PROLOGMEDIA – Di tengah keramaian Kota Bandung, Gedung Sate berdiri gagah sebagai ikon sejarah sejarah Jawa Barat — sebuah bangunan yang menyimpan cerita kemajuan provinsi sejak masa lalu. Namun, bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, keindahan dan nilai sejarah gedung ini seolah-olah terhalang oleh lingkungan sekitar yang tidak selaras. Oleh karena itu, pada Jumat (21/11/2025), dalam wawancara via telepon, ia menjelaskan alasan pemerintah provinsi melakukan penataan ulang kawasan sekitar Gedung Sate: agar lingkungannya memiliki “chemistry” yang sempurna dengan bangunan ikonik tersebut.
Penting untuk dicatat bahwa renovasi ini hanya menyasar area luar gedung, bukan bangunan utamanya yang memiliki nilai sejarah tinggi. “Penataan hanya bagian luar Gedung Sate, karena itu bukan bangunan heritage. Itu sudah beberapa kali renovasi,” tegas Dedi. Dengan begitu, keaslian dan makna sejarah Gedung Sate sebagai simbol era kemajuan masa lalu tetap terjaga, sementara area sekitarnya diperbarui untuk menyesuaikan dengan zaman sekarang.
Tujuan utama penataan ini adalah menjadikan kawasan lebih ramah lingkungan dan sarat nilai filosofis yang mencerminkan jiwa Jawa Barat. Beberapa elemen kunci yang diubah antara lain penggunaan paving block menggantikan jalan aspal, yang bertujuan meningkatkan daya serap air dan mengurangi genangan saat hujan. Selain itu, pagar baru dibangun dengan memiliki makna simbolik yang dalam.
“Ya, bangunan itu harus punya makna, punya filosofi,” kata Dedi, menambahkan bahwa perancangan ini dilakukan oleh arsitek Sigit yang dikenal dengan gaya yang sangat filosofis. Setiap detail desain, mulai dari bentuk pilar hingga motif yang digunakan, dirancang untuk menyampaikan pesan budaya dan nilai-nilai lokal.
Salah satu peningkatan paling mencolok adalah pembangunan gapura baru yang mengadopsi filosofi dari seluruh daerah di Jawa Barat. Misalnya, elemen corak Candi Bentar yang telah terlihat pada pilar area luar gedung sejak Kamis (20/11/2025) bukan tanpa alasan — ia melambangkan persatuan dan harmonisasi berbagai budaya yang ada di provinsi yang luas ini. Gapura ini menjadi pintu gerbang yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa kawasan Gedung Sate adalah ruang pemerintahan yang mewakili semua warga Jawa Barat, tanpa memandang latar belakang budaya mereka.
Dedi juga menegaskan bahwa penataan ini tidak mengganggu prioritas pembangunan lain di Jawa Barat. Anggaran yang dikeluarkan relatif kecil dibandingkan dengan dana yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, dan penataan saluran sungai.
“Anggaran penataan Gedung Sate tidak seberapa dengan dana pembangunan jalan, listrik, dan penataan saluran sungai,” ujarnya.
Total anggaran untuk penataan kawasan seluas 4 hektare tersebut mencapai Rp 3,9 miliar, mencakup seluruh proses mulai dari perencanaan (DED), pembangunan gapura, hingga pelaksanaan konstruksi. Kawasan yang ditata meliputi area Gedung Sate itu sendiri dan bangunan pendukung di sekitarnya, seperti kantor Inspektorat dan instansi pemerintah lainnya.
Baca Juga:
ASDP Siaga Nataru 2025/2026, Perkuat 15 Lintasan Penyeberangan Strategis
Untuk memahami skala kawasan yang ditata, perlu diketahui bahwa tanah Gedung Sate memiliki luas 29.700 meter persegi, sedangkan lahan Gedung Setda A — termasuk gedung baru dan masjid — mencapai 23.150 meter persegi. Jika digabung, total lahan area Gedung Sate dan Gedung Setda A menjadi 52.850 meter persegi, yang menjadikannya salah satu kawasan pemerintahan terluas di Kota Bandung. Menurut Dedi, selama ini luas lahan yang besar itu tidak dimanfaatkan dengan baik, karena Gedung Sate tidak terlihat selaras dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.
“Saya melihat Gedung Sate sangat estetik, tapi lingkungan sekitarnya nggak match. Bangunan sekitar Gedung Sate itu tidak chemistry dengan Gedung Sate, jadi seolah-olah gedung itu berdiri sendiri,” jelasnya.
Oleh karena itu, Dedi menggagas agar seluruh bangunan di kawasan tersebut memiliki keselarasan desain yang menyatukan. Langkah ini dianggap penting untuk memperbarui simbol keberhasilan pembangunan.
“Gedung Sate itu simbol representasi keberhasilan pembangunan era zaman itu. Lalu kita renovasi kembali untuk menyesuaikan representasi keberhasilan pembangunan era zaman sekarang,” ujarnya.
Dengan kata lain, penataan ini bukan hanya tentang mempercantik lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan simbol baru yang mencerminkan kemajuan Jawa Barat di masa kini — sebuah paduan antara nilai sejarah dan visi masa depan.
Selain itu, penataan kawasan sekitar Gedung Sate juga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan bagi warga dan pengunjung yang datang ke area tersebut. Dengan jalan yang lebih ramah lingkungan, pagar yang simbolis, dan gapura yang indah, kawasan ini diharapkan dapat menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai, beraktivitas, atau bahkan hanya menikmati keindahan bangunan ikonik tersebut. Ini juga diharapkan dapat meningkatkan citra Kota Bandung sebagai kota yang memegang teguh nilai sejarahnya sambil terus berkembang menuju masa depan.
Dengan semua upaya ini, Dedi berharap bahwa kawasan Gedung Sate akan menjadi contoh bagaimana bangunan ikonik dapat hidup berdampingan dengan lingkungan yang modern, ramah lingkungan, dan sarat nilai filosofis.
Baca Juga:
Rahasia Daun Ciplukan Terungkap: 7 Manfaat Kesehatan yang Jarang Diketahui!
“Kita ingin agar Gedung Sate tidak hanya berdiri sendirian, tapi menjadi bagian dari kawasan yang harmonis dan mewakili semuanya yang ada di Jawa Barat,” tutupnya.









