita. Dengan kata lain, konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral setiap warga masyarakat.
Lokasi di mana ikan dewa disebar memiliki nilai tersendiri. Kawasan Situs Kebon Balong Ki Buyut dikenal memiliki debit air yang melimpah dan kualitas air yang jernih, sehingga menjadi habitat alami yang sangat ideal bagi ikan endemik seperti ikan dewa. Kepala Desa Sangkanurip turut menyampaikan apresiasi tinggi terhadap sinergi yang terjalin antara pemerintah desa, pengelola wisata lokal, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan. Ia mengatakan, kawasan itu memiliki nilai ekologis tinggi, sehingga setiap tindakan yang dapat memperkuat ekosistem perairan di desa mereka harus didukung sebaik mungkin.
Kondisi debit air yang stabil di kawasan itu juga menjadi alasan kuat pemilihan lokasi pelepasan ikan. Mata air yang jernih memberi peluang bagi ikan untuk beradaptasi dengan cepat dan berkembang biak. Hal ini tidak hanya penting dari sisi konservasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan hidup. Sebagai wilayah yang bergantung pada aliran mata air, masyarakat diharapkan memahami secara langsung proses pelestarian alam, khususnya bagaimana sebuah spesies asli dapat mendukung keseimbangan ekosistem sekitar. Disadari atau tidak, keberadaan ikan seperti ikan dewa ini memiliki keterkaitan kuat dengan kualitas air dan keseimbangan rantai makanan di habitatnya.
Menurut berbagai sumber yang mendalami situasi serupa, ikan dewa merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang sensitif terhadap kualitas perairan. Ia umum ditemukan di bagian hulu sungai dengan arus yang bersih dan substrat yang cocok seperti batuan halus berpasir. Karena tingkat sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan, keberadaannya bisa menjadi indikator kesehatan ekosistem air tawar secara keseluruhan. Ketika habitatnya terjaga, hal ini menandakan kualitas air yang baik dan lingkungan yang sehat. Namun sebaliknya, ketika habitat alami terganggu, populasi ikan dewa pun bisa menurun drastis. Kondisi ini memicu berbagai kampanye pelestarian, termasuk kegiatan pelepasan benih seperti yang dilakukan di Kuningan.
Pemerintah setempat juga menegaskan bahwa upaya seperti ini bukan satu-satunya solusi, tetapi bagian dari rangkaian langkah dalam program pelestarian dan edukasi ekologis. Para pemimpin desa dan tokoh masyarakat telah menekankan pentingnya menjaga area konservasi air dari aktivitas destruktif seperti penebangan pohon sembarangan, pembuangan limbah, atau pembangunan yang tidak terkontrol di sekitar sumber mata air. Tanpa perlindungan yang serius, mata air bisa kehilangan kualitasnya, yang pada gilirannya akan mengancam sumber kehidupan bagi manusia, flora, dan fauna di sekitarnya.
Baca Juga:
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor, Sembilan Kecamatan di Sukabumi Terisolasi
Dalam dialog dengan warga yang hadir, salah satu tokoh memaparkan bahwa banyak daerah lain pernah mengalami kerusakan lingkungan akibat kurang pedulinya masyarakat terhadap ekosistem air. Bencana seperti banjir dan kekeringan di beberapa wilayah menjadi pelajaran berharga bahwa alam tidak bisa diabaikan begitu saja. Upaya pelestarian mata air harus terus dilakukan secara kolaboratif antara warga, pemerintah desa, pengelola wisata, dan berbagai organisasi lingkungan hidup. Sikap ini bukan hanya memastikan kelestarian ikan dewa, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Mengembalikan keanekaragaman hayati pada ekosistem lokal juga berdampak luas bagi sektor ekonomi dan sosial masyarakat. Ikan dewa yang tumbuh subur di lingkungan yang sehat dapat menarik minat wisatawan lokal maupun luar daerah, apalagi bila dikaitkan dengan kegiatan edukatif yang melibatkan sekolah atau komunitas lingkungan. Wisata alam yang berpadu dengan pendidikan ekologi terbukti mampu membuka wawasan baru tentang pentingnya konservasi sumber daya alam, sekaligus memberikan pemasukan tambahan bagi warga desa yang menjadi tuan rumah lokasi wisata tersebut.
Lebih jauh, pendekatan edukasi ekologis yang ditawarkan melalui pelepasan benih ikan ini membantu menanamkan nilai cinta lingkungan sejak dini kepada generasi muda. Disadari bahwa perubahan iklim, polusi, dan alih fungsi lahan merupakan ancaman nyata yang dapat merusak kualitas air dan habitat di seluruh dunia. Ketika anak-anak dan remaja terlibat dalam kegiatan seperti ini, mereka tidak hanya melihat ikan dewa dilepas ke perairan, tetapi juga memahami peran penting setiap makhluk hidup dan bagaimana tindakan kecil dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan lingkungan.
Upaya pelestarian ini juga berkaitan dengan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada. Di beberapa tempat, ikan dewa dianggap sebagai bagian dari warisan budaya dan ekosistem setempat yang unik. Masyarakat setempat memegang teguh prinsip bahwa spesies ini harus dilindungi dan dihormati, bahkan sampai pada larangan untuk menangkap atau mengonsumsi ikan dewa. Pemahaman semacam ini membantu menjaga ekosistem alami tetap stabil, sekaligus memupuk rasa hormat terhadap lingkungan hidup yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.
Bupati Kuningan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan pelestarian alam sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Ia percaya bahwa konservasi tidak harus selalu dilakukan dengan cara-cara besar dan rumit; bahkan kegiatan sederhana seperti melepas benih ikan ke habitatnya bisa menjadi simbol kuat dari komitmen bersama. Seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menggencarkan kampanye pelestarian ini di berbagai desa lain hingga ke tingkat sekolah-sekolah, sehingga kesadaran ekologis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kuningan.
Baca Juga:
Pemerintah Pusat Ambil Alih Izin Tambang Pasir Kuarsa Demi Tertibkan Tata Kelola dan Berantas Praktik Ilegal
Dengan demikian, kegiatan pelepasan ikan dewa tersebut bukan hanya sebuah acara satu kali, melainkan permulaan dari serangkaian aksi lanjutan yang menggabungkan pendidikan, pelestarian alam, dan pemberdayaan masyarakat. Mata air yang jernih dan ekosistem yang sehat adalah pondasi kehidupan berkelanjutan yang harus dijaga dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan di tengah derasnya arus perubahan lingkungan global, kisah kecil di Desa Sangkanurip ini menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam dimulai dari langkah-langkah lokal yang dilakukan bersama-sama oleh setiap warga.









