Menu

Mode Gelap

Berita · 17 Des 2025 20:25 WIB

Waspada Catphishing, Modus Penipuan Digital Baru yang Kian Canggih dan Memakan Banyak Korban


 Waspada Catphishing, Modus Penipuan Digital Baru yang Kian Canggih dan Memakan Banyak Korban Perbesar

PROLOGMEDIA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang makin dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, muncul pula bentuk-bentuk ancaman baru yang makin rumit dan berbahaya. Salah satu yang kini sedang menjadi sorotan adalah modus penipuan baru bernama catphishing. Modus ini bukan sekadar trik usang yang sering kita dengar, melainkan perpaduan dari dua teknik penipuan yang sudah dikenal luas: catfishing dan phishing. Gabungan modus ini membuatnya lebih canggih dan sulit dikenali oleh masyarakat umum, sehingga korban bisa datang dari berbagai lapisan usia dan latar belakang, dari pengguna media sosial biasa hingga pelaku bisnis profesional.

 

Pada dasarnya, catphishing adalah bentuk penipuan online yang memanfaatkan identitas palsu untuk berinteraksi dan memanipulasi target. Dalam praktiknya, pelaku akan membuat profil yang tampak meyakinkan di berbagai platform digital—mulai dari media sosial populer hingga situs profesional seperti jaringan karier—dengan menggunakan foto, nama, dan informasi yang sebenarnya bukan miliknya. Kadang foto tersebut diambil langsung dari akun pengguna lain di internet atau bahkan dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI generatif), sehingga terlihat sangat realistis. Profil-profil ini kemudian digunakan untuk mendekati target dengan tujuan tertentu, baik dalam konteks pribadi maupun profesional.

 

Keunikan dan bahayanya catphishing adalah cara kerjanya yang sistematis: selain mencuri kepercayaan korban dengan identitas palsu seperti catfishing, pelaku juga menyisipkan unsur phishing, yaitu upaya mencuri data pribadi atau kredensial penting korban melalui tautan atau perintah tertentu. Hal ini berbeda dari sekadar penipuan asmara yang hanya menargetkan perasaan. Melalui catphishing, pelaku bisa mendapatkan akses ke informasi sensitif seperti password, kode OTP, nomor rekening, atau bahkan rincian finansial yang lebih dalam—yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk menguras rekening atau digunakan dalam kejahatan lain.

 

Kejahatan ini telah menjalar ke banyak kasus di mana korbannya tidak hanya orang perorangan. Ada kondisi di mana pelaku catphishing menyusup ke lingkungan profesional korban—misalnya dengan berpura-pura menjadi perekrut dari perusahaan ternama atau rekan kerja penting. Dalam skenario seperti ini, bukan hanya data pribadi yang dipertaruhkan, tetapi juga informasi sensitif perusahaan, dokumen internal, dan akses jaringan kerja. Dampaknya bisa sangat luas, karena sekali akses diberikan oleh korban, peluang kerusakan bisa meluas hingga ke jaringan kolega, klien, atau mitra usaha korban itu sendiri.

 

Salah satu faktor yang diperparah oleh teknologi modern adalah penggunaan AI generatif dalam membuat identitas palsu yang tampak nyata. Foto wajah, video, atau bahkan percakapan yang dihasilkan oleh AI ini bisa sangat meyakinkan, sehingga banyak orang yang lengah jika hanya melihat secara sepintas. Informasi palsu seperti ini dapat membentuk hubungan emosional seolah-olah nyata antara pelaku dan korban, sehingga korban secara perlahan menjadi percaya dan lebih mudah dipengaruhi. Tidak jarang, pelaku juga membuat alasan emosional atau cerita dramatis yang membuat korban merasa iba atau ingin membantu, yang kemudian membuka peluang manipulasi lanjutan.

 

Ada beberapa ciri khas yang sering muncul pada modus catphishing. Pertama, profil yang dibuat sering terlihat terlalu sempurna atau sangat profesional tanpa ada rekam jejak yang jelas. Misalnya akun di media sosial dengan foto profil menarik, riwayat pekerjaan lengkap, dan banyak koneksi, tetapi ketika dicari di platform lain, jejak digitalnya tidak konsisten. Hal-hal semacam ini seharusnya menjadi sinyal peringatan awal bagi siapa pun yang berinteraksi.

