Menu

Mode Gelap

Berita · 6 Des 2025 17:56 WIB

Zona Megathrust Indonesia Bertambah Jadi 14, Risiko Gempa Meningkat


 Zona Megathrust Indonesia Bertambah Jadi 14, Risiko Gempa Meningkat Perbesar

PROLOGMEDIA – Peta terbaru sebaran zona gempa di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah titik sumber megathrust kini bertambah menjadi 14 — sebuah penanda serius bahwa potensi bahaya gempa besar dan tsunami semakin mengemuka di banyak wilayah. Pembaruan ini terangkum dalam dokumen Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, memicu sorotan dari para ahli terhadap meningkatnya risiko seismik di Nusantara.

 

Perubahan tersebut bukan sekadar angka — ada perubahan kontur peta yang menunjukkan “kontur lebih rapat” dibanding peta sebelumnya, yang menurut para pakar menandakan bahwa intensitas bahaya gempa di sejumlah daerah telah meningkat. Artinya, wilayah yang dulunya dianggap relatif aman, kini perlu diperhitungkan kembali dari sisi potensi bencana.

 

Secara teknis, istilah “zona megathrust” merujuk pada pertemuan lempeng tektonik — wilayah di mana satu lempeng menyusup di bawah lempeng lain, kemudian menumpuk energi dalam jangka waktu lama. Energi ini bisa lepas tiba-tiba sebagai gempa besar — bahkan megathrust — yang pada banyak kasus juga berisiko memicu tsunami.

 

Sebelumnya, pada pengumuman 2025, BMKG mencatat 13 zona megathrust di seluruh Nusantara — dari Aceh hingga Papua, dari Sumatra sampai Sulawesi dan Nusa Tenggara, termasuk zona di sekitar Jawa. Namun, dengan penambahan satu titik baru, total kini menjadi 14. Tambahan ini memperluas area yang harus diwaspadai — bukan hanya tentang gempa di masa depan, tetapi upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus diperkuat, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

 

Beberapa zona megathrust tercatat memiliki potensi magnitudo yang sangat besar — hingga 9,2 pada zona Megathrust Aceh-Andaman. Sementara itu, zona-zona lain, termasuk segmen di sekitar Jawa, Sulawesi, dan timur Indonesia juga termasuk dalam daftar, dengan potensi magnitudo gempa yang cukup besar (umumnya antara 8,2 hingga 8,9).

 

Baca Juga:
SMA Trensains Sragen: Raja Medali Sains Nasional 2025 dengan Visi Saintis Qurai Abad 21

Kenapa penambahan titik ini penting? Menurut para ahli, perubahan peta dan penambahan zona menunjukkan bahwa data geologi dan survei gempa terkini mengungkap lebih banyak sesar aktif dan area subduksi yang sebelumnya belum dipetakan secara definitif. Hal ini berarti banyak wilayah — termasuk yang selama ini mungkin dianggap relatif aman — memiliki risiko tersembunyi yang perlu ditinjau kembali, terutama dalam perencanaan bangunan, infrastuktur dan mitigasi bencana.

 

Ahli seismologi di BMKG, dalam berbagai kesempatan, mengingatkan bahwa istilah “zona megathrust” dan peringatan bahaya gempa bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Melainkan sebagai alat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat — agar pembangunan, tata ruang, dan kebijakan mitigasi bencana bisa dilakukan berdasarkan data kuantitatif dan ilmiah.

 

Khususnya di wilayah yang sudah lama tidak melepaskan energi gempa besar — sebuah kondisi yang dikenal sebagai “seismic gap”. Contoh: segmen di Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut tercatat belum aktif dalam waktu sangat lama — sejak abad ke-18 atau 17-an. Artinya potensi terjadinya gempa besar masih sangat nyata, dan bisa melepaskan energi besar jika pemicu tektonik sampai mencapai ambang.

 

Meski demikian, penting dicatat bahwa — sampai saat ini — gempa besar akibat segmentasi megathrust di banyak zona tersebut belum terjadi. Hal ini tidak mengurangi bahaya, namun membuat prediksi waktu, lokasi, ataupun kekuatan gempa tetap sangat sulit. Teknologi dan data saat ini belum memungkinkan untuk memprediksi gempa dengan akurat.

 

Karena itulah, rekomendasi dari para ahli dan BMKG adalah agar masyarakat dan pemerintah tetap mempraktikkan mitigasi bencana: memperkuat struktur bangunan sesuai standar tahan gempa, memperhatikan zona rawan dalam rencana pembangunan, serta meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan warga — terutama di wilayah pesisir atau dekat zona subduksi.

 

Baca Juga:
Pelajar Cilegon Ukir Prestasi! Lolos ke Ajang Karate Internasional Amsterdam

Penambahan zona megathrust dari 13 menjadi 14 menjadi alarm: Indonesia bukan hanya rawan gempa biasa, tapi terus-menerus menyimpan potensi gempa besar yang bisa berubah menjadi bencana dahsyat jika tidak diantisipasi secara matang. Perubahan peta ini harus menjadi momentum bagi kita — warga, pemerintah, dan pembuat kebijakan — untuk memperkuat mitigasi, edukasi, dan kesiapsiagaan.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita