CILEGON – Di bawah terik matahari yang menyengat, ratusan perempuan dari Bojonegara dan Puloampel, yang dengan gagah berani menamakan diri mereka “Srikandi Bojonegara,” berdiri tegak menghadang laju kendaraan. Aksi blokade jalan Cilegon-Bojonegara yang mereka lakukan sejak Senin pagi, 7 November 2025, bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini adalah luapan kekecewaan, sebuah teriakan dari lubuk hati para ibu yang resah akan keselamatan anak-anak mereka dan masa depan lingkungan tempat mereka tinggal.
Sejak dini hari, semangat perjuangan telah membara di tiga titik strategis: Lapangan Pelindo di Kecamatan Pulo Ampel, Parkiran Utama Gunung Santri di Kecamatan Bojonegara, dan Gerbang Tol Cilegon Timur. Di sanalah, para Srikandi Bojonegara berkumpul, menyatukan tekad untuk menolak segala bentuk ketidakadilan yang mereka rasakan.
Onni Najib Hanafi, seorang wanita tangguh yang menjadi koordinator aksi, dengan lantang menyuarakan aspirasi para emak-emak. Ia mengungkapkan bahwa aksi ini adalah wujud solidaritas dan keprihatinan mendalam terhadap maraknya truk-truk bertonase besar yang lalu lalang di kawasan Bojonegara-Puloampel di luar jam operasional yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kami sebagai orang tua sangat khawatir dengan banyaknya truk yang melintas di luar jam operasional, terutama pada jam-jam sekolah. Ada sekitar sepuluh sekolah yang berada di jalur perlintasan truk. Ini sangat membahayakan keselamatan anak-anak kami,” tegas Oni dengan nada prihatin.
Sebagai seorang ibu dan istri anggota DPRD Kabupaten Serang, Oni merasakan betul keresahan yang dialami oleh para emak-emak lainnya. Ia memahami bahwa keselamatan anak-anak adalah prioritas utama, dan pemerintah seharusnya lebih peka terhadap masalah ini.
Selain masalah keselamatan anak-anak, para Srikandi Bojonegara juga menuntut perbaikan infrastruktur yang rusak akibat lalu lintas truk yang padat. Mereka mendesak pemerintah untuk memperluas jalan Serang-Bojonegara-Merak (SBM) agar layak disebut sebagai jalan nasional, serta memasang penerangan jalan umum (PJU) yang memadai.
“Kami mendesak kepada Bupati, Gubernur, dan Presiden, dalam hal ini pemerintah pusat, untuk segera memperbaiki infrastruktur yang sudah tidak layak dan kurang pada tiap-tiap jalan yang ada di Bojonegara dan Puloampel,” ungkap Oni dengan nada penuh harap.
Kecelakaan akibat tanah yang berserakan di jalan raya dan kecelakaan yang melibatkan truk dan warga juga menjadi perhatian utama para Srikandi Bojonegara. Mereka merasa bahwa pemerintah belum serius menangani masalah ini, sehingga korban terus berjatuhan.
Baca Juga:
Jejak Kuliner Legendaris Jakarta Timur yang Tetap Jadi Favorit dari Generasi ke Generasi
“Kalau tidak salah, ada pernyataan pemerintah yang mengizinkan hanya 80 truk yang beroperasi. Namun kenyataannya, ada sekitar 300 truk yang beroperasi, yang mengakibatkan jalan amblas di beberapa titik seperti Gunung Santri dan depan SMPN Bojonegara,” imbuh Oni dengan nada geram.
Ketika Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, Deden Apriandhi, mencoba menemui para demonstran, ia justru mendapat penolakan keras. Warga mengusir Sekda dan dengan tegas menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertemu dengan Andra Soni, seorang tokoh yang mereka percaya dapat memperjuangkan aspirasi mereka.
“Tadi Sekda Banten juga datang, langsung kami usir. Kami tidak butuh Sekda, kami mau Pak Andra Soni,” ujar Oni menirukan perkataan para pendemo dengan semangat membara.
Para Srikandi Bojonegara menuntut pemerintah untuk mengevaluasi total Keputusan Gubernur (KEPGUB) No. 567 Tahun 2025 tentang Jam Operasional Truk Tambang. Mereka menilai bahwa keputusan tersebut tidak memberikan efek positif bagi masyarakat Bojonegara dan Puloampel, justru malah memperburuk keadaan.
“Kami hanya ingin ditutup tambang-tambang ilegal yang ada di daerah kami, biar tidak ada lagi korban jiwa berjatuhan,” tegas Oni dengan nada penuh harap.
Para Srikandi Bojonegara bertekad untuk terus berjuang bersama emak-emak lainnya, membela kepentingan masyarakat luas agar Bojonegara-Puloampel kembali menjadi tempat yang tentram dan damai. Mereka percaya bahwa dengan semangat persatuan dan kegigihan, mereka dapat mencapai tujuan yang mereka impikan.
Aksi blokade jalan ini adalah bukti nyata bahwa suara perempuan memiliki kekuatan yang besar. Para Srikandi Bojonegara telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan merajalela. Mereka akan terus berjuang hingga pemerintah benar-benar mendengarkan aspirasi mereka dan mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan.
Semangat perjuangan para Srikandi Bojonegara ini patut diacungi jempol. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang demi keselamatan anak-anak mereka, masa depan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat Bojonegara-Puloampel.
Baca Juga:
Drama Pencurian 15 iPhone di Lampung: Motif Rumah Tangga, Pengiriman Misterius, hingga Penangkapan Pelaku
Semoga perjuangan mereka membuahkan hasil yang positif dan menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di seluruh Indonesia.









