Menu

Mode Gelap

Berita · 1 Des 2025 13:53 WIB

TNI AD Perketat Pengamanan Kilang Pertamina Cilacap dengan Dikerahkannya 110 Prajurit


 TNI AD Perketat Pengamanan Kilang Pertamina Cilacap dengan Dikerahkannya 110 Prajurit Perbesar

PROLOGMEDIA – Mulai awal Desember 2025, suasana pengamanan kilang minyak di area Cilacap, Jawa Tengah, berubah signifikan. Sebanyak 110 prajurit TNI AD dikerahkan untuk mengawal secara ketat fasilitas milik Pertamina — sebuah langkah besar dalam upaya memperkuat keamanan instalasi energi vital. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap dinamika tuntutan keamanan nasional dan pentingnya menjaga stabilitas pasokan energi bagi jutaan masyarakat.

 

Penugasan tersebut telah mendapat restu dari pucuk pimpinan negara. Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Pertahanan, dalam pertemuan tertutup dengan Komisi I DPR RI menyampaikan bahwa pengamanan kilang minyak dan terminal Pertamina adalah bagian dari strategi pertahanan nasional. Menurutnya, tugas menjaga objek strategis tersebut termasuk dalam kategori OMSP (Operasi Militer Selain Perang) — yang diatur dalam revisi terbaru Undang-Undang TNI. Dengan demikian, keterlibatan TNI AD dalam menjaga kilang bukan cuma teknis semata, melainkan memiliki landasan hukum yang kuat.

 

Pengamanan ini juga tak sekadar simbolis. Petugas dari TNI AD akan bekerja sama dengan BAIS (Badan Intelijen Strategis) untuk memantau kemungkinan ancaman yang bisa mengganggu kilang maupun terminal minyak. Peran BAIS di sana diformulasikan untuk mendeteksi potensi risiko sedini mungkin: mulai dari sabotase hingga gangguan keamanan lain yang bisa mengancam kontinuitas operasi.

 

Bagi pihak Pertamina, langkah ini disambut sebagai respons positif terhadap pentingnya menjaga aset strategis milik negara. Sebagai perusahaan yang mengelola fasilitas vital — dari kilang hingga distribusi bahan bakar — mereka memandang kolaborasi pengamanan dengan TNI sebagai upaya perlindungan berlapis. Hal ini dipandang penting agar operasional kilang tetap stabil, sehingga suplai energi dan bahan bakar ke masyarakat bisa terjaga tanpa gangguan.

 

Pemerintah dan TNI pun menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berarti militer mengambil alih kendali operasional kilang — melainkan menjaga aspek keamanan dan stabilitas aset. Sjafrie menambahkan bahwa TNI telah membentuk batalyon-batalyon teritorial pembangunan (BTP) yang siap ditempatkan bila diperlukan. Tahun ini saja, sudah lebih dari 100 BTP dibentuk, dan pemerintah menargetkan penambahan sekitar 150 batalyon per tahun. Dengan formasi ini, TNI ingin menunjukkan komitmennya menjaga objek vital nasional, khususnya sektor energi.

Baca Juga:
Keramas Setiap Hari, Rambut Jadi Sehat atau Sebaliknya ?

 

Pandangan dari pemerintah terkait hal ini juga tegas. Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, menyatakan bahwa penugasan TNI untuk menjaga kilang minyak adalah hal penting, terutama dalam konteks pencegahan sabotase. Ia menegaskan bahwa semua institusi negara harus bersinergi dalam melindungi aset strategis, mengingat potensi ancaman terhadap fasilitas energi tidak bisa dianggap remeh. Menurut Bahlil, kolaborasi antara TNI, Kepolisian, dan instansi terkait lainnya merupakan bentuk tanggung jawab bersama menjaga kedaulatan energi Indonesia.

 

Di balik keputusan besar ini, pemerintah berharap sejumlah dampak positif bisa dirasakan — terutama kestabilan pasokan BBM (bahan bakar minyak) dan keamanan jangka panjang terhadap kilang maupun terminal. Dengan penjagaan ekstra, potensi gangguan operasional akibat ancaman keamanan bisa diminimalkan. Stabilitas pasokan energi ini penting bagi kehidupan harian warga, sektor industri, serta mobilitas nasional.

 

Bagi masyarakat, khususnya yang bergantung pada pasokan BBM dari fasilitas tersebut, kebijakan ini boleh membawa rasa aman. Namun tak bisa dipungkiri, muncul pula pertanyaan: bagaimana dengan keseimbangan antara militer dan sipil dalam pengamanan aset negara? Apakah kolaborasi ini mampu menjaga netralitas, atau ada risiko penyalahgunaan? Pemerintah menegaskan bahwa peran TNI di situ adalah menjaga keamanan fasilitas, bukan mengambil alih aktivitas sipil.

 

Keputusan pengamanan kilang oleh TNI ini — dengan pengerahan prajurit AD dan pemantauan BAIS — bisa dibaca sebagai upaya preventif menghadapi situasi global yang tak menentu. Di tengah ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi dunia, dan potensi ancaman yang bisa muncul sewaktu-waktu, Indonesia mengambil langkah proaktif. Kilang milik Pertamina bukan sekadar bangunan industri: ia bagian dari tulang punggung ketahanan energi dan kedaulatan nasional.

 

Baca Juga:
MK Gelar Sidang Uji Materi UU Kelautan, Libatkan TNI AL, Bakamla, dan Polri

Dengan demikian, hadirnya prajurit TNI AD mulai Desember 2025 di Cilacap bukan hanya soal menjaga fasilitas — melainkan bentuk komitmen kolektif negara untuk melindungi aset vital, menjaga stabilitas energi, dan menjamin kenyamanan hidup jutaan warga. Apakah langkah ini cukup menjawab tantangan keamanan, atau memunculkan tantangan baru dalam tata kelola sipil dan sipil-militer? Waktu akan membuktikan, namun satu hal pasti: kilang minyak di Cilacap kini berada dalam penjagaan ekstra — demi menjaga pasokan bagi bangsa.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita