PROLOGMEDIA – Pemerintah Provinsi Banten kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu sesama melalui program kemanusiaan bertajuk Banten Peduli Bencana. Komitmen tersebut diwujudkan dengan penyaluran bantuan keuangan senilai Rp3 miliar serta berbagai kebutuhan logistik penting bagi masyarakat yang saat ini sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Bantuan ini menjadi simbol kuat bahwa solidaritas kebangsaan tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata dan terukur untuk meringankan beban saudara sebangsa.
Pelepasan bantuan dilakukan di Gedung Negara Provinsi Banten, dan dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Banten, Deden Apriandhi, yang juga memegang amanah sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten. Dalam suasana yang penuh empati, Deden menegaskan bahwa gerakan ini adalah ungkapan keprihatinan sekaligus kepedulian mendalam dari pemerintah dan masyarakat Banten terhadap penderitaan warga di tiga provinsi di Sumatera tersebut. Menurutnya, apa yang diberikan mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi para korban, namun bantuan ini adalah tanda bahwa rasa persaudaraan tetap erat, apa pun perbedaan jarak dan latar belakang.
Dalam sambutannya, Deden menyampaikan pesan yang dititipkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. Mereka menekankan bahwa musibah yang menimpa masyarakat di Sumut, Sumbar, dan Aceh bukanlah musibah yang berdiri sendiri. Masyarakat Banten memandang penderitaan tersebut sebagai bagian dari penderitaan mereka sendiri. Rasa kebersamaan inilah yang menjadi dorongan kuat bagi Pemprov Banten untuk menggerakkan sumber daya yang ada dan menyalurkannya tepat waktu kepada para korban.
Penyaluran bantuan keuangan dilakukan dengan sistematis. Dana sebesar Rp3 miliar yang bersumber dari APBD dibagi rata untuk tiga provinsi terdampak, yang masing-masing menerima Rp1 miliar. Dana ini kemudian diserahkan secara simbolis kepada perwakilan badan penghubung dari ketiga daerah, sebagai bentuk sinergi antarprovinsi dalam menghadapi bencana alam. Selain bantuan berupa dana tunai, Pemprov Banten juga melepas sembilan kendaraan distribusi yang memuat logistik dengan beragam jenis kebutuhan penting bagi para korban. Di antara barang-barang yang dikirimkan terdapat 10 ton beras, perlengkapan mandi dan kebersihan, perlengkapan keluarga seperti pakaian anak, selimut, terpal, hingga kebutuhan khusus seperti popok bayi dan pembalut wanita. Semua ini merupakan barang-barang yang sangat dibutuhkan dalam masa darurat ketika banyak warga kehilangan akses terhadap sumber daya dasar.
Gerakan Banten Peduli Bencana bukan hanya mengandalkan kekuatan pemerintah daerah. Banyak pihak turut terlibat untuk memastikan bantuan yang dikirim semakin lengkap dan memiliki daya guna tinggi bagi para korban. Dukungan datang dari berbagai sektor, mulai dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Palang Merah Indonesia (PMI), hingga pihak swasta dan organisasi masyarakat. PMI Banten menyumbangkan tiga tangki air bersih, sementara PT Jamkrida Banten memberikan dukungan berupa 100 paket sembako. Tidak hanya itu, Pramuka Kwarda Banten turut berpartisipasi dengan menyumbangkan sejumlah dana, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Banten ikut menyalurkan bantuan Rp100 juta. Kehadiran berbagai pihak ini memperlihatkan bahwa solidaritas tidak hanya milik pemerintah, melainkan juga dibangun dari rasa kepedulian seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga:
Dari Durian Hingga Tikus: Kilas Balik Dunia Kuliner yang Bikin Penasaran
Sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk membantu pemulihan para korban, BPBD Banten juga membuka ruang partisipasi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Banten untuk turut menyumbang secara sukarela. Penggalangan donasi tersebut berlangsung mulai 3 hingga 20 Desember 2025, tanpa target nominal. Semua sumbangan yang terkumpul direncanakan akan disalurkan secara langsung dan transparan kepada masyarakat yang terdampak. Langkah ini tidak hanya memperluas cakupan bantuan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di lingkungan pemerintahan.
Respons positif datang dari daerah-daerah yang menerima bantuan. Kepala Badan Penghubung Provinsi Sumatera Barat, Aschari Cahyaditama, menyampaikan apresiasi tinggi atas langkah cepat Pemprov Banten. Menurutnya, inisiatif Banten untuk segera mengambil tindakan menunjukkan bahwa hubungan antardaerah di Indonesia masih diikat oleh rasa persaudaraan yang kuat. Bantuan yang dikirimkan, kata Aschari, bukan sekadar materi, tetapi menjadi penyemangat bagi warga Sumatera Barat untuk bangkit dari keterpurukan.
Kepala Badan Penghubung Provinsi Aceh, Said Marzuki, juga memberikan ungkapan terima kasih serupa. Ia menyebutkan bahwa dukungan yang diberikan oleh masyarakat dan pemerintah Banten sangat berarti di tengah tantangan besar yang dihadapi Aceh. Bantuan yang datang, terutama dalam bentuk logistik dasar, sangat membantu percepatan pemulihan, sehingga warga bisa beraktivitas kembali dan mulai membangun kehidupan mereka pascabencana.
Harapan besar juga disampaikan oleh Pemprov Banten. Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat luas, diharapkan proses pemulihan dan rehabilitasi di wilayah-wilayah terdampak dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada solidaritasnya. Ketika satu daerah mengalami kesulitan, daerah lain hadir memberikan dukungan. Semangat kebersamaan ini menjadi fondasi utama bagi ketahanan nasional, terutama dalam menghadapi bencana alam yang datang tanpa diduga.
Baca Juga:
Doyan Makan Telur Bikin Kolesterol Tinggi? Begini Fakta Terbarunya
Pemprov Banten meyakini bahwa bantuan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan panjang pemulihan. Mereka siap terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak bisa terpenuhi dalam waktu yang lebih panjang. Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama diharapkan dapat memberikan dampak besar bagi pemulihan kehidupan saudara-saudara di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.









