PROLOGMEDIA – Di kolong jalan tol Becakayu, tepatnya di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pemandangan yang dahulu kelam dan kerap dipenuhi sampah atau dijadikan parkir liar, kini telah berubah total. Ruang yang sebelumnya terasa tak terpakai itu menyimpan kejutan — sebuah kebun sayur urban yang tumbuh subur berkat tangan-tangan pekerja PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum), pasukan oranye yang biasanya dikenal untuk tugas kebersihan kota.
Minggu demi minggu, para petugas PPSU Pondok Kelapa menyapu semak-semak, membuang sampah, dan meratakan tanah gersang di bawah tiang jembatan tol. Ruang bawah tol yang gelap dan sepi itu kini diubah menjadi lahan urban farming seluas kurang lebih 1.000 meter persegi. Area itu ditanami berbagai sayuran seperti bayam, sawi, kangkung, pakcoy, terong, hingga cabai. Dalam sekali panen, kebun ini bisa menghasilkan sekitar 20 kilogram sayuran segar — hasil yang kemudian dibagikan ke petugas PPSU serta warga sekitar.
Transformasi ini bukan cuma sekadar menanam tanaman penghias kota, tetapi bagian dari strategi ketahanan pangan perkotaan. Dengan mengolah area kosong di bawah tol menjadi lahan produktif, PPSU membantu memperkuat konsep urban farming — sebuah gerakan yang kini makin mendapat perhatian di Jakarta.
Salah satu sosok yang cukup menjadi simbol perubahan ini adalah Hasan, Ketua Urban Farming Pilar Jati sekaligus petugas PPSU Kelurahan Cipinang Melayu. Sejak awal 2021, Hasan dan rekan-rekannya mulai merambah lahan sepanjang 300 meter persegi di kolong Tol Becakayu. Mereka menanam sayuran sederhana seperti kangkung, bayam, sawi, kol, pare, sampai tanaman umbi dan rempah seperti ubi dan jahe.
Hasan awalnya tidak menargetkan keuntungan besar. Baginya, yang paling penting adalah membuat lingkungan menjadi lebih hijau dan indah. Dia mengakui bahwa bibit tanaman dibeli dari kantongnya sendiri, dan panen tidak dijual di pasar melainkan lebih banyak dibagikan kepada petugas PPSU maupun warga sekitar. “Kita kerja ada hasilnya, bukan semata-mata untuk cari untung,” ujarnya dalam wawancara.
Inisiatif semacam ini ternyata mampu menginspirasi warga. Di RW 013 Cipinang Melayu misalnya, sejak 2017 mereka mulai mengolah lahan kosong di bantaran Kalimalang (yang kemudian menjadi kolong tol) menjadi lahan penghijauan. Awalnya mereka hanya menanam tanaman hias agar tidak tampak kumuh, tetapi lama-lama berkembang menjadi kebun sayur yang produktif.
Menurut Umam, Ketua RW 013, siklus tanam di kebun Cipinang Melayu sengaja dibuat terus berputar agar panen bisa berlangsung secara berkelanjutan. Ia menyebut bahwa setiap bulan bisa ada panen tiga kali, karena tanaman ditanam secara bergantian — begitu satu selesai panen, sudah ada benih baru yang tumbuh. “Fokus kami bukan ke kuantitas besar, tetapi ke kualitas. Biar siklus urban farming bisa terus berputar,” ungkap Umam.
Baca Juga:
Masyarakat Baduy Segera Dapat Makanan Bergizi Gratis? Ini Rencana Pemerintah!
Hasil panen urban farming di kolong Becakayu pun sudah cukup beragam. Selain sayuran seperti bayam, sawi, kangkung dan pakcoy, warga Cipinang Melayu juga bisa memetik brokoli, kembang kol, cabai, kacang tanah, jagung, bahkan pare. Pada sisi lain, tanaman buah seperti pisang, melon, pepaya, dan jeruk turut tumbuh di sana. Ada pula tanaman obat seperti kemangi, serai, lidah buaya, dan jahe. Semua ini menunjukkan bahwa ruang yang dulu terabaikan kini benar-benar menjadi sumber manfaat.
Tak hanya sekadar bercocok tanam, kolong tol ini pun semakin dipercantik dengan estetika. Pilar-pilar penyangga jalan tol didekorasi mural berwarna-warni, yang dibuat oleh petugas PPSU. Mural-mural tersebut menampilkan motif abstrak, ondel-ondel, rumah adat Betawi, dan elemen budaya lainnya — menciptakan nuansa artistik sekaligus menghadirkan rasa ruang publik yang menyenangkan.
Usaha penghijauan di kolong Tol Becakayu ini juga mendapat dukungan dari kebijakan formal. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan penataan kawasan hijau sepanjang 5 kilometer di bawah tol Becakayu, dan saat ini telah mencapai sekitar 2,7 kilometer dengan tanaman hias dan sistem pertanian perkotaan. Program ini dianggap tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah kota padat penduduk.
Melalui urban farming ini, tidak hanya ruang kota yang menjadi lebih hijau — tetapi juga muncul pemberdayaan sosial. Petugas PPSU yang selama ini dikenal sebagai pekerja kebersihan, kini punya peran tambahan sebagai petani kota. Mereka merawat tanaman, menyiram, memanen, lalu membagi hasilnya. Aktivitas ini juga menumbuhkan rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap ruang publik yang sebelumnya sepi dan kotor.
Lebih jauh, gerakan ini mencerminkan kolaborasi antara pemerintah kota, petugas lokal, dan masyarakat. Lurah, PPSU, dan warga saling bahu-membahu mengelola lahan yang dulu luput dari perhatian. Perubahan ini juga sejalan dengan harapan Gubernur DKI Jakarta untuk memanfaatkan setiap sudut kota kosong sebagai ruang terbuka hijau yang produktif.
Hasil tidak hanya dirasakan dari sisi estetika atau ketahanan pangan — urban farming di kolong tol bahkan berpotensi menyumbang ekonomi kecil. Walau sebagian hasil panen dibagikan, sebagian lain bisa disalurkan untuk operasional selanjutnya: pembelian bibit, pupuk, dan perawatan. Dalam beberapa program panen serentak di Jakarta Timur misalnya, komoditas yang dihasilkan dari sejumlah titik urban farming disalurkan ke warga dan kelompok tani, bahkan sebagian dijual untuk menopang biaya pertumbuhan tanaman berikutnya.
Semangat ini juga diperkuat dengan kampanye tanam pohon. Pemerintah Kota Jakarta Timur, bersama mitra seperti BPJS Ketenagakerjaan, menginisiasi penanaman pohon di kolong tol Becakayu sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas udara dan memperluas ruang hijau di kota. Dengan demikian, lahan kolong tol bukan hanya menjadi kebun pangan, tetapi juga paru-paru kota.
Baca Juga:
Usia Bukan Halangan! Panduan Olahraga Aman dan Efektif Sesuai Usia Anda
Perjalanan pengubahan kolong tol Becakayu menjadi kebun sayur urban – dari ruang kumuh menjadi taman produktif — adalah kisah optimisme dan kreativitas. Apa yang dimulai dari inisiatif beberapa petugas PPSU kini telah tumbuh menjadi proyek kota yang punya makna ekologis, sosial, dan kultural. Ruang gelap di bawah jalan tol kini menjadi titik harapan: tempat tumbuhnya sayur segar, semangat gotong-royong, dan ide masa depan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.









