Menu

Mode Gelap

Wisata · 3 Des 2025 18:11 WIB

Terowongan Sasaksaat: Warisan Kolonial Berusia Seabad yang Masih Aktif Dilintasi Kereta


 Terowongan Sasaksaat: Warisan Kolonial Berusia Seabad yang Masih Aktif Dilintasi Kereta Perbesar

PROLOGMEDIA – Sejak awal abad ke-20, di tengah perbukitan Cidepong, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat — bersemayam sebuah struktur panjang, gelap, dan tebal sejarah: Terowongan Sasaksaat. Dibangun pada tahun 1902–1903 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), terowongan ini merupakan salah satu prestasi teknik besar di zamannya.

 

Dengan panjang sekitar 949 meter, Terowongan Sasaksaat tercatat sebagai terowongan kereta api terpanjang dari era kolonial yang hingga hari ini masih aktif melayani lalu lintas kereta. Jalur ini membentang di antara Km 143+144, tepat di antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat — menembus bukit dan menciptakan koridor gelap yang terus dilintasi kereta di sepanjang hari.

 

 

 

Proyek teknik di kala kolonial

 

Membangun terowongan sepanjang hampir satu kilometer di perbukitan bukan pekerjaan ringan—apalagi saat itu teknologi masih sangat terbatas. Pekerjaan dilakukan secara manual oleh tenaga kerja yang kebanyakan pribumi dan Tionghoa, dengan alat seadanya seperti linggis dan balincong. Sementara orang Eropa mengambil posisi sebagai mandor dan pengawas.

 

Penggalian dilakukan dari dua arah secara bersamaan — dari utara dan selatan — dan entah bagaimana, setelah berbulan-bulan menggali, kedua sisi itu bertemu tepat di tengah, membentuk terowongan lurus dan terukur. Tanpa GPS, tanpa peralatan canggih modern: hanya keterampilan manual dan perhitungan yang matang.

 

Untuk menghadapi tantangan alam — rembesan air, tanah bukit yang rapuh, serta kebutuhan drainase — para insinyur kolonial merancang struktur terowongan dengan seksama. Di bagian tengah jalur, rel dibuat sedikit menanjak agar air tanah bisa saluran ke samping. Atap dan dinding terowongan diberi lapisan semen sebagai pelindung terhadap rembesan dan potensi longsor.

 

 

 

Terowongan yang tetap “hidup” di zaman modern

 

Lebih dari seabad berlalu, tetapi Terowongan Sasaksaat tetap berfungsi. Ia kini berada di bawah pengelolaan Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi II Bandung, dan masih dilintasi berbagai rute — dari kereta penumpang hingga angkutan barang.

 

Struktur lawas ini — yang dulu dibangun dengan tenaga manusia dan alat minimal — terus menahan guncangan waktu, dan menunjukkan betapa kokohnya karya teknik zaman dulu. Bahkan ketika banyak infrastruktur modern lain muncul kemudian, terowongan ini tetap relevan, menjadi bagian dari denyut nadi transportasi lintas Jawa.

 

 

 

Jejak sejarah, cerita manusia, dan tragedi tersembunyi

Baca Juga:
Banten Tegaskan Komitmen Antikorupsi Lewat Visi Pembangunan di Hakordia 2025

 

Namun di balik kokohnya struktur, ada kisah pahit di balik pembangunan terowongan ini. Banyak pekerja — pribumi maupun Tionghoa — yang saat itu dipaksa bekerja keras, menghadapi kondisi keras: menggali batu cadas, memindahkan tanah berat, bekerja siang malam di tengah kegelapan. Ratusan bahkan mungkin lebih jatuh sakit, banyak yang meninggal.

 

Beberapa cerita bahkan mengatakan bahwa para pekerja yang meninggal dimakamkan di sekitar terowongan — menjadikannya tidak hanya jalur transportasi, melainkan juga saksi bisu penderitaan manusia di masa kolonial.

 

Karenanya, meskipun terowongan ini kini bersinar sebagai warisan teknik dan sejarah, bagian paling gelap dari kisahnya tetap tak bisa diabaikan: bahwa kemegahan sering dibayar mahal dengan darah dan nyawa orang-orang yang dibungkam sejarah.

 

 

 

Warisan yang hidup: identitas, estetika, dan daya tarik masa kini

 

Kini, Terowongan Sasaksaat bukan sekadar jalur kereta. Bagi sebagian orang, ia menjadi saksi sejarah, monumen arsitektur, dan lambang ketangguhan konstruksi zaman kolonial. Bagi yang lain, ia adalah pintu ke masa lalu — ke ingatan tentang perjuangan, penderitaan, hingga kemajuan.

 

Lingkungan di sekitarnya, dengan pegunungan dan suasana alam yang menggugah, menambah aura dramatis terowongan itu. Ada yang melihat sisi mistis: kisah tentang arwah pekerja, tentang kabut yang tiba-tiba menyelimuti mulut terowongan, tentang suara samar jauh dari dalam terowongan pada malam hari — semua itu membaur dengan alam, sejarah, dan persepsi manusia.

 

Bagi para pecinta sejarah perkeretaapian, railfans, dan penikmat fotografi, terowongan ini menawarkan panorama tak biasa: rel melingkar masuk ke gelap, cahaya kereta yang muncul seperti kilatan di lorong panjang, dinding batu dan semen yang mengingatkan pada zaman lampau. Ada nuansa nostalgia yang berat, sekaligus kekaguman terhadap ketekunan dan presisi para pembangunnya.

 

 

 

Refleksi: Menggali masa lalu tanpa melupakan manusia

 

Memandang Terowongan Sasaksaat hari ini, kita diingatkan bahwa setiap infrastruktur besar biasanya punya cerita panjang — tidak hanya soal beton, rel, dan batu, tetapi juga kehidupan manusia di baliknya. Terowongan ini bukan sekadar bukti kemampuan teknik kolonial, tapi juga saksi bisu penderitaan pekerja yang mungkin tak tercatat namanya, tapi jiwanya tertinggal di lorong beton yang panjang.

 

Di era modern, saat banyak proyek infrastruktur dibanggakan, warisan seperti Terowongan Sasaksaat memberi pelajaran penting: bahwa kemajuan harus menghormati sejarah manusia — termasuk yang tersembunyi di balik setiap pilar dan batu yang tampak kokoh.

 

Baca Juga:
Imparsial Kritik Keras Pelibatan Militer dalam Penertiban Tambang Ilegal, Singgung Ancaman Militerisasi Penegakan Hukum

Dan saat kereta api melewati terowongan itu setiap hari, mungkin angin dari dalam rel membawa lebih dari sekadar gerbong dan penumpang — ia membawa gema masa lalu, jerit kaum yang dibisukan zaman, dan teguhnya bangunan yang hidup melewati zaman.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata