PROLOGMEDIA – Naik pesawat terbang bagi banyak orang bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga pengalaman di dalam kabin yang sering kali memengaruhi tubuh, terutama sistem pencernaan dan kenyamanan secara keseluruhan. Di balik pemandangan awan dan layanan pramugari yang ramah, ada hal-hal kecil namun penting yang perlu diperhatikan oleh penumpang — salah satunya adalah pilihan makanan selama perjalanan udara.
Saat berada di ketinggian 30.000 kaki, kondisi fisik manusia berubah. Tekanan udara yang lebih rendah, kelembapan yang sangat kering, dan mobilitas yang terbatas membuat perut dan sistem pencernaan bekerja lebih keras dibanding di darat. Karena itu, pola makan yang biasa kita lakukan sehari-hari belum tentu cocok untuk dikonsumsi saat terbang. Pilihan makanan yang salah tidak hanya bisa menyebabkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga membuat suasana dalam kabin menjadi kurang menyenangkan bagi diri sendiri dan penumpang lain.
Masalah pencernaan di ketinggian menjadi kekhawatiran utama. Saat udara di kabin lebih tipis dan tekanan berubah, gas di dalam perut lebih mudah mengembang. Ini bisa memicu kembung atau perut terasa tidak nyaman. Pemilihan makanan yang tinggi garam, berlemak, atau menghasilkan gas menjadi faktor yang memperburuk pengalaman terbang, terutama pada penerbangan jarak jauh. Karena itu, sangat penting bagi penumpang untuk memahami makanan apa saja yang sebaiknya dihindari selama penerbangan — bukan hanya demi kesehatan, tetapi juga kenyamanan bersama.
Salah satu kategori makanan yang sering direkomendasikan untuk dihindari adalah makanan tinggi garam. Makanan yang banyak mengandung garam, seperti keripik berlebihan atau makanan cepat saji penuh bumbu, bisa memperburuk kondisi dehidrasi yang sudah terjadi akibat udara kabin yang sangat kering. Garam juga menyebabkan tubuh menahan lebih banyak air, yang membuat Anda merasa lebih haus dan tidak nyaman setelah beberapa jam terbang.
Selain itu, makanan yang paling sering menyebabkan aroma tidak sedap juga sebaiknya ditinggalkan hingga Anda tiba di tujuan. Beberapa jenis makanan seperti olahan ikan tertentu atau makanan berbasis telur — misalnya sandwich tuna atau salad telur — cenderung memiliki bau yang kuat ketika dipanaskan atau dikonsumsi di ruang tertutup. Bau seperti ini bisa memengaruhi penumpang lain, khususnya dalam kabin sempit di mana sirkulasi udara terbatas.
Makanan gorengan dan berlemak juga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi saat di udara. Makanan seperti ayam goreng, kentang goreng, atau makanan berbalut tepung pada awalnya terdengar menggugah selera, tetapi saat di udara akan terasa lebih berat dan susah dicerna. Lemak dan minyak yang tinggi tidak hanya memperlambat proses pencernaan, tetapi juga dapat menyebabkan rasa mual atau kembung. Sistem pencernaan yang lambat memaksa tubuh bekerja lebih keras, padahal selama penerbangan sebagian besar penumpang duduk dalam waktu lama tanpa banyak bergerak.
Tidak hanya itu, beberapa jenis sayuran tertentu yang kaya serat dan gas, misalnya brokoli, kol, dan tanaman cruciferous lainnya, dapat memperparah perasaan kembung. Makanan yang menghasilkan gas dalam perut bisa membuat Anda merasa tidak nyaman, bahkan bisa menyebabkan perut terasa tegang atau nyeri. Selain itu, ketika duduk dekat dengan orang lain, gas berlebih dapat menimbulkan situasi yang canggung atau tidak menyenangkan.
