Menu

Mode Gelap

Berita · 16 Des 2025 18:19 WIB

Transformasi Kebun Teh Mati Suri Jadi Lahan Murbei Produktif di Sukabumi


 Transformasi Kebun Teh Mati Suri Jadi Lahan Murbei Produktif di Sukabumi Perbesar

PROLOGMEDIA – Di tengah kesejukan Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, sebuah perubahan signifikan tengah terjadi pada lanskap pertanian setempat. Lahan seluas tujuh hektare yang selama bertahun‑tahun dikenal sebagai kebun teh yang mati suri kini berubah wajah menjadi hamparan hijau yang penuh harapan. Kebun yang dulu tidak lagi produktif ini disulap oleh para petani setempat menjadi kebun murbei yang menjanjikan sekaligus sarana untuk memperbaiki keseimbangan lingkungan.

Transformasi lahan ini diprakarsai oleh Kelompok Tani Bukit Kaliandra, sebuah komunitas petani yang tak pernah berhenti untuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang mereka hadapi. Selama bertahun‑tahun, kebun teh di sini, yang awalnya merupakan bagian dari kawasan perkebunan rakyat di Sukabumi, mengalami penurunan produktivitas seiring waktu. Dengan berakhirnya masa hak guna usaha (HGU) yang dulu dikelola oleh perusahaan perkebunan, lahan itu sempat terlantar dan menjadi tidak produktif. Alih fungsi yang dilakukan oleh kelompok tani ini kemudian menjadi jawaban atas kegalauan panjang para petani akan masa depan lahan pertanian yang semakin sempit dan rentan terhadap erosi atau kerusakan lingkungan akibat curah hujan tinggi.

Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan ribu bibit murbei telah ditanam di tanah yang dulu penuh dengan barisan tanaman teh. Lebih dari 25 ribu pohon murbei menghijau di area seluas tujuh hektare tersebut. Tidak hanya murbei, petani juga menanam sekitar 2.500 pohon kopi serta ratusan pohon alpukat. Bibit‑bibit ini datang sebagai bagian dari bantuan yang difasilitasi oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), yang melihat potensi besar lahan tersebut jika dikelola secara berkelanjutan.

Menurut Lebaksiuh Sudarma, ketua Kelompok Tani Bukit Kaliandra, pemilihan murbei bukanlah keputusan yang dibuat secara kebetulan. Tanaman murbei dikenal memiliki akar yang kuat dan daya serap air yang baik, sehingga mampu menahan laju kerusakan tanah serta mengurangi risiko longsor. “Kalau murbei itu dari sisi cengkeraman akarnya luar biasa. Penghijauan juga cepat, jarak lima bulan sudah terasa. Ini penting untuk daerah penyangga,” ujar Sudarma penuh keyakinan ketika ditemui di lokasi kegiatan. Dengan akar yang kuat, murbei tidak hanya membantu menjaga struktur tanah, tetapi juga berperan sebagai penyangga bagi kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berada tidak jauh dari sana.

Penanaman murbei menjadi langkah strategis bukan hanya dari sisi ekologis, tetapi juga dari sisi ekonomi. Murbei merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi stabil, terutama karena daun murbei menjadi pakan utama ulat sutra. Permintaan daun murbei di tingkat lokal terbilang konsisten, sehingga petani tidak lagi bergantung pada komoditas yang fluktuatif harganya seperti sayuran. Dengan asumsi produksi daun murbei antara tiga hingga 3,5 ton per hektare dengan harga sekitar Rp1.000 per kilogram, para petani melihat peluang nyata untuk mendapatkan penghasilan yang relatif aman dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman hortikultura lainnya.

Sudarma menjelaskan bahwa fluktuasi harga di pasar komoditas pertanian sering kali membuat petani merugi ketika harga turun secara drastis. “Kalau sayuran bisa untung besar, tapi risikonya juga besar. Murbei ini lebih tenang, lebih pasti,” katanya. Strategi diversifikasi tanaman seperti ini membantu petani tidak hanya mengandalkan satu jenis komoditas pertanian, tetapi juga menggabungkan konservasi lingkungan dengan peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga:
SEMAJA: Restoran Indonesia Modern yang Wajib Dikunjungi di Menteng!

