PROLOGMEDIA – Dahulu, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Bedulan di Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, bukanlah permukiman—melainkan hutan rimba lebat, tanpa penghuni, dan berada di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang pada masa itu dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.
Pada pertengahan abad ke-16, ketika Kesultanan Demak bersiap melancarkan penyerangan terhadap kekuasaan Portugis yang telah menguasai pelabuhan Sunda Kelapa (kini Jakarta), Demak membutuhkan lokasi persinggahan strategis bagi pasukannya.
Mendengar permintaan itu, Kesultanan Cirebon mengangkat seorang panglima wanita gagah, Nyi Mas Baduran, untuk membuka bagian hutan yang kini menjadi Bedulan. Tugasnya adalah menjadikan wilayah itu sebagai tempat persinggahan bagi pasukan Demak. Nyi Mas Baduran diberi restu dan perlindungan oleh pemimpin lokal — sang Mbah Kuwu, yang dikenal sebagai Pangeran Walang Sungsang — serta dibekali sebuah selendang sakti sebagai simbol dan alat bantuan dalam misinya.
Tiba di lokasi yang berada di utara Pelabuhan Muara Jati (sekarang Celangcang), Nyi Mas Baduran memulai pekerjaan berat itu sendirian: menebang pohon, membersihkan ilalang, meratakan medan agar bisa dilalui pasukan. Karena beratnya beban, ia akhirnya memutuskan membakar ilalang yang kering agar lebih cepat membuka lahan. Dalam upaya itu, untuk mempercepat penyebaran api, ia mengibaskan selendangnya ke bara api sambil berucap bahwa tempat di mana bara itu jatuh akan menjadi batas tanah persinggahan — sebuah penetapan wilayah yang akan dikenal sebagai tanah “Baduran”. Setelah semua api padam, Nyi Mas Baduran berkeliling menandai batas wilayah yang kini meliputi daerah Bedulan.
Namun proses pembukaan hutan yang dilakukan Nyi Mas Baduran tak berjalan mulus tanpa gesekan. Konon, muncul konflik dengan tokoh setempat, Ki Gede Bakung, yang mengklaim wilayah tersebut sebagai bagian dari desanya. Perseteruan itu memuncak dalam pertarungan sengit penuh ilmu dan keberanian — sebuah pertempuran yang berlangsung berminggu-minggu antara kedua petarung.
Pada akhirnya, dalam sebuah kejadian tragis, pertempuran itu berakhir dengan kematian keduanya. Dalam versi legenda yang berkembang, kejatuhan Nyi Mas Baduran terjadi ketika kaki atau kakinya tersangkut sebatang pohon labu hitam — sehingga ia terguling dan tak bisa bangkit. Kesempatan itu dimanfaatkan Ki Gede Bakung untuk menghunus keris dan menyudutkannya. Meski Nyi Mas Baduran sempat melawan dan menyerang balik, lukanya terlalu parah, dan ia akhirnya meninggal dunia. Ki Gede Bakung pun juga gugur dalam pertempuran.
Baca Juga:
Perkuat Sabuk Hijau Pesisir, Gubernur Banten Ajak Masyarakat Rawat Mangrove
Menjelang ajal, Nyi Mas Baduran sempat menyampaikan wasiat kepada anak cucunya: agar di kemudian hari tanah ini jangan ditanami pohon labu hitam. Wasiat itu lalu menjadi tradisi turun-temurun — hingga hari ini, masyarakat setempat menolak menanam labu hitam di tanah Bedulan, menghormati leluhur dan menjaga kesucian tanah mereka.
Setelah peristiwa itu, pihak Kesultanan Cirebon merasa prihatin. Untuk menghormati jasa dan pengorbanan Nyi Mas Baduran, seorang putri dari keluarganya, Nyi Mas Pulung Ayu, bersama seorang bangsawan di bawah Kesultanan, Pangeran Jaya Lelana, ditugaskan untuk mengurus pemakaman Nyi Mas Baduran secara layak. Setelah ritual duka selesai, keduanya memilih menetap di daerah yang dulu dipersiapkan sebagai persinggahan — merawat kuburan sang panglima perempuan dan membina komunitas kecil di sana. Tempat persinggahan itu pun mulai berubah menjadi pedukuhan.
Kelak, pasukan Demak yang datang setelah menaklukkan Sunda Kelapa—dipimpin oleh panglima Fatahilah dengan sekitar 30.000 prajurit—beberapa di antaranya memutuskan menetap di pedukuhan itu. Alhasil, pedukuhan kecil itu tumbuh berkembang, menjadi pemukiman tetap.
Pada tahun 1565, pedukuhan tersebut secara resmi diakui menjadi desa dengan kepala desa pertama bernama Kuwu Wertu. Tak lama kemudian, pada 1576, status administrasinya dinaikkan menjadi “pademangan,” sebuah tingkatan pemerintahan di masa itu, di bawah pimpinan Pangeran Jaya Lelana, yang mendapat gelar Adipati Suranenggala.
Seiring waktu, terjadi perubahan administrasi dan pengaruh kolonial. Pada masa kekuasaan Belanda, wilayah ini dikendalikan ulang. Maka “Baduran” pun berubah sebutannya menjadi “Bedulan,” kemungkinan karena pelafalan kolonial atau dialek lokal. Setelah pemekaran wilayah pada zaman kemerdekaan, nama Bedulan sempat dibagi menjadi beberapa desa kecil: antara lain “Bedulan Kidul” dan “Suranenggala Lor/Kulon/Lor–Kidul.” Pada tahun 2006, melalui Perda No. 17/02/12, Kecamatan Suranenggala ditetapkan secara resmi sebagai wilayah administratif.
Kini, warisan sejarah tersebut masih lekat dalam identitas dan tradisi masyarakat. Tanah Bedulan dianggap sakral — bukan sekadar karena kisah heroik pendirinya, tetapi juga sebagai pengingat perjuangan, pengorbanan, dan solidaritas awal komunitas. Pantangan menanam labu hitam yang diwariskan Nyi Mas Baduran terus dihormati dan dipatuhi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Baca Juga:
Indonesia Absen! Ini Daftar Kota Paling Ramah di Dunia Tahun 2025
Kisah Desa Bedulan — dari hutan rimba, persinggahan pasukan, pertempuran dengan tokoh lokal, hingga berubah menjadi desa berpenduduk — menjadi cermin betapa banyak kawasan pedesaan di Nusantara memiliki akar sejarah yang dalam. Ia bukan sekadar pemukiman acak, melainkan hasil dari upaya diplomasi, peperangan, migrasi, dan keberanian individu. Dengan memahami asal-usul Bedulan, kita bisa lebih menghargai warisan budaya, tradisi dan identitas masyarakat setempat — sebuah pelajaran penting bahwa di balik nama sebuah desa, bisa tersimpan kisah panjang perjuangan dan sejarah leluhur.









