PROLOGMEDIA – Belasan siswa di SMPN 1 Kendal tersentak kaget dan menderita gejala keracunan tak lama setelah menyantap paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 17 siswa yang mengonsumsi menu tersebut merasakan mual, pusing, dan gangguan pencernaan — hingga harus dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas.
Penyelidikan cepat dilakukan oleh tim dari Polres Kendal melalui unit Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes). Mereka mengambil sampel makanan dari paket MBG dan melakukan pemeriksaan food-safety langsung di lokasi distribusi.
Menu pada paket MBG tersebut terdiri dari nasi putih, sayur pakcoy, sapi lada hitam, tempe goreng, dan pisang. Namun dari hasil uji organoleptik dan kimiawi — pengujian yang melihat aroma, tekstur, warna serta kandungan kimia — sayur pakcoy dinyatakan sudah tidak layak konsumsi. Teksturnya berubah menjadi lengket, kuahnya pekat, warnanya tampak abnormal, dan yang paling mengkhawatirkan: kandungan nitrit dalam sayur tersebut jauh melampaui ambang batas aman. Idealnya kandungan nitrit tidak lebih dari 1 mg/l, sementara sayur pakcoy itu menunjukkan kandungan mencapai 40 mg/l.
Sementara menu lain dalam paket — nasi, daging sapi lada hitam, tempe, serta buah — dinyatakan aman. Artinya, dugaan kuat penyebab keracunan adalah sayur pakcoy yang sudah terkontaminasi.
Menindaklanjuti temuan ini, operasi distribusi dari penyedia — SPPG Sijeruk — dihentikan sementara. Saat wartawan meninjau lokasi pada Kamis pagi, dapur penyedia sudah terlihat tutup. Kepala dapur, Faturahim Nasuka Gozi, menyatakan pihaknya akan menunggu hasil lengkap uji dari tim kesehatan di kabupaten sebelum kembali beroperasi.
Menurut Fatur, paket makanan dikemas sejak dini hari: proses memasak dimulai sekitar pukul 01.00 WIB, dan sayur pakcoy sendiri mulai dimasak sekitar pukul 03.00 WIB. Paket dikirim ke sekolah sekitar pukul 09.00 WIB. Ironisnya, SPPG Sijeruk baru beroperasi sekitar sembilan hari dan sudah mendistribusikan ke lima sekolah, dengan total kurang lebih 1.250 paket MBG. Dari jumlah itu, 510 paket dikirim ke SMPN 1 Kendal.
Baca Juga:
Warisan Sehat Nusantara: Ragam Jamu Tradisional dan Khasiat Alaminya
Sebelumnya sebelum distribusi massal, sekolah sempat melakukan sampling satu paket MBG. Paket itu dicicipi oleh kepala tata usaha serta seorang guru yang memiliki pengalaman di bidang catering. Namun keduanya baru merasakan “tidak enak badan” beberapa menit setelah mencicipi. Karena itu, sekolah akhirnya memutuskan untuk menunda pembagian ke seluruh siswa. Meski demikian, distribusi tetap berlangsung ke sejumlah kelas — dan pada akhirnya 17 siswa menunjukkan gejala keracunan.
Para siswa yang terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan antara lain 10 orang ke IGD RSUD Soewondo Kendal, 5 orang ke Puskesmas Kendal, dan 2 siswa lainnya menjalani perawatan di rumah karena kondisinya lebih ringan.
Kasus ini bukanlah yang pertama untuk program MBG. Di berbagai daerah lain pun telah terjadi insiden serupa: misalnya belasan hingga ratusan siswa di sekolah–sekolah berbeda dilaporkan keracunan setelah menyantap menu MBG.
Kejadian di Kendal ini menimbulkan keprihatinan mendalam terkait kontrol kualitas dan keamanan pangan dalam program yang semula ditujukan untuk membantu kesejahteraan pelajar. Program MBG memang dirancang untuk memberikan makanan bergizi bagi siswa, tetapi praktik distribusi — dari dapur produksi, metode penyimpanan, hingga pengantaran — harus memenuhi standar higienis dan keamanan makanan agar tidak justru membahayakan.
Kini, pihak berwenang masih menunggu hasil lengkap pemeriksaan kimia dan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Jika terbukti keterlaluan dalam proses produksi atau distribusi, maka sejumlah pihak penyedia — termasuk dapur MBG — bisa dikenai tanggung jawab atas terjadinya insiden ini. Sementara bagi sekolah, orang tua, dan siswa, kejadian ini menjadi peringatan penting bahwa meski makanan digratiskan dan tampak layak, keamanan tetap harus menjadi prioritas utama.
Kondisi para siswa telah sebagian besar membaik, namun kekhawatiran di masyarakat — terutama orang tua siswa — meningkat. Banyak yang menuntut evaluasi ketat terhadap mekanisme pengadaan, pengolahan, dan distribusi MBG ke sekolah. Sebab, tujuan mulia memberikan nutrisi bagi pelajar tak boleh ternoda oleh kelalaian dalam aspek kesehatan dan keselamatan.
Baca Juga:
Skandal ‘Sepatu Lokal Rasa China’: Industri Alas Kaki Nasional di Ujung Tanduk?
Semoga kasus ini menjadi momentum bagi pihak terkait untuk memperbaiki standar dan prosedur dalam program MBG — agar makanan yang disajikan benar-benar aman, higienis, dan layak dikonsumsi, dan tak lagi menyebabkan risiko bagi anak-anak yang seharusnya mendapat manfaat.









