PROLOGMEDIA – Di jantung Kota Bandung, di balik tembok megah Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), sebuah revolusi senyap tengah berlangsung. Bukan tentang inovasi medis yang rumit, melainkan tentang sebuah gerakan sederhana namun berdampak besar: pengolahan sampah organik menjadi eco-enzym. Di tengah krisis sampah yang menghantui kota, para sanitarian RSHS, garda terdepan penjaga kesehatan lingkungan rumah sakit, mengambil inisiatif untuk mengubah paradigma pengelolaan limbah.
Di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) RSHS, aroma busuk yang lazimnya menyertai sampah organik kini digantikan oleh wangi fermentasi yang lembut dan menyegarkan. Di sinilah, limbah sisa makanan pasien, yang dulunya dianggap sebagai beban, diubah menjadi sumber daya berharga. Gerakan ini lahir bukan dari laboratorium canggih atau investasi besar, melainkan dari kepedulian mendalam terhadap lingkungan dan kreativitas para sanitarian RSHS.
Chandra Ardifirdaus, salah satu sanitarian RSHS, mengungkapkan bahwa motivasi utama mereka adalah kepedulian terhadap lingkungan. Sebagai tenaga kesehatan lingkungan, mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar rumah sakit tetap sehat, bersih, dan aman. Di tengah aturan “tidak dipilah, tidak diangkut” yang diterapkan di Kota Bandung, RSHS tidak memiliki pilihan lain selain mengelola semua sampah dari sumbernya sendiri.
Setiap hari, dapur RSHS menghasilkan sekitar 60 kilogram sisa makanan, sayur, dan buah. Jika ditotal dengan sampah organik dari seluruh area rumah sakit, termasuk dedaunan, jumlahnya mencapai 400 kilogram per hari. Bagi sebagian orang, angka ini mungkin menakutkan. Namun, bagi Chandra dan timnya, semua itu adalah bahan baku berharga untuk menghasilkan eco-enzym.
Eco-enzym adalah hasil fermentasi sederhana dari air, molase, dan limbah organik. Proses fermentasi berlangsung selama 90 hari, menghasilkan cairan serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Para sanitarian RSHS tidak berhenti pada pembuatan eco-enzym saja. Mereka terus berinovasi dan mengembangkan puluhan turunan produk dari eco-enzym, seperti sabun cair, sabun batang, hand sanitizer, dan penghilang bau.
Yang lebih menakjubkan lagi, tidak ada yang terbuang dari proses pengolahan eco-enzym ini. Sisa fermentasi yang padat dijemur untuk dijadikan penghilang bau, sementara yang basah diblender untuk dijadikan bantal. Semua habis digunakan, menciptakan siklus ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Eksperimen eco-enzym ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi RSHS. Instalasi limbah tidak perlu lagi membeli bakteri tambahan seharga Rp 50 ribu per liter. Dengan memproduksi eco-enzym sendiri, para sanitarian dapat menghemat hingga Rp 30 juta per bulan.
Selama masa pandemi COVID-19, disinfektan alami buatan mereka menjadi alat pertahanan lingkungan rumah sakit. Produk eco-enzym ini tidak dikomersilkan, melainkan dimanfaatkan secara internal di rumah sakit untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Penelitian yang melibatkan akademisi dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan dan ITB menunjukkan hasil yang signifikan dalam penurunan parameter limbah seperti BOD, COD, TSS, hingga amonia. Hal ini membuktikan bahwa eco-enzym efektif dalam pengolahan limbah dan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Baca Juga:
Roti Panggang Alpukat Selai Kacang: Kombinasi Unik, Sehat Maksimal!
RSHS kini dikenal sebagai rumah sakit dengan produksi eco-enzym terbanyak. Namun, bagi Chandra dan timnya, yang terpenting bukanlah angka, melainkan kesadaran. Mereka menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak akan selesai hanya dengan inovasi kecil. Diperlukan lahan yang lebih luas untuk memperbesar skala produksi, tetapi setidaknya, gerakan kecil ini sudah berjalan konsisten setiap hari.
Chaerudin, sanitarian RSHS lainnya, menjelaskan bahwa pemanfaatan eco-enzym dimulai pada tahun 2023. Saat itu, tim yang terdiri dari empat orang mulai membeli wadah dan bahan untuk proses fermentasi.
“Bikin penelitian ternyata berhasil,” katanya. Penelitian ini menjabarkan tentang dosis yang paling efektif untuk menghasilkan eco-enzym berkualitas tinggi.
Chaerudin menjelaskan bahwa pembuatan eco-enzym dilakukan dengan memformulasikan tiga bahan, yakni air, bahan organik segar seperti buah dan sayuran yang belum dimasak, serta molase. Dengan perbandingan 1:3:10, bahan-bahan ini dicampur dan difermentasikan selama tiga bulan.
“Buah yang bagus itu yang getahnya sedikit, seperti nanas, semangka, melon, jeruk, hingga kiwi,” jelasnya.
Chaerudin berharap agar gerakan eco-enzym ini dapat menyentuh masyarakat luas, karena manfaat yang dihasilkan sangat besar, tidak hanya dalam pengolahan limbah organik, tetapi juga untuk lingkungan.
“Bahan organik yang diolah dengan metode eco-enzym ini tidak hanya menciptakan produk berkualitas seperti sabun dan disinfektan alami, tetapi juga jika dibubuhkan ke sungai atau danau, air tersebut bisa jernih kembali,” harapnya.
Di ruang IPAL, tong-tong fermentasi berdiri sebagai penjaga, di dalamnya sisa sayur dan buah yang semula dianggap tidak berguna kini diolah menjadi sesuatu yang kembali menyelamatkan lingkungan. Sebuah daur hidup sederhana namun penuh makna, yang mengingatkan kita bahwa setiap tindakan kecil dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga:
4 Menu Sarapan yang Diam-diam Bisa Memicu Kerusakan Ginjal
Kisah dari RSHS ini adalah inspirasi bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mengambil tindakan nyata untuk mengurangi limbah dan menciptakan masa depan yang lebih hijau.