Transformasi lahan yang tidak produktif menjadi area ramah lingkungan ini juga dipicu oleh keprihatinan masyarakat terhadap meningkatnya bencana alam di sekitar wilayah Sukabumi. Beberapa waktu belakangan, daerah ini sering dilanda hujan deras yang memicu longsor dan banjir, terutama di wilayah Selabintana yang berada tidak jauh dari Desa Sukamaju. Fenomena ini makin memunculkan kesadaran akan pentingnya penghijauan dan pengelolaan lahan yang lebih bijak agar bisa meresapkan air dengan baik dan menahan laju erosi.

Para petani setempat menyadari bahwa mereka adalah penyangga terakhir sebelum kawasan hutan, sehingga peran mereka bukan hanya untuk menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menjaga agar lingkungan tetap lestari. Tanpa upaya konservasi yang kuat di tingkat masyarakat, risiko rusaknya ekosistem dan meningkatnya bencana bisa menghantui kehidupan mereka di masa depan. “Baru hujan sedikit saja dampaknya luar biasa. Kalau ini dibiarkan, ke depan bisa berbahaya,” ujar Sudarma dengan nada serius.

Beragam tantangan telah dan masih dihadapi, mulai dari cuaca ekstrem hingga keterbatasan akses pasar bagi hasil panen. Namun, semangat komunitas petani seperti Kelompok Tani Bukit Kaliandra menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat berinovasi untuk mengatasi berbagai kesulitan tersebut. Harapan mereka kini bukan sekadar mendapatkan hasil dari ladang — tetapi juga memastikan bahwa anak cucu mereka masih dapat menikmati alam yang sehat dan produktif.

Ketika musim penghujan datang dan rintik air mulai menetes di atas dedaunan murbei yang mulai rimbun, suasana di lahan yang dulu mati suri itu menjadi simbol kebangkitan baru. Tanaman murbei yang sedang tumbuh ini tidak hanya menyegarkan lanskap, tetapi juga menyegarkan semangat komunitas petani akan masa depan yang lebih baik. Ada optimisme baru yang tumbuh di antara barisan daun hijau itu, seolah menandakan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana namun bermakna.

Model pertanian yang menggabungkan konservasi lingkungan dan nilai ekonomi semacam ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain di Sukabumi dan daerah sekitarnya, khususnya wilayah penyangga kawasan konservasi alam lainnya. Sebuah pendekatan yang tidak hanya memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang baik bagi masyarakat maupun lingkungan.

Sudarma pun menegaskan bahwa mereka bukanlah aktivis lingkungan — mereka adalah petani yang belajar dari pengalaman lapangan dan wawasan akademis yang kemudian diterjemahkan ke dalam praktik nyata. “Ini bentuk ikhtiar supaya alam tetap seimbang dan anak cucu kita masih punya masa depan,” ujarnya, mewakili suara komunitas petani yang berharap perubahan ini dapat terus berlanjut dengan dukungan berbagai pihak.

Baca Juga:
Jangan Dibuang! Biji Pepaya Ternyata Punya Segudang Khasiat untuk Kesehatan

Transformasi kebun teh mati suri menjadi kebun murbei di Sukamaju merupakan contoh nyata bagaimana sektor pertanian bisa beradaptasi menghadapi tantangan zaman, memperlihatkan bahwa langkah‑langkah kecil namun tepat dapat membawa perubahan besar. Inilah kisah harapan dan inovasi yang lahir dari tanah, kerja keras petani, serta kecintaan terhadap bumi tempat mereka berpijak.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Polemik UMSK Jawa Barat Memanas, Zuli Zulkipli Singgung Transparansi Serikat Buruh

3 Januari 2026 - 19:10 WIB

Polri Pastikan Sekolah di Aceh Utara Siap Digunakan Pascabanjir

3 Januari 2026 - 19:00 WIB

Terungkap, Motif Utang Rp1,4 Juta Picu Pembunuhan Sadis di Jambe

3 Januari 2026 - 18:56 WIB

Kisruh Keuangan dan Dugaan Korupsi, Pemprov Banten Bersih-Bersih ABM

3 Januari 2026 - 18:48 WIB

Permukiman hingga Kawasan Industri Cilegon Dikepung Banjir

2 Januari 2026 - 23:08 WIB

Trending di Berita