JAKARTA – Kabar buruk menghampiri nilai tukar Rupiah! Mata uang Garuda kembali mencatatkan rekor terlemah terhadap mata uang tetangga, Ringgit Malaysia (MYR). Pada perdagangan hari ini, Selasa (11/11/2025), Rupiah terpantau mengalami pelemahan hingga menembus level Rp 4.011 per Ringgit. Level ini merupakan titik terendah Rupiah terhadap Ringgit, setidaknya sejak tahun 2007.
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa Rupiah sudah melemah 11,67% terhadap Ringgit Malaysia sejak awal tahun 2025. Pada awal tahun, kurs Rupiah terhadap Ringgit masih berada di kisaran Rp 3.591. Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan dari faktor eksternal dan perbedaan fundamental ekonomi semakin mendorong pelemahan Rupiah yang lebih dalam.
Pelemahan Rupiah ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Pasalnya, nilai tukar Rupiah memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek perekonomian, mulai dari impor dan ekspor hingga inflasi dan investasi.
Ringgit Perkasa: Didukung Fundamental Ekonomi yang Solid dan Optimisme Pertumbuhan!
Di sisi lain, penguatan Ringgit Malaysia menjadi salah satu faktor eksternal yang turut menekan posisi Rupiah. Ringgit tercatat berada di dekat level tertingginya dalam satu tahun terakhir terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), didorong oleh ekspektasi bahwa Bank Negara Malaysia (BNM) akan mempertahankan suku bunga kebijakannya serta meningkatnya optimisme atas prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Jiran.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang stabil, masuknya arus dana asing ke surat utang pemerintah, serta fundamental makro yang solid membuat Ringgit memperoleh angin segar.
“Ringgit akan ditopang oleh fundamental makro yang tangguh, pengelolaan fiskal yang hati-hati, dan penyempitan selisih suku bunga dengan AS,” ujar Lloyd Chan, Strategis MUFG Bank Ltd, dikutip dari Bloomberg.
Ia memperkirakan Ringgit dapat menguat hingga MYR 4,15 per Dolar AS hingga akhir tahun.
Sepanjang tahun 2025, Ringgit menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, menguat sekitar 6,4% terhadap Dolar AS dan berpotensi mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 2017. Penguatan ini sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Malaysia yang kembali membaik setelah sempat tertekan tahun lalu.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah: Dari Suku Bunga Hingga Ketidakpastian Global!
Lantas, apa saja faktor-faktor yang menyebabkan Rupiah terus melemah terhadap Ringgit Malaysia? Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Perbedaan Suku Bunga: Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) saat ini lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga acuan Bank Negara Malaysia (BNM). Hal ini membuat investor lebih tertarik untuk memegang Ringgit daripada Rupiah.
2. Fundamental Ekonomi yang Berbeda: Fundamental ekonomi Malaysia saat ini lebih kuat dibandingkan dengan Indonesia. Malaysia memiliki surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang lebih besar.
3. Ketidakpastian Global: Ketidakpastian ekonomi global, seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China, juga turut mempengaruhi nilai tukar Rupiah. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS, yang kemudian menekan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Baca Juga:
Jelang Natal dan Tahun Baru 2026, Disperindag Tangerang Cek Akurasi Alat Ukur SPBU
4. Sentimen Pasar: Sentimen pasar juga memainkan peran penting dalam pergerakan nilai tukar Rupiah. Jika pasar memiliki persepsi negatif terhadap prospek ekonomi Indonesia, maka Rupiah akan cenderung melemah.
Dampak Pelemahan Rupiah: Harga Barang Impor Naik, Beban Utang Membengkak!
Pelemahan Rupiah memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Beberapa dampak tersebut antara lain:
1. Harga Barang Impor Naik: Pelemahan Rupiah menyebabkan harga barang-barang impor menjadi lebih mahal. Hal ini dapat meningkatkan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.
2. Beban Utang Membengkak: Pemerintah dan perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing akan mengalami peningkatan beban utang karena nilai Rupiah yang semakin rendah.
3. Sektor Ekspor Diuntungkan (Namun Tidak Signifikan): Secara teoritis, pelemahan Rupiah dapat menguntungkan sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli asing. Namun, dalam praktiknya, dampak ini tidak signifikan karena banyak eksportir yang juga mengimpor bahan baku.
4. Potensi Terganggunya Stabilitas Keuangan: Pelemahan Rupiah yang terlalu dalam dan cepat dapat mengganggu stabilitas keuangan negara. Hal ini dapat memicu capital outflow (arus modal keluar) dan meningkatkan risiko krisis keuangan.
Apa yang Harus Dilakukan? Intervensi BI, Perkuat Fundamental Ekonomi, dan Tingkatkan Daya Saing!
Untuk mengatasi pelemahan Rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah yang tepat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Intervensi BI: Bank Indonesia dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Intervensi ini dapat dilakukan dengan membeli Rupiah menggunakan cadangan devisa.
2. Perkuat Fundamental Ekonomi: Pemerintah perlu terus berupaya memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.
3. Tingkatkan Daya Saing: Pemerintah perlu meningkatkan daya saing produk Indonesia agar dapat bersaing dengan produk-produk dari negara lain di pasar global. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi logistik.
4. Jaga Sentimen Pasar: Pemerintah dan BI perlu menjaga komunikasi yang baik dengan pasar untuk menjaga sentimen positif terhadap Rupiah. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang transparan dan akurat tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Baca Juga:
7 Manfaat Menakjubkan Daun Pandan untuk Kesehatan Tubuh
Pelemahan Rupiah merupakan tantangan yang serius bagi perekonomian Indonesia. Namun, dengan langkah-langkah yang tepat, tantangan ini dapat diatasi dan Rupiah dapat kembali menguat. Kuncinya adalah sinergi an