 

Kedua, pelaku sering menghindari verifikasi sederhana seperti panggilan video langsung. Alasan yang diberikan bisa bervariasi, dari alasan teknis kamera tidak berfungsi hingga alasan pribadi yang terdengar masuk akal. Namun, jika permintaan panggilan video ditunda berulang kali dan ada keengganan yang mencurigakan, ini bisa menjadi tanda bahwa identitas sebenarnya tidaklah asli.

Baca Juga:
Jejak Kejayaan Nusantara: Menyusuri Ratusan Pusaka di Museum Sri Baduga Bandung!

 

Ketiga, sering ditemui permintaan informasi sensitif atau unduhan tautan dari pihak yang baru dikenal. Begitu korban merasa nyaman, pelaku akan mencari cara untuk meminta korban membuka tautan tertentu atau mengisi formulir yang tampak resmi, tetapi sebenarnya adalah situs phishing yang dirancang untuk mencuri data login atau personal korban. Ini bisa terjadi melalui pesan chat, email, atau media sosial.

 

Karena kompleksitas dan kecanggihan teknik ini, sangat penting bagi setiap pengguna internet untuk mengetahui cara menghindari catphishing agar tidak menjadi korban. Salah satu langkah paling dasar adalah selalu memverifikasi identitas orang yang menghubungi Anda secara online. Jika seseorang hanya dikenal melalui internet, ajaklah mereka melakukan panggilan video atau bertemu secara langsung di tempat aman bila memungkinkan. Penolakan terus-menerus terhadap verifikasi ini bisa menjadi red flag yang serius.

 

Selain itu, jangan mudah memberikan informasi pribadi apa pun, seperti nomor rekening, password, kode OTP, alamat rumah, atau rincian identitas lainnya kepada individu yang baru dikenal secara daring. Menjaga data pribadi tetap aman adalah kunci utama dalam melindungi diri dari segala bentuk penipuan digital.

 

Langkah lain yang juga sangat efektif adalah menggunakan alat bantuan seperti pencarian gambar terbalik (reverse image search) untuk mengecek keaslian foto profil yang digunakan oleh orang asing yang menghubungi Anda. Jika foto tersebut muncul di banyak tempat di internet atau digunakan oleh beberapa akun yang berbeda, kemungkinan besar itu adalah foto palsu atau identitas yang direkayasa.

 

Selain itu, masyarakat juga digalakkan untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap jenis-jenis penipuan online. Semakin banyak orang tahu bagaimana modus yang seperti ini bekerja, semakin besar kesempatan untuk mengenali tanda-tanda penipuan sejak dini. Edukasi tentang keamanan digital sebaiknya tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dijalankan oleh sekolah, perusahaan, dan organisasi masyarakat secara luas.

 

Terakhir, meskipun mayoritas kasus catphishing terjadi dalam konteks hubungan pribadi atau percintaan, perlu diingat bahwa ancaman ini bisa datang dalam bentuk lain seperti tawaran kerja palsu atau ajakan kerja sama bisnis yang tampak sah. Dengan demikian, waspada bukan hanya soal isi pesan, tetapi juga konteks dan platform komunikasi yang digunakan.

 

Baca Juga:
Lansia Antre Kartu Gratis di CFD, Hemat Ongkos Transportasi Jakarta

Keamanan di dunia digital adalah tanggung jawab bersama. Seiring teknologi terus berkembang, begitu pula kreativitas pelaku kejahatan di dunia maya. Masyarakat perlu terus memperbarui pengetahuan mereka, menggunakan teknologi dengan bijak, dan tidak tergiur dengan tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Dengan disiplin dalam menjalankan praktik keamanan digital dan skeptis terhadap komunikasi anonim, peluang untuk terjebak dalam catphishing atau penipuan serupa bisa diminimalkan.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita