Menu

Mode Gelap

Kuliner · 2 Des 2025 07:43 WIB

Toko Roti Legendaris di Jalan Braga: Menyusuri Keaslian Sumber Hidangan yang Berdiri Sejak 1929


 Toko Roti Legendaris di Jalan Braga: Menyusuri Keaslian Sumber Hidangan yang Berdiri Sejak 1929 Perbesar

PROLOGMEDIA – Sejenak bayangkan melangkah menyusuri Jalan Braga di pusat kota Bandung — sebuah jalan yang dulu menjadi saksi bisu gemerlapnya zaman kolonial Belanda. Di antara bangunan-bangunan bergaya lama, berdiri sebuah toko roti yang seakan membeku oleh waktu: Toko Roti Sumber Hidangan. Toko ikonik ini sudah melayani pembeli sejak tahun 1929, lebih dari sembilan dekade lalu, dan tetap mempertahankan atmosfer serta cita rasa klasiknya hingga hari ini.

 

Asal mulanya, Sumber Hidangan dikenal dengan nama Belanda — “Het Snoephuis”, yang dalam arti harfiah bisa diartikan sebagai “rumah manis.” Nama itu rupanya agak menggambarkan dengan tepat jiwa dari tempat ini: sebuah tempat di mana roti dan kue manis disajikan dengan penuh kesederhanaan dan kehangatan, jauh dari hingar-bingar tren kekinian.

 

Memasuki toko, Anda akan dibawa seolah ke masa lampau. Interiornya bernuansa vintage — kursi dan meja tua, lantai bermotif klasik, lampu-lampu kuno, hingga etalase kaca berisi roti dan kue yang sudah tersusun rapi. Gaya bangunannya tetap mempertahankan karakter era kolonial dengan arsitektur bergaya Art Deco, tanpa banyak perubahan selama puluhan tahun. Suasana di sana sama sekali berbeda dengan kafe modern: tidak ada sofa empuk, tidak ada musik kekinian — hanya keheningan sejarah, aroma adonan panggang, dan perjalanan waktu.

 

Toko dibagi menjadi dua area khas: di bagian depan, deretan etalase kaca yang penuh dengan roti dan kue, siap untuk dibawa pulang. Di bagian belakang — atau di ruang lainnya — terdapat meja dan kursi, di mana pengunjung bisa menikmati roti atau es krim sambil menikmati suasana. Konsep ini membuat Sumber Hidangan tidak sekedar toko roti, tapi juga semacam kafe jadul; tempat berkumpul, nostalgia, dan melepas lelah sambil menikmati sajian manis.

 

Keistimewaan lain Sumber Hidangan terletak pada menu — banyak di antaranya menampilkan nama-nama dalam Bahasa Belanda, warisan dari masa kolonial. Ada roti dan kue seperti Bookkepoot, Doublet, Krentenbrood, Ananastaart, Suiker Hagelslag, Likeur Bonbon, hingga Mocca Truffle. Nama-nama itu mungkin terasa asing, tetapi setiap gigitan membawa rasa autentik dan nostalgia bagi mereka yang menghargai tradisi.

 

Pengelola saat ini, termasuk penjaga toko bernama Yayan (52 tahun), menegaskan bahwa kunci keabadian Sumber Hidangan adalah kemampuannya untuk bertahan — mempertahankan rasa, suasana, dan cara kerja yang sudah menjadi “jati diri” tempat ini. Menurut Yayan, tanggung jawab menjaga nilai-nilai sejarah itu bukan hanya soal menjaga resep, melainkan merawat memori kolektif masyarakat Bandung.

Baca Juga:
AHY Resmikan Kapal Ro-Ro dan Optimalisasi KA Logistik di Cilegon: Logistik Makin Ngebut!

 

Toko ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 15.30 WIB. Namun ada kebiasaan unik khas masa kolonial: toko terkadang menerapkan jeda siang — seperti “siesta” — yang membuatnya tutup sejenak di tengah hari. Tradisi ini menambah aura nostalgia dan keaslian pengalaman saat berkunjung.

 

Bagi banyak pelanggan, loyalitas mereka pada Sumber Hidangan bukan hanya soal rasa — tapi juga soal keaslian. Seorang pelanggan muda asal Bandung pernah berkata bahwa kue di sana “memiliki cita rasa yang natural dan rasanya selalu jujur.” Baginya, roti dan kue di Sumber Hidangan tidak hanya memuaskan lidah, tetapi juga membangkitkan kenangan masa lalu.

 

Keistimewaan Sumber Hidangan tidak berhenti pada roti dan kue. Tersedia juga es krim dan minuman — pilihan sempurna bagi mereka yang ingin menikmati sajian manis dalam suasana nyaman. Roti dijual dengan harga bersahabat: mulai dari sekitar Rp 5.000 hingga Rp 14.000, sedangkan kue kering berkisar antara Rp 14.000 hingga Rp 91.000 per ons. Es krim jadul mereka dibanderol sekitar Rp 11.000 sampai Rp 30.000, dan minuman rata-rata sekitar Rp 9.000. Harga yang terjangkau ini membuat Sumber Hidangan tidak hanya menarik bagi turis nostalgia, tetapi juga oleh warga lokal dan pelajar yang ingin merasakan atmosfer klasik tanpa merogoh kocek terlalu dalam.

 

Di tengah pesatnya perkembangan kafe modern dan bakery bergaya kekinian di Bandung, keberadaan Sumber Hidangan terasa seperti jembatan waktu — antara masa lalu dan masa sekarang. Ia tidak hanya bertahan melewati zaman, tetapi juga menjaga identitas dan karakter yang tak bisa ditiru. Banyak toko roti lain mungkin mengganti konsep atau mengikuti tren, tetapi di Sumber Hidangan, rasa, suasana, dan tradisi tetap sakral.

 

Bagi siapa pun yang pernah melangkah masuk ke Sumber Hidangan, pengalaman itu lebih dari sekadar membeli roti. Ia adalah pengalaman meresapi sejarah, menghargai warisan, dan menikmati kehangatan sederhana di tengah kesibukan kota. Aroma roti panggang, deretan etalase kuno, kursi dan meja tua — semua itu membawa nostalgia tersendiri, membuat pengunjung merasa seolah berada di masa lampau. Bahkan bagi pendatang atau turis, momen itu seperti menyelami fragmen sejarah Bandung di setiap gigitan.

 

Baca Juga:
Cianjur Berduka: Banjir Longsor Landa 5 Kecamatan, Ulurkan Tangan!

Jadi, jika suatu hari kamu menyusuri Jalan Braga dan melewati gerbang klasik itu — berhentilah sejenak. Masuklah ke Sumber Hidangan. Nikmati sepotong roti, segelas minuman atau es krim, dan biarkan dirimu tenggelam dalam kehangatan masa lampau. Karena di balik aroma manis adonan dan kayu tua meja kursi, kamu mungkin menemukan bahwa kadang, kenikmatan paling hakiki datang dari hal-hal yang sederhana — dan abadi.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

10 Manfaat Telur Bebek Rebus untuk Kesehatan Jika Dikonsumsi Setiap Hari

8 Desember 2025 - 19:52 WIB

Ayam Goreng Bu Haji: 77 Tahun Mempertahankan Rasa Legendaris yang Tak Tertandingi

8 Desember 2025 - 19:37 WIB

12 Sarapan Indonesia Terbaik Versi Dunia: Dari Bubur Ayam Hingga Gado-Gado

8 Desember 2025 - 19:32 WIB

Panen Perdana Wisata Petik Melon di Desa Gaden, Klaten Diserbu Ribuan Pengunjung

8 Desember 2025 - 12:38 WIB

Mengolah Tunas Rotan Jadi Hidangan Tradisional: Lezat, Gurih, dan Bernilai Gizi

7 Desember 2025 - 21:15 WIB

Transformasi Singkong di Vietnam: Dari Tanaman Tradisional ke Rantai Nilai Berkelanjutan

7 Desember 2025 - 20:39 WIB

Trending di Kuliner