JAKARTA, 7 November 2025 – Istilah shake out run mungkin terdengar familiar di telinga para penggemar olahraga lari. Aktivitas ringan ini kerap kali menjadi ritual wajib yang dilakukan sehari sebelum sebuah race besar digelar. Namun, apa sebenarnya shake out run itu? Mengapa aktivitas sesederhana ini begitu penting bagi para pelari, bahkan menjadi semacam tradisi yang tak terpisahkan dari sebuah perhelatan lari?
Secara sederhana, shake out run bisa diartikan sebagai sesi pemanasan ringan yang dilakukan dengan durasi singkat dan kecepatan rendah. Jarak yang ditempuh biasanya tidak lebih dari 5 kilometer, tujuannya bukan untuk menguras energi, melainkan untuk mempersiapkan fisik dan mental sebelum menghadapi tantangan yang lebih berat di hari berikutnya.
Banyak yang menyebutnya sebagai “pemanasan”, namun sebenarnya shake out run memiliki manfaat yang jauh lebih kompleks dari sekadar menghangatkan badan.
Salah satu fungsi utama shake out run adalah melancarkan peredaran darah. Gerakan-gerakan ringan saat berlari membantu memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk otot-otot yang akan bekerja keras saat race.
Dengan peredaran darah yang lancar, otot-otot menjadi lebih lentur dan siap menerima beban latihan yang lebih intens. Selain itu, shake out run juga membantu melemaskan otot-otot yang mungkin terasa kaku atau tegang akibat persiapan dan latihan yang dilakukan sebelumnya.
Lebih dari sekadar persiapan fisik, shake out run juga memiliki peran penting dalam menenangkan saraf dan mengurangi rasa gugup. Menjelang sebuah race, wajar jika seorang pelari merasa tegang atau cemas. Pikiran tentang target waktu, persaingan, atau bahkan kekhawatiran akan kemungkinan cedera dapat mengganggu fokus dan performa.
Shake out run memberikan kesempatan bagi para pelari untuk melepaskan ketegangan tersebut, menjernihkan pikiran, dan memfokuskan diri pada tujuan yang ingin dicapai.
Manfaat lain dari shake out run adalah menjaga fungsi pernapasan. Aktivitas ringan ini membantu paru-paru untuk tetap bekerja secara optimal, sehingga pelari dapat bernapas dengan lebih efisien saat race.
Selain itu, shake out run juga dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi cuaca dan permukaan lintasan lari. Dengan mengetahui kondisi lingkungan sekitar, pelari dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Menjelang Jakarta Running Festival (JRF) 2025, aplikasi pendukung gaya hidup aktif, Strava, menggelar shake out run pada 24 Oktober lalu. Acara yang bertempat di Inner Circle x Stuja, SCBD Park ini mengajak para kreator, komunitas lari, dan rekan media untuk merasakan langsung manfaat dari shake out run.
Baca Juga:
AHY Resmikan Kapal Ro-Ro dan Optimalisasi KA Logistik di Cilegon: Logistik Makin Ngebut!
Para peserta berlari sejauh 3,5 km di sekitar SCBD Park, menikmati suasana kota yang ramai sambil mempersiapkan diri untuk JRF 2025.
Di akhir acara, para peserta berkesempatan untuk berdiskusi dengan Rosana Fortes selaku Strava Country Lead Brasil dan Indonesia. Dalam sesi tanya jawab yang santai, Rosana berbagi tips dan trik seputar shake out run dan bagaimana Strava dapat membantu para pelari dalam mencapai tujuan mereka.
Strava sendiri menjadi Official Course Map Partner untuk JRF 2025, menghadirkan berbagai kesempatan bagi pelari dan suporter untuk meramaikan acara tersebut melalui inisiatif unik, seperti Strava Cheering Zone dan Strava Segments Challenge.
Strava Cheering Zone akan menjadi zona dukungan yang enerjik di mana para pelari bisa mendapatkan dorongan motivasi melalui sorak-sorai yang kencang, musik, dan semangat komunitas. Sementara itu, Strava Segments Challenge akan memberikan kesempatan bagi para pelari Half Marathon dan Full Marathon untuk memenangkan tiket JRF di tahun berikutnya.
“Saya pikir olahraga lari itu sangat demokratis, dan kita melihat ada momentum besar di JRF 2025. Sekitar 30.000 lebih pelari akan bertanding, membuat kerja sama ini menjadi kesempatan awal yang baik untuk Strava di Indonesia,” ujar Rosana.
Selain itu, Strava juga meresmikan Strava Indonesia Club, sebuah ruang khusus bagi para anggota untuk saling terhubung dan berbagi perjalanan latihan mereka. Klub ini akan menumbuhkan semangat komunitas dengan mendorong progress, merayakan pencapaian, serta memberikan kudos kepada sesama pegiat olahraga yang memiliki minat serupa.
Bagi Sabian Tama, seorang Strava Creator, Strava bukan hanya sekadar aplikasi untuk mencatat aktivitas olahraga. Lebih dari itu, Strava telah membantunya untuk tetap konsisten dalam berlatih, memahami pola latihan, dan melihat sejauh mana progress yang telah dicapai.
“Buat saya, Strava itu bukan cuma aplikasi buat nge-track olahraga, tapi juga yang bikin saya lebih konsisten latihan, bantu saya ngerti pola latihan, dan lihat sejauh apa progress saya. Yang paling saya suka, Strava bikin saya bisa connect sama teman-teman yang punya energi aktif dan sporty. Jadi tiap sesi terasa lebih fun dan nggak pernah berasa sendirian. Sebagai pelari baru, saya ngerasa Strava itu tempat yang terbuka buat semua level pengalaman,” ujar Sabian.
Dengan semakin dekatnya JRF 2025, para pelari pun semakin mempersiapkan diri dengan berbagai cara. Shake out run menjadi salah satu ritual penting yang tak boleh dilewatkan, sebagai persiapan fisik dan mental sebelum menghadapi tantangan yang sebenarnya.
Baca Juga:
Cara Tepat Menyimpan Daging Ayam di Kulkas agar Tetap Segar, Aman, dan Tahan Lama
Dukungan dari komunitas dan aplikasi seperti Strava semakin memeriahkan suasana dan memberikan semangat baru bagi para pelari untuk mencapai yang terbaik. JRF 2025 bukan hanya sekadar race, tetapi juga perayaan semangat olahraga dan persahabatan.