Baca Juga:
Tepung Tapioka dan Tepung Kanji, Serupa tapi Tak Selalu Sama dalam Dunia Kuliner
Lebih jauh lagi, beberapa makanan yang mengandung banyak krim atau produk susu juga tidak cocok dikonsumsi di dalam pesawat. Pasta dengan saus krim, kentang tumbuk yang berat, atau makanan kaya produk susu lainnya dapat memperlambat kerja usus dan memicu gas, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap laktosa. Hal ini diperburuk oleh tekanan kabin yang memengaruhi kerja enzim pencernaan.
Sebagai tambahan, makanan beraroma tajam seperti hidangan yang mengandung bawang dan bawang putih juga bisa menjadi masalah. Meskipun pada tingkat permukaan aroma tersebut mungkin tidak terlalu mengganggu, dalam ruang tertutup seperti kabin pesawat bahkan aroma ringan dapat menyebar dengan cepat dan bertahan lama. Ini tentu saja dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi penumpang di sebelah atau sekitar Anda.
Pilihan minuman pun tidak luput dari perhatian. Minuman berkafein seperti kopi dan teh, serta minuman beralkohol, dapat memperburuk efek dehidrasi yang sudah disebabkan oleh rendahnya kelembapan di dalam kabin. Kafein memiliki sifat diuretik — yang berarti mempercepat keluarnya cairan dari tubuh — sehingga Anda akan merasa lebih cepat haus dan kemungkinan mengalami dehidrasi bertambah. Demikian juga dengan alkohol, yang tidak hanya bersifat diuretik tetapi juga bisa memengaruhi koordinasi dan kualitas tidur Anda selama penerbangan.
Memahami hal-hal ini bukan hanya soal mengetahui apa yang tidak boleh dimakan. Ini juga berkaitan dengan etika dan kenyamanan bersama selama penerbangan. Di dalam kabin yang penuh sesak, pilihan makanan yang membuat rasa tidak nyaman, bau tak sedap, atau bahkan membuat orang lain merasa tidak enak bisa menjadi boomerang sosial. Kebiasaan membawa makanan yang lezat namun sangat beraroma kuat ke dalam kabin bisa membuat penumpang lain merasa terganggu, terutama pada penerbangan panjang yang memakan waktu berjam-jam. Oleh sebab itu, bijaklah dalam memilih makanan yang dikonsumsi di pesawat.
Soal keseimbangan nutrisi, pakar kesehatan menyarankan untuk tetap mengonsumsi makanan yang lebih ringan, mudah dicerna, dan rendah garam saat terbang. Misalnya, buah-buahan segar yang mudah dicerna seperti pisang atau jeruk, protein rendah lemak seperti daging ayam tanpa kulit, atau makanan kaya serat yang tidak menyebabkan gas berlebihan bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Mengunyah makanan yang mudah dicerna membantu sistem pencernaan tetap stabil dan menjaga tubuh tetap nyaman selama perjalanan.
Di samping itu, minum air putih dalam jumlah cukup selama penerbangan sangat dianjurkan. Air membantu tubuh tetap terhidrasi dalam kondisi kabin yang kering. Hindari minuman yang menyebabkan dehidrasi atau memperburuk kondisi pencernaan dalam jumlah besar, terutama jika Anda tahu penerbangan akan berlangsung lama.
Baca Juga:
Misteri Ledakan di SMAN 72: Siswa Jadi Korban, Polisi Buru Pelaku
Secara keseluruhan, memahami apa yang sebaiknya dihindari dan apa yang lebih baik dikonsumsi saat naik pesawat adalah langkah penting untuk menjamin kenyamanan, kesehatan, dan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan. Banyak penumpang mungkin mengabaikan hal sederhana ini, tetapi pilihan makanan yang tepat dapat membuat perbedaan besar dalam cara tubuh Anda bereaksi terhadap kondisi unik di ketinggian. Mengutamakan makanan yang ringan, mudah dicerna, dan tidak beraroma tajam tidak hanya bermanfaat bagi Anda, namun juga menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan kabin dan kenyamanan penumpang lain.









